Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) dan European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) tentang Penggunaan Probiotik pada Anak: Tinjauan Berbasis Bukti Ilmiah
Reviewer: Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Penggunaan probiotik pada anak semakin meningkat seiring berkembangnya penelitian mengenai mikrobiota usus dan hubungannya dengan kesehatan saluran cerna maupun sistem imun. Berbagai produk probiotik dipasarkan dengan klaim dapat mencegah dan mengobati berbagai penyakit, namun efektivitasnya sangat bergantung pada jenis mikroorganisme (strain), dosis, indikasi klinis, dan kualitas bukti ilmiah yang tersedia. Artikel ini bertujuan membandingkan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) dan European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) mengenai penggunaan probiotik pada anak. AAP menekankan bahwa probiotik hanya memiliki manfaat yang telah terbukti pada beberapa kondisi tertentu, seperti diare akut akibat infeksi virus dan pencegahan diare akibat antibiotik, sedangkan bukti untuk alergi, konstipasi, irritable bowel syndrome (IBS), penyakit radang usus, maupun penggunaan rutin pada anak sehat masih belum memadai. ESPGHAN memberikan rekomendasi yang lebih spesifik berdasarkan strain probiotik dan hanya menganjurkan penggunaannya pada indikasi yang didukung oleh sedikitnya dua uji klinis acak berkualitas tinggi, seperti diare akibat antibiotik, gastroenteritis akut, kolik pada bayi yang mendapat ASI, dan pencegahan necrotizing enterocolitis (NEC) pada bayi prematur. Kedua organisasi sepakat bahwa probiotik bukan terapi universal dan tidak semua produk probiotik memberikan manfaat yang sama. Penggunaan probiotik pada anak harus mempertimbangkan bukti ilmiah, indikasi klinis, keamanan, serta karakteristik strain yang digunakan.
Mikrobiota usus merupakan ekosistem kompleks yang terdiri atas triliunan mikroorganisme yang berperan penting dalam pencernaan, metabolisme, pematangan sistem imun, serta perlindungan terhadap infeksi. Kemajuan penelitian mengenai hubungan antara mikrobiota usus dan kesehatan anak telah meningkatkan penggunaan probiotik sebagai salah satu intervensi untuk berbagai gangguan saluran cerna maupun penyakit lain. Akibatnya, berbagai produk yang mengandung probiotik kini tersedia dalam bentuk susu formula, yogurt, makanan fungsional, maupun suplemen dengan berbagai klaim manfaat kesehatan.
Meskipun demikian, tidak semua manfaat probiotik didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Efektivitas probiotik sangat dipengaruhi oleh jenis strain, dosis, lama pemberian, populasi pasien, serta penyakit yang ditangani. Oleh karena itu, penggunaan probiotik tidak dapat disamaratakan untuk semua kondisi klinis. Organisasi profesi internasional, seperti American Academy of Pediatrics (AAP) dan European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), telah menerbitkan rekomendasi berbasis bukti untuk membantu tenaga kesehatan menggunakan probiotik secara rasional. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, terdapat beberapa perbedaan dalam ruang lingkup rekomendasi, tingkat bukti yang digunakan, dan indikasi klinis yang dianjurkan.
Artikel ini menyajikan perbandingan rekomendasi AAP dan ESPGHAN mengenai penggunaan probiotik pada anak berdasarkan bukti ilmiah terkini, sehingga diharapkan dapat membantu klinisi maupun praktisi kesehatan dalam memilih penggunaan probiotik yang tepat sesuai indikasi.
Apa Itu Probiotik?
Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang, bila diberikan dalam jumlah yang cukup, dapat memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Mikroorganisme yang paling banyak diteliti berasal dari kelompok Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus, sedangkan salah satu probiotik berbentuk ragi yang banyak digunakan adalah Saccharomyces boulardii.
Bakteri-bakteri tersebut membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, menghasilkan berbagai metabolit bermanfaat seperti asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA), memperkuat lapisan pelindung usus, serta membantu mengatur respons sistem imun. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak berlaku untuk semua jenis probiotik, karena setiap strain memiliki karakteristik biologis dan efek klinis yang berbeda.
Apa Itu Prebiotik?
