TERTELAN BENDA ASING PADA ANAK: STRATIFIKASI RISIKO, PENDEKATAN PENCITRAAN, DAN ALGORITME TATA LAKSANA
Benda asing yang tertelan merupakan salah satu masalah klinis penting pada anak. Spektrum klinisnya sangat luas, mulai dari benda inert yang dapat melewati saluran cerna secara spontan hingga benda berisiko tinggi yang dapat menyebabkan obstruksi, nekrosis, perforasi, fistula, dan perdarahan yang mengancam jiwa. Penentuan tata laksana tidak dapat hanya didasarkan pada keberadaan benda asing, tetapi memerlukan stratifikasi berdasarkan jenis, jumlah, ukuran, bentuk, lokasi anatomis, lama impaksi, serta kondisi klinis pasien. Pencitraan mempunyai peran penting dalam menentukan lokasi dan karakteristik benda asing, terutama radiografi pada benda yang bersifat radiopak. Proyeksi anteroposterior dan lateral dapat membantu membedakan benda asing esofagus dari benda asing trakeobronkial. Orientasi koin merupakan salah satu contoh karakteristik radiologis yang dapat membantu menentukan lokasi benda. Benda asing esofagus, baterai kancing, magnet multipel, benda tajam, serta benda berukuran besar atau panjang merupakan kelompok dengan risiko komplikasi lebih tinggi dan memerlukan evaluasi serta intervensi yang lebih agresif. Baterai kancing yang terimpaksi di esofagus merupakan kegawatdaruratan karena dapat menghasilkan cedera elektrokimia progresif. Magnet multipel dapat menyebabkan tekanan antarsegmen usus yang berujung pada iskemia, nekrosis, fistula, dan perforasi. Sementara itu, muntah persisten, nyeri abdomen berat, defans muskular, distensi abdomen, demam, atau perdarahan harus meningkatkan kecurigaan terhadap komplikasi dan menjadi dasar untuk evaluasi bedah. Pendekatan berbasis stratifikasi risiko memungkinkan pemilihan observasi, pemantauan serial, ekstraksi endoskopik, atau intervensi pembedahan secara lebih rasional.
Ingesti benda asing pada anak merupakan kejadian yang sering ditemukan dalam praktik pediatrik. Sebagian besar episode terjadi pada anak usia dini, ketika eksplorasi oral masih merupakan bagian penting dari perkembangan perilaku. Benda yang tertelan sangat bervariasi, mulai dari koin, mainan kecil, bagian alat elektronik, baterai kancing, magnet, benda tajam, hingga tulang.
Sebagian besar benda asing yang telah melewati esofagus dapat melewati saluran cerna secara spontan. Namun, karakteristik tertentu mengubah profil risiko secara bermakna. Baterai kancing, magnet multipel, benda tajam, serta benda berukuran besar dapat menyebabkan komplikasi serius meskipun jumlahnya kecil.
Tantangan klinis utama adalah menentukan kelompok pasien yang dapat diobservasi dan kelompok yang membutuhkan intervensi segera. Keputusan tersebut harus mempertimbangkan interaksi antara karakteristik benda asing dan anatomi saluran cerna.
Lokasi merupakan determinan penting. Benda asing yang berada di esofagus memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan benda yang telah masuk ke lambung atau usus. Selain risiko obstruksi, kontak benda asing dengan mukosa dapat menyebabkan tekanan lokal, inflamasi, ulserasi, nekrosis, dan perforasi.
Pencitraan berperan penting dalam proses stratifikasi tersebut. Radiografi polos dapat menentukan keberadaan, lokasi, ukuran, jumlah, dan orientasi benda asing tertentu. Pemeriksaan ini juga membantu membedakan benda asing esofagus dari benda asing pada saluran pernapasan.
KLASIFIKASI RISIKO BENDA ASING
Secara klinis, benda asing dapat dikelompokkan berdasarkan potensi komplikasinya.
Kelompok risiko relatif rendah meliputi benda kecil, tumpul, tunggal, inert, dan telah melewati esofagus tanpa menimbulkan gejala.
Kelompok risiko tinggi meliputi:
- 1. Benda asing yang berada di esofagus.
- 2. Baterai kancing.
- 3. Magnet multipel.
- 4. Benda tajam atau berujung runcing.
- 5. Benda berukuran besar.
- 6. Benda berbentuk panjang atau memanjang.
- 7. Benda asing yang menyebabkan obstruksi.
- 8. Benda asing yang disertai tanda perforasi atau komplikasi.
