DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

ESPGHAN Terbitkan Rekomendasi Terbaru: Tidak Semua Probiotik Bermanfaat untuk Gangguan Pencernaan Anak

 

Laporan Ilmiah Internasional

ESPGHAN Terbitkan Rekomendasi Terbaru: Tidak Semua Probiotik Bermanfaat untuk Gangguan Pencernaan Anak

Penggunaan probiotik pada anak semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai produk susu, susu formula, yogurt, hingga suplemen kesehatan mengklaim mampu memperbaiki kesehatan saluran cerna, meningkatkan daya tahan tubuh, bahkan mengatasi berbagai gangguan pencernaan. Namun, European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) mengingatkan bahwa manfaat probiotik tidak dapat digeneralisasi untuk semua penyakit maupun semua jenis probiotik. Dalam Position Paper yang diterbitkan pada tahun 2023, ESPGHAN menegaskan bahwa rekomendasi penggunaan probiotik harus didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat, dengan mempertimbangkan jenis (strain) probiotik, dosis, serta penyakit yang akan ditangani.

Tim ahli ESPGHAN menyusun rekomendasi tersebut berdasarkan telaah sistematis terhadap berbagai penelitian berkualitas tinggi, termasuk randomized controlled trials (RCTs) dan meta-analisis yang dipublikasikan hingga tahun 2021. Berbeda dengan anggapan bahwa semua probiotik memiliki manfaat yang sama, ESPGHAN hanya memberikan rekomendasi apabila suatu strain probiotik telah didukung oleh sedikitnya dua uji klinis acak yang menunjukkan manfaat yang konsisten. Pendekatan ini bertujuan agar penggunaan probiotik benar-benar didasarkan pada bukti ilmiah, bukan sekadar popularitas produk atau klaim pemasaran.

Salah satu rekomendasi terkuat diberikan untuk mencegah diare akibat penggunaan antibiotik (antibiotic-associated diarrhea/AAD). ESPGHAN merekomendasikan penggunaan Saccharomyces boulardii atau Lacticaseibacillus rhamnosus GG (LGG) pada anak yang mendapat terapi antibiotik. Probiotik sebaiknya mulai diberikan bersamaan dengan dimulainya antibiotik dan diteruskan selama pengobatan antibiotik berlangsung. Berdasarkan berbagai penelitian, kedua strain tersebut terbukti dapat menurunkan risiko terjadinya diare akibat gangguan keseimbangan bakteri usus selama terapi antibiotik.

Untuk gastroenteritis akut atau diare akut akibat infeksi, ESPGHAN menegaskan bahwa rehidrasi oral tetap merupakan pengobatan utama. Namun, sebagai terapi tambahan, beberapa probiotik dapat dipertimbangkan karena mampu memperpendek lama diare sekitar satu hari pada sebagian anak. Strain yang direkomendasikan meliputi Saccharomyces boulardii, Lacticaseibacillus rhamnosus GG, Limosilactobacillus reuteri DSM 17938, serta kombinasi Lacticaseibacillus rhamnosus 19070-2 dengan Limosilactobacillus reuteri DSM 12246, yang umumnya diberikan selama lima hari.

Pada kolik bayi yang mendapat ASI eksklusif, ESPGHAN juga menemukan bukti bahwa Limosilactobacillus reuteri DSM 17938 maupun Bifidobacterium lactis BB-12 dapat membantu mengurangi lama menangis apabila diberikan sedikitnya selama 21 hari. Meski demikian, manfaat tersebut terutama terbukti pada bayi yang mendapat ASI, sehingga hasil penelitian belum dapat langsung diterapkan pada bayi yang mengonsumsi susu formula.

Rekomendasi penting lainnya ditujukan kepada bayi prematur. ESPGHAN menyatakan bahwa penggunaan Lacticaseibacillus rhamnosus GG atau kombinasi tiga strain probiotik yang terdiri atas Bifidobacterium infantis BB-02, Bifidobacterium lactis BB-12, dan Streptococcus thermophilus TH-4 dapat dipertimbangkan untuk membantu mencegah necrotizing enterocolitis (NEC), yaitu penyakit usus berat yang dapat mengancam jiwa pada bayi prematur. Namun, pemberian probiotik pada kelompok ini harus dilakukan di fasilitas kesehatan dengan pengawasan yang ketat karena bayi prematur merupakan kelompok yang sangat rentan.

Sebaliknya, ESPGHAN juga menegaskan bahwa tidak semua gangguan pencernaan memerlukan probiotik. Hingga saat ini, belum ditemukan strain probiotik yang terbukti efektif untuk mengatasi konstipasi fungsional (sembelit) pada anak. Selain itu, ESPGHAN belum memberikan rekomendasi mendukung maupun menolak penggunaan probiotik pada kolitis ulseratif, penyakit celiac, maupun pertumbuhan bakteri berlebih di usus halus (small intestinal bacterial overgrowth/SIBO) karena bukti ilmiah yang tersedia masih belum memadai. Untuk pankreatitis, bahkan belum tersedia data yang cukup mengenai penggunaan probiotik pada anak.

Menurut para ahli ESPGHAN, pesan terpenting bagi tenaga kesehatan dan masyarakat adalah bahwa probiotik bukanlah terapi universal. Manfaat probiotik sangat bergantung pada jenis strain, dosis, lama pemberian, serta penyakit yang ditangani. Oleh karena itu, masyarakat tidak sebaiknya memilih probiotik hanya berdasarkan iklan atau label “mengandung probiotik”. Produk yang mengandung strain berbeda belum tentu memberikan manfaat yang sama, meskipun sama-sama disebut probiotik.