Prebiotik merupakan komponen makanan yang tidak dapat dicerna oleh manusia, tetapi menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di usus. Contohnya adalah galacto-oligosaccharides (GOS), fructo-oligosaccharides (FOS), dan inulin.
ASI merupakan sumber prebiotik alami yang sangat kaya, terutama berupa human milk oligosaccharides (HMOs). Senyawa ini berperan penting dalam mendukung pertumbuhan bakteri baik, terutama Bifidobacterium, sehingga membantu pembentukan mikrobiota usus yang sehat pada bayi.
Mengapa Mikrobiota Usus Penting?
Usus manusia dihuni oleh triliunan mikroorganisme yang membentuk mikrobiota usus. Pada awal kehidupan, komposisi mikrobiota dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
- usia kehamilan saat lahir;
- cara persalinan (normal atau sesar);
- pemberian ASI;
- penggunaan antibiotik;
- lingkungan setelah lahir.
AAP menjelaskan bahwa periode awal kehidupan merupakan masa yang sangat penting bagi pembentukan sistem imun. Sekitar 70–80% sel imun tubuh berhubungan dengan jaringan limfoid saluran cerna (gut-associated lymphoid tissue/GALT). Oleh karena itu, keseimbangan mikrobiota usus berperan dalam perkembangan sistem kekebalan, toleransi terhadap makanan, serta perlindungan terhadap infeksi.
Kapan Probiotik Terbukti Bermanfaat?
Berdasarkan hasil uji klinis acak (randomized controlled trials), AAP menyimpulkan bahwa manfaat probiotik yang telah memiliki bukti ilmiah cukup baik masih terbatas pada beberapa kondisi.
- 1. Diare akut akibat infeksi virus
- AAP menyatakan bahwa beberapa strain probiotik dapat membantu memperpendek lama diare akut akibat infeksi virus pada anak sehat. Namun manfaatnya bersifat moderat, bukan sebagai pengganti terapi rehidrasi oral yang tetap menjadi pengobatan utama.
- 2. Diare akibat antibiotik
- Pemberian probiotik tertentu dapat menurunkan risiko antibiotic-associated diarrhea pada anak yang mendapat terapi antibiotik. Efek ini telah didukung oleh berbagai uji klinis.
- 3. Enterokolitis nekrotikan (NEC)
- Pada bayi prematur dengan berat lahir sangat rendah (1000–1500 gram), terdapat bukti bahwa probiotik dapat menurunkan risiko necrotizing enterocolitis (NEC), yaitu penyakit usus berat yang dapat mengancam jiwa. Namun AAP menilai bahwa bukti ilmiah saat itu masih memerlukan penelitian tambahan sebelum dapat direkomendasikan secara luas.
Kapan Bukti Masih Belum Kuat?
AAP menjelaskan bahwa berbagai penelitian mengenai probiotik memang menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi hingga kini bukti ilmiahnya belum cukup kuat untuk dijadikan terapi rutin pada beberapa kondisi berikut.
- kolik bayi;
- gastritis akibat Helicobacter pylori;
- irritable bowel syndrome (IBS);
- kolitis ulseratif kronis;
- pencegahan penyakit alergi (atopi);
- penyakit Crohn.
Dengan demikian, probiotik belum dapat direkomendasikan sebagai terapi standar pada kondisi-kondisi tersebut.
Probiotik untuk Alergi Tidak Terbukti
American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat untuk merekomendasikan pemberian probiotik secara rutin kepada ibu hamil, ibu menyusui, maupun bayi sebagai upaya mencegah penyakit alergi, seperti dermatitis atopik (eksim), rinitis alergi, dan asma. Meskipun beberapa penelitian awal menunjukkan hasil yang menjanjikan, seperti penurunan kejadian eksim pada bayi berisiko tinggi setelah pemberian Lactobacillus rhamnosus GG (LGG), hasil penelitian berikutnya tidak konsisten dan bahkan ada studi yang tidak menemukan manfaat atau menunjukkan peningkatan sensitisasi terhadap alergen. Demikian pula, penggunaan probiotik sebagai pengobatan eksim (dermatitis atopik) belum terbukti efektif secara meyakinkan. Oleh karena itu, AAP menyimpulkan bahwa probiotik tidak dianjurkan sebagai terapi rutin untuk mencegah maupun mengobati penyakit alergi pada anak, sampai tersedia bukti ilmiah yang lebih kuat dari penelitian berkualitas tinggi. Keputusan penggunaan probiotik pada anak dengan alergi sebaiknya dilakukan secara individual berdasarkan pertimbangan dokter dan bukan sebagai bagian dari pengobatan standar.