Klasifikasi tersebut tidak bersifat absolut. Satu jenis benda dapat mempunyai risiko berbeda bergantung pada lokasi, ukuran, jumlah, lama impaksi, dan kondisi pasien.
LOKASI ANATOMIS SEBAGAI DETERMINAN RISIKO
Esofagus merupakan salah satu lokasi yang paling penting dalam evaluasi benda asing. Benda asing yang terimpaksi di esofagus dapat menyebabkan tekanan langsung terhadap mukosa dan jaringan di sekitarnya.
Benda asing esofagus juga dapat mengganggu proses menelan dan meningkatkan risiko aspirasi saliva. Bila impaksi berlangsung lama, cedera mukosa dapat berkembang menjadi ulserasi dan perforasi.
Setelah benda asing melewati sfingter esofagus bagian bawah dan masuk ke lambung, risiko komplikasi biasanya menurun. Namun, benda asing dengan karakteristik berbahaya tetap memerlukan evaluasi berdasarkan jenis dan ukurannya.
Benda asing yang berada di usus juga tidak selalu aman. Magnet multipel dan benda tajam dapat menyebabkan komplikasi meskipun telah melewati lambung.
PENDEKATAN KLINIS
Anamnesis harus menentukan sebanyak mungkin karakteristik benda asing.
Informasi penting meliputi:
- 1. Jenis benda.
- 2. Jumlah benda.
- 3. Ukuran dan bentuk.
- 4. Waktu tertelan.
- 5. Lokasi yang diperkirakan.
- 6. Apakah kejadian disaksikan.
- 7. Gejala setelah kejadian.
Gejala yang perlu diperhatikan meliputi disfagia, odinofagia, drooling, muntah, nyeri dada, nyeri abdomen, batuk, stridor, wheezing, sesak, demam, hematemesis, dan melena.
Riwayat yang tidak jelas tidak boleh memberikan rasa aman palsu. Anak dapat tetap tampak sehat walaupun benda asing masih berada di esofagus.
PENCITRAAN RADIOLOGIS
Radiografi polos merupakan pemeriksaan awal yang penting pada dugaan benda asing radiopak. Pemeriksaan dapat menggunakan proyeksi anteroposterior dan lateral dengan cakupan sesuai lokasi yang dicurigai.
Radiografi dapat memberikan informasi mengenai:
- 1. Keberadaan benda asing.
- 2. Lokasi.
- 3. Jumlah.
- 4. Ukuran.
- 5. Bentuk.
- 6. Orientasi.
- 7. Perubahan posisi pada pemeriksaan serial.
Pada benda asing yang tidak radiopak, radiografi negatif tidak selalu menyingkirkan diagnosis. Keputusan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan bergantung pada jenis material, gejala, dan probabilitas klinis.
PERBEDAAN BENDA ASING ESOFAGUS DAN TRAKEA
- Koin merupakan contoh klasik dalam interpretasi radiografi benda asing.
- Pada koin yang berada di esofagus, permukaan datar koin umumnya menghadap bidang frontal sehingga tampak sebagai gambaran lingkaran pada proyeksi anteroposterior. Pada proyeksi lateral, koin tampak sebagai garis atau tepi.
- Pada benda asing koin yang berada di trakea, orientasinya biasanya berbeda. Tepi koin dapat terlihat pada proyeksi anteroposterior, sedangkan permukaan datarnya terlihat pada proyeksi lateral.
- Temuan tersebut merupakan prinsip radiologis klasik. Interpretasinya tetap harus dikorelasikan dengan gambaran klinis dan kualitas radiografi.
UKURAN DAN BENTUK SEBAGAI PREDIKTOR IMPAKSI
Diameter dan panjang benda asing memengaruhi kemungkinan benda melewati saluran cerna secara spontan.
Pada anak kecil, benda dengan diameter besar lebih berisiko tertahan pada pilorus atau lokasi penyempitan anatomis lainnya. Benda yang panjang juga mempunyai kemungkinan lebih rendah untuk melewati saluran cerna secara spontan.
Secara praktis, benda dengan panjang sekitar >6 cm atau diameter sekitar >2 cm perlu mendapat perhatian khusus. Namun, batas ukuran tidak boleh digunakan secara terisolasi. Usia pasien, lokasi benda, bentuk, gejala, dan karakteristik material tetap harus diperhitungkan.
BATERAI KANCING
Baterai kancing merupakan benda asing dengan mekanisme cedera yang berbeda dari benda inert.
Ketika baterai berkontak dengan jaringan yang lembap, terjadi aliran arus listrik melalui jaringan dan pembentukan ion hidroksida pada kutub negatif. Peningkatan pH lokal menyebabkan cedera alkalis dan nekrosis jaringan.
Cedera dapat berkembang menjadi ulserasi, nekrosis transmural, perforasi, fistula trakeoesofageal, dan fistula esofagovaskular.
Risiko tertinggi terjadi ketika baterai terimpaksi di esofagus. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan dan membutuhkan ekstraksi segera, dengan target kurang dari 2 jam.
Derajat cedera tidak selalu dapat diperkirakan dari kondisi klinis awal. Anak dapat tampak asimtomatik meskipun cedera jaringan sedang berlangsung.
MAGNET
Magnet multipel merupakan kelompok benda asing berisiko tinggi.
Dua atau lebih magnet yang berada pada segmen saluran cerna berbeda dapat saling menarik melalui dinding usus. Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat menyebabkan gangguan perfusi.
Proses tersebut dapat berkembang menjadi:
- 1. Iskemia.
- 2. Nekrosis.
- 3. Ulserasi.
- 4. Fistula.
- 5. Perforasi.
- 6. Obstruksi.
Risiko semakin besar bila magnet mempunyai kekuatan tinggi atau tertelan bersama benda logam lain.
BENDA ASING TAJAM
Benda tajam mempunyai risiko perforasi yang lebih tinggi dibandingkan benda tumpul.
Contohnya meliputi jarum, peniti, kawat, pecahan logam, dan tulang dengan ujung tajam.
Lokasi merupakan faktor penting. Benda tajam yang masih berada di esofagus membutuhkan evaluasi segera. Bila benda telah masuk ke lambung atau usus, keputusan ekstraksi bergantung pada ukuran, bentuk, lokasi, gejala, dan kemungkinan komplikasi.
INDIKASI EKSTRAKSI
Ekstraksi endoskopik terutama dipertimbangkan pada:
- 1. Benda asing yang masih berada di esofagus.
- 2. Baterai kancing di esofagus.
- 3. Magnet multipel dengan risiko komplikasi.
- 4. Benda tajam yang mempunyai risiko perforasi.
- 5. Benda berukuran besar atau panjang yang berpotensi mengalami impaksi.
- 6. Benda asing yang menyebabkan obstruksi.
- 7. Benda asing yang menimbulkan gejala bermakna.
- 8. Benda asing yang gagal mengalami progresi pada observasi serial sesuai indikasi klinis.
Keputusan harus dilakukan secara individual berdasarkan jenis benda, lokasi, durasi impaksi, kondisi klinis, dan fasilitas yang tersedia.
KAPAN MEMPERTIMBANGKAN PEMBEDAHAN?
Pembedahan bukan merupakan terapi rutin untuk seluruh kasus benda asing. Sebagian besar pasien dapat ditangani dengan observasi atau ekstraksi endoskopik.
Pembedahan dipertimbangkan ketika terdapat komplikasi atau ketika ekstraksi endoskopik tidak memungkinkan atau tidak berhasil.
Tanda yang meningkatkan kecurigaan terhadap komplikasi serius meliputi:
- 1. Nyeri abdomen hebat.
- 2. Defans muskular.
- 3. Distensi abdomen progresif.
- 4. Muntah persisten.
- 5. Demam.
- 6. Tanda sepsis.
- 7. Perdarahan saluran cerna.
- 8. Tanda perforasi pada pencitraan.
- 9. Obstruksi yang tidak dapat ditangani secara endoskopik.
Kombinasi nyeri hebat, defans muskular, distensi, dan demam harus menimbulkan kecurigaan terhadap peritonitis atau perforasi.
PERAN CT SCAN
CT scan tidak diperlukan secara rutin pada semua kasus tertelan benda asing. Pemeriksaan ini dapat dipertimbangkan ketika radiografi tidak memberikan informasi yang memadai atau terdapat kecurigaan komplikasi.
CT dapat membantu mengevaluasi:
- 1. Perforasi.
- 2. Abscess atau koleksi.
- 3. Mediastinitis.
- 4. Obstruksi.
- 5. Lokasi benda asing yang tidak jelas.
- 6. Hubungan benda asing dengan struktur anatomi penting.
Pada kasus dengan kecurigaan komplikasi berat, pemilihan modalitas pencitraan harus mempertimbangkan kondisi klinis dan urgensi tindakan.
ALGORITME PENDEKATAN KLINIS
Pendekatan dapat disusun dalam beberapa tahap.
- Tahap pertama adalah stabilisasi. Gangguan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi harus ditangani terlebih dahulu.
- Tahap kedua adalah menentukan apakah benda asing berada di saluran pernapasan atau saluran cerna.
- Tahap ketiga adalah menentukan jenis, jumlah, ukuran, bentuk, dan lokasi benda asing melalui anamnesis dan pencitraan.
- Tahap keempat adalah mengidentifikasi benda asing berisiko tinggi, terutama baterai kancing, magnet multipel, benda tajam, dan benda berukuran besar.
- Tahap kelima adalah menentukan strategi. Pasien dengan risiko rendah dapat dipertimbangkan untuk observasi. Benda asing berisiko tinggi atau yang masih berada di esofagus memerlukan evaluasi untuk ekstraksi segera atau segera setelah diagnosis.
- Tahap keenam adalah mencari tanda komplikasi. Perforasi, peritonitis, obstruksi, sepsis, atau perdarahan dapat mengubah strategi menjadi intervensi bedah.
KONSEP STRATIFIKASI RISIKO
Penilaian benda asing saluran cerna pada anak sebaiknya tidak menggunakan satu parameter secara terpisah.
Risiko merupakan hasil interaksi antara:
- Jenis benda + ukuran + bentuk + jumlah + lokasi + lama impaksi + kondisi klinis.
- Benda kecil yang inert dan telah masuk ke usus pada anak tanpa gejala memiliki profil risiko yang berbeda dari baterai kancing berdiameter besar yang terimpaksi di esofagus.
- Demikian pula, satu magnet kecil yang telah melewati saluran cerna tidak memiliki risiko yang sama dengan beberapa magnet yang saling menarik melalui dinding usus.
- Pendekatan berbasis risiko memungkinkan intervensi diberikan kepada pasien yang benar-benar membutuhkan tindakan segera, sekaligus menghindari prosedur yang tidak diperlukan pada benda asing dengan kemungkinan tinggi untuk keluar secara spontan.
KESIMPULAN
Benda asing ingesti pada anak merupakan kondisi dengan spektrum risiko yang luas. Penentuan tata laksana harus mempertimbangkan jenis, jumlah, ukuran, bentuk, lokasi, lama impaksi, dan kondisi klinis pasien.
Radiografi polos merupakan modalitas awal yang penting untuk benda asing radiopak. Proyeksi anteroposterior dan lateral dapat membantu menentukan lokasi dan orientasi benda. Interpretasi orientasi koin dapat membantu membedakan benda asing esofagus dari trakea.
Benda asing esofagus, baterai kancing, magnet multipel, benda tajam, serta benda berukuran besar atau panjang merupakan kelompok berisiko tinggi. Baterai kancing yang terimpaksi di esofagus memerlukan ekstraksi emergensi karena dapat menyebabkan cedera elektrokimia progresif. Magnet multipel dapat menyebabkan iskemia, nekrosis, fistula, perforasi, dan obstruksi.
Pembedahan terutama dipertimbangkan bila telah terjadi komplikasi seperti perforasi, peritonitis, obstruksi yang tidak dapat ditangani secara endoskopik, sepsis, atau perdarahan. Pendekatan berbasis stratifikasi risiko memberikan kerangka yang lebih rasional untuk menentukan observasi, pemantauan serial, ekstraksi endoskopik, atau intervensi pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA
- 1. Kramer RE, Lerner DG, Lin T, et al. Management of ingested foreign bodies in children: a clinical report of the NASPGHAN Endoscopy Committee. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2015;60(4):562-574.
- 2. Mubarak A, Benninga MA, Broekaert I, et al. Diagnosis, management, and prevention of button battery ingestion in childhood: ESPGHAN position paper. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2021;73(1):129-136.
- 3. Anfang RR, Jatana KR, Linn RL, Rhoades K, Fry J, Jacobs IN. pH-neutralizing esophageal irrigations as a novel mitigation strategy for button battery injury. Laryngoscope. 2019;129(1):49-57.
- 4. ASGE Standards of Practice Committee, Ikenberry SO, Jue TL, et al. Management of ingested foreign bodies and food impactions. Gastrointest Endosc. 2011;73(6):1085-1091.
- 5. Litovitz T, Whitaker N, Clark L. Preventing battery ingestions: an analysis of 8648 cases. Pediatrics. 2010;125(6):1178-1183.
- 6. Kliegman RM, St Geme JW, Blum NJ, Shah SS, Tasker RC, Wilson KM, editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 21st ed. Philadelphia: Elsevier; 2019.
- Keterangan penulis:
Madya Pencitraan: Luki, Anput, Pebri, Ria, Issa








Leave a Reply