Anakku sejak mulai sekolah hampir tiap bulan batuk pilek. Aku sering dengar kalau pencernaan terganggu, imun jadi lemah dan anak gampang sakit. Tapi pencernaan anakku kelihatannya baik baik saja, pup tiap pagi normal, tidak diare, tidak sembelit. Makan juga banyak. Tapi kok tetap sering sakit dan berat badannya seret, susah naik. Kalau pencernaannya terlihat aman, sebenarnya apa mungkin tetap ada masalah yang tidak kelihatan?
Jawaban
Keluhan anak yang sering batuk, pilek, dan demam tiap bulan sejak mulai sekolah sering membuat orang tua bingung, apalagi bila menurut orrtu tampak pencernaan terlihat baik. Anak pup tiap pagi, bentuk normal, makan banyak tapi sulit gemuk berat badan sulit naik. Kondisi ini sering membuat orang tua menyimpulkan bahwa pencernaan aman dan imun seharusnya kuat. Padahal, bila digerati ganguan pencernaan FGID (Fungsional Gastroinsestnal Disorder) berkaitan dengan alergi makanan khususnya alergi pencernaan seperti tampak normal tetapi sebenarnya ada fangguan karena eingan selama ini dianggap normal bahkan oleh seorang dokterpun.
Secara ilmiah, sekitar 70 persen sistem kekebalan tubuh dibentuk di saluran pencernaan. Usus bukan sekadar tempat mencerna makanan, tapi pusat pelatihan sel imun. Bila ada iritasi ringan akibat alergi makanan, sistem imun menjadi tidak seimbang. Tubuh sibuk merespons rangsangan dari usus sehingga pertahanan di saluran napas melemah. Anak jadi mudah tertular virus, batuk lebih lama, pilek berulang, dan demam datang silih berganti.
Alergi pencernaan juga memicu peradangan ringan kronis di usus. Peradangan ini sering tidak menimbulkan diare berat atau muntah, sehingga tampak seolah tidak ada masalah. Namun, peradangan ringan yang menetap cukup untuk mengganggu respon imun mukosa, termasuk di hidung dan paru. Akibatnya, infeksi saluran napas mudah terjadi dan sulit benar benar tuntas.
Kondisi ini sering disertai FGID atau gangguan pencernaan fungsional. Pada FGID, gerak usus dan kerja saraf pencernaan tidak sinkron. Anak bisa BAB setiap hari, tapi fungsi ususnya tidak optimal. Sensitivitas saraf meningkat dan usus menjadi mudah teriritasi, meski tidak terlihat sebagai diare atau sembelit berat.
Masalahnya, gangguan FGID dan alergi pencernaan ringan hampir selalu dianggap normal. Orang tua dan bahkan tenaga medis sering melewatkannya. Gejalanya halus dan tampak sepele, seperti BAB harus ngeden, feses gelap dan berbau tajam, feses keras bulat seperti kotoran kambing, atau sebaliknya lembek dan ambyar. Kadang muncul lendir atau bercak darah yang dianggap akibat luka anus biasa.
Keluhan nyeri perut ringan juga sering tidak dikenali. Anak tampak seperti mau BAB tapi tidak jadi, tidur malam gelisah, sering terbangun, merengek tanpa sebab jelas, atau minta susu malam hari. Tanda lain bisa berupa bibir kering, lidah putih, dan liur berlebihan. Karena tidak dramatis, semua ini sering dianggap fase tumbuh atau masalah tidur.
Seringkali juga orangtua berpendapat anaknya makan banyak tapi sulit gemuk. Pendapat anak makan banyak tapi tidak gemuk sering muncul karena salah penilaian. Pada usia 1 tahun, porsi makan anak sebenarnya kecil. Sekali makan anak hanya 4-5 @]sendok makan dianggap banyak sehatusnya idealnya anak seusi itu bisa makan 10-12 sendok makan besar. . Banyak orang tua menganggap porsi ini sudah besar, padahal kalorinya bisa rendah, teksturnya kurang padat, atau sering terganggu camilan dan susu. Makan pagi biasanya lebih sedikit daripada siang. Makan siang pun tidak selalu banyak, kadang lahap, kadang hanya sedikit.
Masalahnya, orang tua sering hanya mengingat saat anak makan banyak. Saat anak makan sedikit, sering tidak diperhatikan. Akibatnya terlihat seperti sering makan, padahal asupan harian tidak konsisten. Berat badan tidak naik karena tubuh butuh asupan yang stabil, bukan sesekali banyak. Seharusnya anak makan dengan pola yang relatif konsisten dari pagi sampai malam, setiap hari, minimal selama satu bulan. Konsistensi inilah yang menentukan apakah energi cukup untuk menaikkan berat badan atau tidak.
Dampaknya tidak hanya pada imun. Nafsu makan menjadi tidak stabil, kadang lahap kadang sulit. Berat badan sulit naik atau naiknya tersendat. Dalam jangka lebih panjang, muncul gangguan gut brain axis, yaitu hubungan dua arah antara usus dan otak. Anak bisa tampak cerdas, tetapi emosinya tinggi, mudah marah, agresif, sulit diam, dan fokus tidak optimal. Karena gejalanya ringan, kondisi ini sering disalahartikan sebagai sifat atau karakter bawaan.
Penanganan kondisi ini tidak cukup dengan mencatat makanan harian, tidak dengan tes kulit, dan tidak dengan panel alergi laboratorium yang sering tidak akurat untuk alergi pencernaan. Metode yang paling dianjurkan dan diakui sebagai standar emas adalah oral food challenge yang dilakukan bertahap di bawah pengawasan dokter.
Bila oral food challenge dilakukan dengan baik dan tepat, perbaikan biasanya terlihat dalam satu sampai tiga minggu. Keluhan pencernaan membaik, BAB lebih nyaman, nafsu makan meningkat, dan berat badan bisa naik sekitar 200 sampai 250 gram per minggu. Keluhan batuk dan pilek berulang berkurang, tidur lebih nyenyak, dan emosi anak menjadi lebih stabil secara bersamaan.
Anak yang sering sakit bukan selalu karena kurang vitamin atau daya tahan tubuh bawaan yang lemah. Banyak anak sebenarnya sedang berjuang diam diam di pencernaannya. Saat sumber gangguan ditemukan dan diatasi, tubuh anak punya kemampuan pulih yang luar biasa. Di titik ini, peran orang tua menjadi kunci untuk mengembalikan kesehatan anak secara utuh.









Leave a Reply