Penyakit Hirschsprung pada Bayi dan Anak: Diagnosis Dini, Tata Laksana, Komplikasi, dan Luaran Jangka Panjang Berdasarkan Evidence-Based Medicine
Penyakit Hirschsprung (Hirschsprung disease, HD) merupakan kelainan kongenital saluran cerna yang disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion pada pleksus submukosa dan mienterikus sehingga terjadi gangguan motilitas usus distal. Insidensi penyakit ini sekitar 1:5.000 kelahiran hidup dengan predominansi laki-laki. Manifestasi klinis bergantung pada panjang segmen aganglionosis, mulai dari keterlambatan pengeluaran mekonium, konstipasi kronis, distensi abdomen, muntah bilier, hingga enterokolitis yang mengancam jiwa. Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, foto polos abdomen, enema kontras, manometri anorektal, dan biopsi rektum sebagai baku emas. Tata laksana definitif adalah operasi pull-through setelah kondisi pasien stabil. Meskipun luaran jangka panjang umumnya baik, sebagian pasien masih mengalami konstipasi persisten, inkontinensia feses, enterokolitis berulang, maupun gangguan kualitas hidup. Artikel ini meninjau epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosis, tata laksana, komplikasi, dan prognosis penyakit Hirschsprung berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Penyakit Hirschsprung merupakan penyebab tersering obstruksi usus bagian bawah pada neonatus. Kelainan ini pertama kali dijelaskan oleh Harald Hirschsprung pada tahun 1888. Penyakit terjadi akibat kegagalan migrasi sel krista neural selama perkembangan embrio sehingga sebagian usus tidak memiliki pleksus saraf enterik. Segmen usus yang mengalami aganglionosis berada dalam keadaan spasme permanen sehingga isi usus tidak dapat melewatinya secara normal. Akibatnya terjadi dilatasi usus di bagian proksimal yang dikenal sebagai megakolon kongenital.
Diagnosis dini sangat penting karena keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko enterokolitis, perforasi usus, sepsis, malnutrisi, dan gangguan pertumbuhan. Perkembangan teknik operasi minimal invasif serta perawatan multidisiplin telah meningkatkan angka keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.
Embriologi dan Patogenesis
Migrasi sel krista neural berlangsung antara minggu kelima hingga minggu kedua belas kehamilan. Sel tersebut bermigrasi dari kranial menuju kaudal untuk membentuk sistem saraf enterik.
Kegagalan migrasi menyebabkan tidak terbentuknya sel ganglion sehingga segmen usus kehilangan kemampuan relaksasi normal.
Tabel 1. Patogenesis Penyakit Hirschsprung
| Tahapan | Perubahan |
|---|---|
| Gangguan migrasi krista neural | Tidak terbentuk pleksus Meissner dan Auerbach |
| Aganglionosis | Usus distal mengalami kontraksi menetap |
| Hambatan aliran feses | Dilatasi kolon proksimal |
| Peningkatan tekanan intralumen | Megakolon kongenital |
| Stasis isi usus | Risiko enterokolitis meningkat |
Epidemiologi
Tabel 2. Epidemiologi Hirschsprung
| Karakteristik | Data |
|---|---|
| Insidensi | 1 per 5.000 kelahiran hidup |
| Laki-laki : perempuan | 4 : 1 |
| Diagnosis saat neonatus | ±80% |
| Sindrom Down | 5–15% |
| Riwayat keluarga | 4–20% |
| Long-segment disease | 15–20% |
| Total colonic aganglionosis | 3–8% |
Faktor Genetik
Tabel 3. Gen yang Berhubungan dengan Hirschsprung
| Gen | Fungsi |
|---|---|
| RET | Gen tersering pada Hirschsprung |
| EDNRB | Migrasi krista neural |
| EDN3 | Diferensiasi neuron |
| SOX10 | Perkembangan sistem saraf enterik |
| GDNF | Pertumbuhan neuron enterik |
Manifestasi Klinis
Tabel 4. Manifestasi Klinis Berdasarkan Usia
| Usia | Manifestasi utama |
|---|---|
| Neonatus | Mekonium terlambat, muntah hijau, distensi abdomen |
| Bayi | Konstipasi kronis, gagal tumbuh, perut buncit |
| Anak | Konstipasi berat, impaksi feses, pertumbuhan terganggu |
Pemeriksaan Diagnosis
Tabel 5. Pemeriksaan Penunjang
| Pemeriksaan | Temuan khas | Peran |
|---|---|---|
| Foto polos abdomen | Dilatasi kolon | Skrining awal |
| Enema kontras | Zona transisi | Menentukan lokasi |
| Manometri anorektal | Refleks inhibisi rektoanal tidak ada | Skrining |
| Biopsi rektum | Tidak ditemukan sel ganglion | Baku emas |
| Pewarnaan asetilkolinesterase | Serabut saraf hipertrofi | Konfirmasi |
Diagnosis Banding
Tabel 6. Diagnosis Banding Hirschsprung
| Penyakit | Pembeda utama |
|---|---|
| Konstipasi fungsional | Onset setelah usia 1 tahun, respons baik terhadap pencahar |
| Alergi protein susu sapi | Dapat membaik dengan eliminasi makanan dan OFC positif |
| Hipotiroid kongenital | TSH meningkat |
| Fibrosis kistik | Ileus mekonium, uji keringat positif |
| Malformasi anorektal | Kelainan anatomi anus |
Tata Laksana
Terapi awal meliputi stabilisasi kondisi umum, koreksi cairan dan elektrolit, dekompresi usus dengan irigasi rektal, serta antibiotik bila terjadi enterokolitis. Setelah kondisi stabil, dilakukan operasi pull-through sebagai terapi definitif.
Tabel 7. Teknik Operasi Pull-through
| Teknik | Kelebihan |
|---|---|
| Swenson | Mengangkat seluruh segmen aganglionik |
| Soave | Menjaga struktur pelvis |
| Duhamel | Risiko cedera saraf lebih rendah |
| Transanal endorectal pull-through | Minimal invasif, pemulihan lebih cepat |
Komplikasi
Tabel 8. Komplikasi Hirschsprung
| Sebelum operasi | Setelah operasi |
|---|---|
| Obstruksi usus | Enterokolitis |
| Perforasi | Konstipasi persisten |
| Enterokolitis | Inkontinensia feses |
| Sepsis | Striktur anastomosis |
| Malnutrisi | Disfungsi anorektal |
Luaran Jangka Panjang
Sebagian besar pasien memiliki kualitas hidup yang baik setelah operasi. Namun sekitar 10–30% masih mengalami konstipasi kronis, 5–20% mengalami enterokolitis berulang, dan sebagian kecil mengalami inkontinensia feses atau gangguan fungsi anorektal yang memerlukan tindak lanjut jangka panjang oleh tim multidisiplin.
Perbedaan Hirschsprung, Konstipasi Fungsional, dan Konstipasi Terkait Alergi Makanan
| Karakteristik | Hirschsprung | Konstipasi fungsional | Konstipasi terkait alergi makanan |
|---|---|---|---|
| Awal keluhan | Sejak lahir | Setelah 1 tahun | Bayi atau anak |
| Mekonium >48 jam | Sering | Jarang | Umumnya tidak |
| Distensi abdomen | Berat | Ringan | Sedang hingga berat |
| Riwayat alergi | Tidak khas | Tidak khas | Sering |
| Dermatitis atopik | Tidak khas | Tidak khas | Sering |
| Respons pencahar | Kurang | Baik | Kurang bila alergen masih dikonsumsi |
| Respons eliminasi makanan | Tidak membaik | Tidak bermakna | Sering membaik |
| OFC | Tidak berperan | Tidak berperan | Baku emas diagnosis alergi makanan |
| Biopsi rektum | Aganglionosis | Normal | Normal |
| Terapi utama | Operasi | Pencahar dan modifikasi perilaku | Eliminasi alergen yang telah dikonfirmasi |
Kesimpulan
Penyakit Hirschsprung merupakan penyebab penting obstruksi usus kongenital yang harus dicurigai pada bayi dengan keterlambatan pengeluaran mekonium, konstipasi berat sejak lahir, muntah hijau, dan distensi abdomen. Biopsi rektum tetap menjadi baku emas diagnosis, sedangkan operasi pull-through merupakan terapi definitif. Pada pasien dengan diagnosis Hirschsprung yang masih meragukan dan disertai gejala yang mengarah ke alergi makanan, evaluasi alergi secara sistematis termasuk eliminasi makanan terarah dan konfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge dapat dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Namun, bila aganglionosis telah dipastikan melalui biopsi rektum, tindakan operasi tidak boleh ditunda karena terapi diet tidak dapat menggantikan tata laksana bedah.









Leave a Reply