Tidak Direkomendasikan Probiotik pada Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan Konstipasi
American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk merekomendasikan penggunaan probiotik secara rutin pada anak dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS) maupun konstipasi (sembelit). Meskipun satu uji klinis acak (randomized controlled trial) menunjukkan bahwa Lactobacillus rhamnosus GG (LGG) dapat membantu mengurangi kembung dan nyeri perut pada anak dengan IBS selama enam minggu, hasil tersebut masih berasal dari satu penelitian sehingga memerlukan konfirmasi melalui penelitian lain yang lebih besar dan berkualitas. Sementara itu, pada konstipasi fungsional, penelitian menunjukkan bahwa penambahan LGG bersama laktulosa tidak memberikan manfaat tambahan dibandingkan laktulosa saja. Oleh karena itu, AAP menyimpulkan bahwa probiotik belum dapat direkomendasikan sebagai terapi rutin untuk IBS pada anak karena bukti ilmiahnya masih terbatas, dan tidak direkomendasikan untuk pengobatan konstipasi pada anak karena belum terbukti efektif.
Rekomendasi AAP dan ESPGHAN tentang Penggunaan Probiotik pada Anak
| Kondisi Klinis | Rekomendasi AAP | Rekomendasi ESPGHAN (2023) |
|---|---|---|
| Diare akut akibat infeksi | Probiotik dapat membantu memperpendek lama diare pada anak sehat; manfaat bersifat sedang dan bukan terapi utama. | Direkomendasikan sebagai terapi tambahan bersama rehidrasi oral. Strain yang dianjurkan: Saccharomyces boulardii, Lacticaseibacillus rhamnosus GG, Limosilactobacillus reuteri DSM 17938, atau kombinasi L. rhamnosus 19070-2 + L. reuteri DSM 12246. |
| Diare akibat antibiotik (AAD) | Dapat digunakan pada anak sehat untuk membantu mencegah diare akibat antibiotik. | Direkomendasikan menggunakan Saccharomyces boulardii atau Lacticaseibacillus rhamnosus GG sejak awal terapi antibiotik hingga selesai. |
| Necrotizing Enterocolitis (NEC) pada bayi prematur | Bukti menjanjikan tetapi saat laporan AAP diterbitkan masih memerlukan penelitian tambahan sebelum direkomendasikan secara luas. | Dapat dipertimbangkan pada NICU menggunakan LGG atau kombinasi Bifidobacterium infantis BB-02 + B. lactis BB-12 + Streptococcus thermophilus TH-4 dengan pengawasan ketat. |
| Kolik bayi | Bukti masih terbatas, belum direkomendasikan sebagai terapi rutin. | Direkomendasikan pada bayi yang mendapat ASI menggunakan L. reuteri DSM 17938 atau B. lactis BB-12 minimal 21 hari. |
| Dermatitis atopik (eksim) | Belum cukup bukti untuk pencegahan maupun terapi rutin. | Tidak memberikan rekomendasi khusus karena bukti belum memadai. |
| Rinitis alergi dan asma | Tidak direkomendasikan untuk pencegahan maupun pengobatan rutin. | Tidak ada rekomendasi karena bukti ilmiah belum cukup. |
| Irritable Bowel Syndrome (IBS) | Bukti masih terbatas; belum dapat direkomendasikan sebagai terapi rutin. | Tidak ada rekomendasi spesifik. |
| Konstipasi fungsional | Tidak direkomendasikan karena belum terbukti efektif. | Tidak direkomendasikan; tidak ada strain yang terbukti efektif. |
| Kolitis ulseratif | Bukti belum memadai. | Belum ada rekomendasi mendukung maupun menolak. |
| Penyakit Crohn | Tidak terbukti bermanfaat. | Tidak ada rekomendasi khusus. |
| Penyakit celiac | Tidak ada rekomendasi. | Belum ada rekomendasi karena bukti belum cukup. |
| SIBO | Tidak dibahas secara khusus. | Belum ada rekomendasi karena bukti belum memadai. |
| Pankreatitis | Tidak dibahas. | Belum tersedia data pada anak sehingga tidak ada rekomendasi. |
| Anak sehat sebagai suplemen rutin | Tidak dianjurkan secara rutin. | Tidak dianjurkan tanpa indikasi klinis yang jelas. |
| Anak dengan gangguan imun atau sakit berat | Harus sangat berhati-hati karena terdapat risiko infeksi oportunistik. | Penggunaan harus dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan aspek keamanan. |
Persamaan Rekomendasi AAP dan ESPGHAN
| Persamaan | Keterangan |
|---|---|
| Tidak semua probiotik memiliki manfaat yang sama | Efektivitas bergantung pada strain yang digunakan. |
| Harus berbasis bukti ilmiah | Penggunaan probiotik harus didukung hasil uji klinis berkualitas tinggi. |
| Bukan terapi utama | Probiotik hanya sebagai terapi tambahan pada indikasi tertentu. |
| Tidak dianjurkan untuk semua penyakit | Banyak kondisi masih memerlukan penelitian lebih lanjut. |
| Memerlukan perhatian terhadap keamanan | Terutama pada bayi prematur, pasien imunokompromais, dan anak sakit berat. |
ESPGHAN Terbitkan Rekomendasi Terbaru
Tidak Semua Probiotik Bermanfaat untuk Gangguan Pencernaan Anak. European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) dalam Position Paper tahun 2023 menegaskan bahwa penggunaan probiotik pada anak harus didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat dan tidak dapat digeneralisasi untuk semua penyakit maupun semua jenis probiotik. Rekomendasi ini disusun berdasarkan telaah sistematis, meta-analisis, dan randomized controlled trials (RCT) hingga tahun 2021, dengan syarat setiap strain yang direkomendasikan telah didukung oleh sedikitnya dua uji klinis berkualitas tinggi. ESPGHAN merekomendasikan Saccharomyces boulardii atau Lacticaseibacillus rhamnosus GG (LGG) untuk membantu mencegah diare akibat penggunaan antibiotik, serta S. boulardii, L. rhamnosus GG, Limosilactobacillus reuteri DSM 17938, atau kombinasi L. rhamnosus 19070-2 dan L. reuteri DSM 12246 sebagai terapi tambahan pada diare akut, di samping rehidrasi oral sebagai pengobatan utama. Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, L. reuteri DSM 17938 dan Bifidobacterium lactis BB-12 dapat dipertimbangkan untuk membantu mengurangi kolik, sedangkan pada bayi prematur, LGG atau kombinasi Bifidobacterium infantis BB-02, B. lactis BB-12, dan Streptococcus thermophilus TH-4 dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah necrotizing enterocolitis (NEC) dengan pengawasan ketat di rumah sakit. Sebaliknya, ESPGHAN menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada strain probiotik yang terbukti efektif untuk mengatasi konstipasi fungsional pada anak, serta belum terdapat bukti yang cukup untuk memberikan rekomendasi pada kolitis ulseratif, penyakit celiac, small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), maupun pankreatitis. ESPGHAN menekankan bahwa manfaat probiotik sangat bergantung pada strain, dosis, lama pemberian, dan indikasi klinis, sehingga masyarakat tidak sebaiknya memilih produk probiotik hanya berdasarkan iklan atau klaim kesehatan. Penggunaan probiotik harus mengikuti rekomendasi berbasis bukti dan tidak menggantikan terapi utama yang telah terbukti efektif.
Tabel Rekomendasi ESPGHAN tentang Penggunaan Probiotik pada Gangguan Saluran Cerna Anak
| Penyakit/Kondisi | Rekomendasi ESPGHAN | Strain Probiotik yang Direkomendasikan | Tujuan Pemberian | Lama Pemberian | Tingkat Bukti | Catatan Penting |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Diare akibat antibiotik (Antibiotic-Associated Diarrhea/AAD) | Direkomendasikan | Saccharomyces boulardii atau Lacticaseibacillus rhamnosus GG (LGG) | Mencegah diare akibat antibiotik | Dimulai bersamaan dengan antibiotik hingga antibiotik selesai | Tinggi | Salah satu rekomendasi terkuat ESPGHAN |
| Diare akut (Acute Gastroenteritis) | Dapat dipertimbangkan | Saccharomyces boulardii; Lacticaseibacillus rhamnosus GG; Limosilactobacillus reuteri DSM 17938; kombinasi L. rhamnosus 19070-2 + L. reuteri DSM 12246 | Memperpendek lama diare | Sekitar 5 hari | Sedang–Tinggi | Tetap harus disertai terapi rehidrasi oral sebagai pengobatan utama |
| Kolik pada bayi yang mendapat ASI | Direkomendasikan | Limosilactobacillus reuteri DSM 17938 atau Bifidobacterium lactis BB-12 | Mengurangi lama menangis | Minimal 21 hari | Sedang | Bukti terutama pada bayi yang mendapat ASI eksklusif |
| Bayi prematur: pencegahan Necrotizing Enterocolitis (NEC) | Direkomendasikan dengan pertimbangan klinis | Lacticaseibacillus rhamnosus GG atau kombinasi Bifidobacterium infantis BB-02 + Bifidobacterium lactis BB-12 + Streptococcus thermophilus TH-4 | Menurunkan risiko NEC | Sesuai protokol NICU | Sedang | Harus digunakan di rumah sakit dengan pengawasan ketat |
| Konstipasi fungsional (Sembelit) | Tidak direkomendasikan | Tidak ada strain yang terbukti efektif | Tidak ada manfaat yang terbukti | — | Tinggi | Belum ada probiotik yang efektif untuk konstipasi |
| Kolitis ulseratif | Belum ada rekomendasi | — | Bukti belum memadai | — | Rendah | Perlu penelitian lebih lanjut |
| Penyakit Celiac | Belum ada rekomendasi | — | Bukti belum memadai | — | Rendah | Diet bebas gluten tetap menjadi terapi utama |
| Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO) | Belum ada rekomendasi | — | Bukti belum memadai | — | Rendah | Masih diperlukan penelitian berkualitas tinggi |
| Pankreatitis | Belum ada rekomendasi | — | Belum tersedia data pada anak | — | Sangat rendah | Tidak cukup bukti untuk memberikan rekomendasi |
Kapan Probiotik Tidak Direkomendasikan?
AAP menegaskan bahwa belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan probiotik bermanfaat untuk:
- mencegah atau mengobati kanker;
- mengobati penyakit Crohn pada anak;
- menggantikan terapi medis standar pada penyakit kronis.
Oleh karena itu, probiotik tidak boleh dianggap sebagai “obat segala penyakit”.
Bagaimana dengan Prebiotik?
- Penelitian mengenai prebiotik pada anak masih jauh lebih sedikit dibandingkan probiotik. Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan manfaat dalam menurunkan risiko eksim alergi dan infeksi ringan pada bayi sehat.
- Namun, menurut AAP, jumlah penelitian berkualitas tinggi masih terbatas, sehingga belum cukup bukti untuk merekomendasikan pemberian prebiotik secara rutin kepada seluruh anak sehat.
Aspek Keamanan
Sebagian besar probiotik relatif aman pada anak sehat.
Namun AAP memberikan perhatian khusus terhadap kelompok berikut:
- bayi dengan gangguan sistem imun;
- pasien yang sakit berat;
- anak dengan penyakit kronis berat;
- pasien yang menggunakan kateter atau alat medis invasif jangka panjang.
Pada kelompok tersebut pernah dilaporkan kasus infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme probiotik, sehingga penggunaannya harus dilakukan dengan pertimbangan dokter.
Rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP)
Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, AAP memberikan beberapa rekomendasi penting.
| Rekomendasi | Tingkat Bukti |
|---|---|
| Probiotik dapat dipertimbangkan untuk diare akut akibat virus | Bukti cukup baik |
| Probiotik dapat digunakan untuk membantu mencegah diare akibat antibiotik | Bukti cukup baik |
| Probiotik pada bayi prematur untuk mencegah NEC masih memerlukan penelitian tambahan | Bukti sedang |
| Belum cukup bukti untuk penggunaan rutin pada alergi, kolik, IBS, penyakit Crohn, maupun kanker | Bukti belum memadai |
| Prebiotik belum direkomendasikan secara rutin pada seluruh anak sehat | Bukti masih terbatas |
| Penggunaan pada anak dengan gangguan imun atau sakit berat harus sangat hati-hati | Direkomendasikan kehati-hatian |
Pesan untuk Orang Tua
- Orang tua perlu memahami bahwa tidak semua anak memerlukan probiotik, dan tidak semua produk yang berlabel “mengandung probiotik” memiliki manfaat yang telah terbukti secara ilmiah.
- Jangan mudah percaya pada iklan atau klaim bahwa probiotik dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menyembuhkan alergi, mengatasi sembelit, atau memperbaiki semua gangguan pencernaan.
- Bila anak mengalami diare, sembelit, nyeri perut berulang, kolik, atau gangguan makan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat. Probiotik hanya diberikan bila memang terdapat indikasi yang didukung bukti ilmiah dan sesuai dengan rekomendasi tenaga kesehatan. Yang jauh lebih penting untuk menjaga kesehatan saluran cerna anak adalah memberikan ASI bila memungkinkan, kenali masalah aergi pencernan, makanan bergizi seimbang sesuai usia, kebersihan makanan dan tangan, imunisasi lengkap, penggunaan antibiotik secara bijaksana, serta pemeriksaan medis bila keluhan menetap atau memburuk. Dengan pendekatan tersebut, kesehatan saluran cerna dan tumbuh kembang anak dapat terjaga secara optimal tanpa penggunaan suplemen yang tidak diperlukan. (AAP Publications)
Kesimpulan
Perbandingan rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) dan European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) menunjukkan bahwa kedua organisasi sama-sama menekankan pentingnya penggunaan probiotik yang berbasis bukti ilmiah (evidence-based medicine) dan bukan berdasarkan klaim pemasaran atau penggunaan secara rutin pada semua anak. Kedua organisasi sepakat bahwa manfaat probiotik bersifat strain-specific, sehingga hasil penelitian pada satu jenis probiotik tidak dapat digeneralisasi pada strain lain. Bukti ilmiah yang paling kuat mendukung penggunaan probiotik tertentu untuk mencegah diare akibat antibiotik dan sebagai terapi tambahan pada diare akut, sedangkan manfaat pada kondisi lain, seperti alergi, konstipasi fungsional, irritable bowel syndrome (IBS), penyakit radang usus, dan berbagai gangguan saluran cerna lainnya, masih terbatas atau belum cukup kuat untuk direkomendasikan sebagai terapi rutin. ESPGHAN memberikan rekomendasi yang lebih rinci mengenai strain probiotik yang dapat digunakan pada beberapa kondisi tertentu, sedangkan AAP cenderung lebih konservatif dengan menekankan perlunya penelitian lebih lanjut sebelum penggunaan probiotik diterapkan secara luas. Kedua organisasi juga mengingatkan bahwa probiotik bukan pengganti terapi utama, melainkan hanya terapi pendukung pada indikasi yang telah terbukti manfaatnya. Oleh karena itu, pemilihan probiotik harus mempertimbangkan indikasi klinis, strain yang digunakan, dosis, lama pemberian, keamanan, serta kualitas bukti ilmiah, sehingga penggunaannya benar-benar memberikan manfaat bagi pasien. (AAP Publications)
Daftar Pustaka
- Thomas DW, Greer FR; Committee on Nutrition; Section on Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition. Probiotics and Prebiotics in Pediatrics. Pediatrics. 2010;126(6):1217–1231. doi:10.1542/peds.2010-2548. Reaffirmed March 2021.
- American Academy of Pediatrics. Probiotics and Prebiotics in Pediatrics. Pediatrics. Clinical Report. 2010;126(6):1217–1231.
- Thomas DW, Greer FR. Clinical Report: Probiotics and Prebiotics in Pediatrics. American Academy of Pediatrics; reaffirmed 2021.








Leave a Reply