ESPGHAN juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk menentukan strain, dosis, dan lama pemberian yang paling efektif pada berbagai penyakit saluran cerna anak. Dengan semakin berkembangnya penelitian mengenai mikrobiota usus, diharapkan rekomendasi di masa mendatang akan semakin spesifik dan mampu membantu dokter memberikan terapi yang lebih tepat sasaran. Hingga saat ini, penggunaan probiotik tetap harus mengikuti indikasi yang telah didukung bukti ilmiah dan tidak menggantikan terapi utama yang telah terbukti efektif

Tabel Rekomendasi ESPGHAN tentang Penggunaan Probiotik pada Gangguan Saluran Cerna Anak

Penyakit/Kondisi Rekomendasi ESPGHAN Strain Probiotik yang Direkomendasikan Tujuan Pemberian Lama Pemberian Tingkat Bukti Catatan Penting
Diare akibat antibiotik (Antibiotic-Associated Diarrhea/AAD) Direkomendasikan Saccharomyces boulardii atau Lacticaseibacillus rhamnosus GG (LGG) Mencegah diare akibat antibiotik Dimulai bersamaan dengan antibiotik hingga antibiotik selesai Tinggi Salah satu rekomendasi terkuat ESPGHAN
Diare akut (Acute Gastroenteritis) Dapat dipertimbangkan Saccharomyces boulardii; Lacticaseibacillus rhamnosus GG; Limosilactobacillus reuteri DSM 17938; kombinasi L. rhamnosus 19070-2 + L. reuteri DSM 12246 Memperpendek lama diare Sekitar 5 hari Sedang–Tinggi Tetap harus disertai terapi rehidrasi oral sebagai pengobatan utama
Kolik pada bayi yang mendapat ASI Direkomendasikan Limosilactobacillus reuteri DSM 17938 atau Bifidobacterium lactis BB-12 Mengurangi lama menangis Minimal 21 hari Sedang Bukti terutama pada bayi yang mendapat ASI eksklusif
Bayi prematur: pencegahan Necrotizing Enterocolitis (NEC) Direkomendasikan dengan pertimbangan klinis Lacticaseibacillus rhamnosus GG atau kombinasi Bifidobacterium infantis BB-02 + Bifidobacterium lactis BB-12 + Streptococcus thermophilus TH-4 Menurunkan risiko NEC Sesuai protokol NICU Sedang Harus digunakan di rumah sakit dengan pengawasan ketat
Konstipasi fungsional (Sembelit) Tidak direkomendasikan Tidak ada strain yang terbukti efektif Tidak ada manfaat yang terbukti Tinggi Belum ada probiotik yang efektif untuk konstipasi
Kolitis ulseratif Belum ada rekomendasi Bukti belum memadai Rendah Perlu penelitian lebih lanjut
Penyakit Celiac Belum ada rekomendasi Bukti belum memadai Rendah Diet bebas gluten tetap menjadi terapi utama
Small Intestinal Bacterial Overgrowth (SIBO) Belum ada rekomendasi Bukti belum memadai Rendah Masih diperlukan penelitian berkualitas tinggi
Pankreatitis Belum ada rekomendasi Belum tersedia data pada anak Sangat rendah Tidak cukup bukti untuk memberikan rekomendasi

Pesan Penting dari ESPGHAN

Poin Utama Penjelasan
Tidak semua probiotik sama Setiap strain memiliki manfaat yang berbeda sehingga hasil penelitian pada satu strain tidak dapat diterapkan pada strain lain.
Harus berdasarkan bukti ilmiah ESPGHAN hanya memberikan rekomendasi bila terdapat sedikitnya dua uji klinis acak (RCT) berkualitas yang menunjukkan manfaat pada strain tertentu.
Probiotik bukan terapi utama Pada diare akut, terapi utama tetap rehidrasi oral; probiotik hanya sebagai terapi tambahan pada indikasi tertentu.
Tidak semua penyakit saluran cerna membutuhkan probiotik Hingga kini belum ada bukti bahwa probiotik bermanfaat pada semua gangguan pencernaan anak.
Pilih strain yang tepat Nama strain (misalnya LGG atau DSM 17938) lebih penting daripada sekadar label “mengandung probiotik”.
Hindari penggunaan sembarangan Produk probiotik tidak boleh dipilih hanya berdasarkan iklan atau klaim promosi.

Kesimpulan

Berdasarkan Position Paper ESPGHAN 2023, probiotik hanya direkomendasikan untuk beberapa kondisi tertentu, yaitu pencegahan diare akibat antibiotik, sebagai terapi tambahan pada diare akut, mengurangi kolik pada bayi yang mendapat ASI, dan membantu mencegah necrotizing enterocolitis (NEC) pada bayi prematur dalam kondisi yang sesuai. Sebaliknya, ESPGHAN tidak merekomendasikan probiotik untuk konstipasi fungsional, serta belum memberikan rekomendasi untuk kolitis ulseratif, penyakit celiac, SIBO, dan pankreatitis karena bukti ilmiahnya masih belum memadai. Oleh karena itu, penggunaan probiotik pada anak harus mempertimbangkan strain yang digunakan, dosis, indikasi klinis, dan kualitas bukti ilmiah, bukan hanya berdasarkan klaim produk.

Daftar Pustaka

  • Szajewska H, Kolodziej M, Gieruszczak-Bialek D, et al.; ESPGHAN Special Interest Group on Gut Microbiota and Modifications. Probiotics for the Management of Pediatric Gastrointestinal Disorders: Position Paper of the ESPGHAN Special Interest Group on Gut Microbiota and Modifications. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2023;76(2):232–247. doi:10.1097/MPG.0000000000003633.
  • Bodke H, Jogdand S. Role of Probiotics in Human Health. Cureus. 2022;14(11):e31313. doi:10.7759/cureus.31313.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *