“Vaksin Difteri, Pertusis, dan Tetanus pada Bayi, Anak, dan Remaja: Perbedaan DPT, DTaP, DT, Td, dan Tdap, Indikasi, Jadwal Imunisasi, Efektivitas Pencegahan, Efek Samping, serta Pilihan Vaksin di Indonesia”
Difteri, pertusis, dan tetanus merupakan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan komplikasi berat pada bayi, anak, dan remaja. Imunisasi merupakan strategi utama untuk mencegah ketiga penyakit tersebut. Vaksin yang mengandung antigen difteri, pertusis, dan tetanus tersedia dalam beberapa formulasi, antara lain DPT, DTaP, DT, Td, dan Tdap. Perbedaan utama terletak pada jenis antigen pertusis, konsentrasi toksoid difteri, kombinasi antigen, serta kelompok usia penggunaannya. Pada bayi dan anak kecil, vaksin dengan komponen pertusis umumnya diberikan sebagai bagian dari seri imunisasi primer. DTaP menggunakan komponen pertusis aseluler, sedangkan DPT dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia sering merujuk pada vaksin dengan komponen difteri, pertusis, dan tetanus. DT tidak mengandung antigen pertusis dan digunakan pada kondisi atau kelompok usia tertentu. Td mengandung toksoid difteri dosis rendah dan tetanus, sedangkan Tdap mengandung toksoid difteri dosis rendah, tetanus, serta pertusis aseluler.
Pemberian vaksin harus mengikuti usia, riwayat imunisasi, jenis vaksin yang tersedia, interval antar dosis, serta kebijakan imunisasi nasional. Di Indonesia, imunisasi lanjutan pada anak sekolah dilaksanakan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau BIAS. Pemahaman mengenai perbedaan DPT, DTaP, DT, Td, dan Tdap penting agar orang tua dapat memilih imunisasi yang tepat dan menghindari kesalahan jadwal atau penggunaan vaksin.
Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae yang menghasilkan toksin. Toksin tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan lokal dan komplikasi sistemik seperti miokarditis serta gangguan saraf. Pertusis disebabkan oleh Bordetella pertussis. Penyakit ini ditandai batuk berat dan berulang yang dapat berlangsung selama beberapa minggu. Bayi merupakan kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi berat, termasuk apnea, pneumonia, kejang, ensefalopati, dan kematian. Tetanus disebabkan oleh toksin yang dihasilkan Clostridium tetani. Bakteri dapat masuk melalui luka dan menghasilkan toksin yang menyebabkan kekakuan otot serta spasme yang dapat mengganggu pernapasan. Ketiga penyakit tersebut dapat dicegah dengan vaksinasi. Perlindungan membutuhkan seri imunisasi primer dan dosis penguat karena kadar antibodi dapat menurun seiring waktu.
PERBEDAAN DPT, DTaP, DT, Td, DAN Tdap
- Istilah DPT, DTaP, DT, Td, dan Tdap tidak menunjukkan vaksin yang sama.
- DPT merupakan vaksin yang mengandung antigen difteri, pertusis, dan tetanus. Dalam praktik di Indonesia, istilah DPT sering digunakan untuk menyebut vaksin kombinasi yang diberikan pada bayi dan anak.
- DTaP mengandung toksoid difteri dan tetanus serta antigen pertusis aseluler. Kandungan difterinya lebih tinggi dibandingkan vaksin yang menggunakan simbol “d” kecil.
- DT tidak mengandung komponen pertusis. Vaksin ini mengandung difteri dan tetanus dengan formulasi yang digunakan terutama pada anak dalam kondisi atau program tertentu.
- Td mengandung toksoid tetanus dan toksoid difteri dalam dosis lebih rendah. Huruf “d” kecil menunjukkan konsentrasi toksoid difteri yang lebih rendah.
- Tdap juga menggunakan toksoid difteri dosis rendah dan tetanus, tetapi ditambah komponen pertusis aseluler. Vaksin ini terutama digunakan sebagai booster pada anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa sesuai rekomendasi.
TABEL PERBEDAAN VAKSIN
| Vaksin | Difteri | Pertusis | Tetanus | Karakteristik utama |
|---|---|---|---|---|
| DPT | Ada | Ada | Ada | Vaksin kombinasi klasik |
| DTaP | Dosis lebih tinggi | Aseluler | Ada | Umumnya digunakan pada bayi dan anak |
| DT | Dosis anak | Tidak ada | Ada | Tidak memberikan perlindungan pertusis |
| Td | Dosis rendah | Tidak ada | Ada | Booster untuk usia lebih besar |
| Tdap | Dosis rendah | Aseluler | Ada | Booster untuk anak besar, remaja, dan dewasa |
INDIKASI VAKSINASI
- Indikasi utama vaksinasi DPT, DTaP, DT, Td, atau Tdap adalah memberikan perlindungan terhadap difteri dan tetanus, serta pertusis bila vaksin mengandung antigen pertusis.
- Pada bayi, vaksin dengan komponen pertusis sangat penting karena pertusis dapat menyebabkan penyakit berat pada usia dini.
- Pada anak, vaksin diberikan untuk menyelesaikan seri primer dan mempertahankan perlindungan melalui booster.
- Pada usia sekolah, imunisasi lanjutan diperlukan karena kekebalan terhadap beberapa penyakit dapat menurun setelah beberapa tahun.
- Pada remaja, Tdap atau Td dapat digunakan sebagai vaksin penguat sesuai jadwal dan riwayat imunisasi.
- Vaksin juga dapat diberikan sebagai imunisasi kejar pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
PENCEGAHAN PENYAKIT
Vaksinasi DPT atau DTaP membantu mencegah tiga penyakit utama.
- DIFTERI
- Difteri dapat menyebabkan terbentuknya pseudomembran pada tenggorokan. Kondisi berat dapat menyebabkan sumbatan jalan napas. Toksin difteri juga dapat merusak jantung dan sistem saraf.
- Pencegahan utama adalah imunisasi lengkap dan mempertahankan cakupan imunisasi populasi yang tinggi.
- PERTUSIS
- Pertusis dapat menyebabkan batuk paroksismal yang berat. Pada bayi, penyakit dapat muncul sebagai apnea atau kesulitan bernapas tanpa batuk khas.
- Komplikasi meliputi pneumonia, kejang, ensefalopati, penurunan berat badan, dehidrasi, dan kematian terutama pada bayi muda.
- TETANUS
- Tetanus menyebabkan kekakuan otot dan spasme. Spasme dapat mengenai otot rahang sehingga terjadi trismus atau “lockjaw”.
- Tetanus tidak menular langsung dari satu manusia ke manusia lain. Bakteri masuk melalui luka yang terkontaminasi.
TANDA DAN GEJALA PENYAKIT
| Penyakit | Tanda dan gejala utama | Komplikasi |
|---|---|---|
| Difteri | Nyeri tenggorokan, demam, lemah, pseudomembran pada tenggorokan | Sumbatan jalan napas, miokarditis, neuropati, kematian |
| Pertusis | Batuk berulang, paroksismal, muntah setelah batuk, apnea pada bayi | Pneumonia, kejang, ensefalopati, dehidrasi |
| Tetanus | Kaku rahang, kaku otot, spasme, sulit menelan | Gagal napas, fraktur, gangguan otonom, kematian |
JADWAL IMUNISASI PADA BAYI DAN ANAK
Imunisasi primer dimulai pada masa bayi. Jadwal aktual dapat berbeda sesuai program nasional, rekomendasi IDAI, jenis vaksin, dan riwayat imunisasi anak.
Secara umum, vaksin dengan komponen difteri, pertusis, dan tetanus diberikan beberapa kali pada masa bayi, kemudian dilanjutkan dengan dosis booster pada masa anak.
| Kelompok usia | Vaksin yang dapat digunakan | Tujuan |
|---|---|---|
| Bayi | DPT-HB-Hib atau vaksin kombinasi yang mengandung DTaP | Seri primer |
| 2 bulan | DPT-HB-Hib atau DTaP kombinasi | Dosis primer |
| 3 bulan | DPT-HB-Hib atau DTaP kombinasi | Dosis primer |
| 4 bulan | DPT-HB-Hib atau DTaP kombinasi | Dosis primer |
| 18 bulan | DPT-HB-Hib | Booster |
| Usia sekolah | DT atau Td melalui BIAS sesuai program | Booster |
| Kelas 1 SD | DT | Booster program sekolah |
| Kelas 2 SD | Td | Booster program sekolah |
| Kelas 5 SD | Td | Booster program sekolah |
| Remaja | Tdap atau Td | Booster sesuai riwayat imunisasi |
Program BIAS merupakan bagian dari strategi imunisasi rutin anak sekolah. Sasaran dan jenis vaksin dapat diperbarui sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan.
Jadwal individual tidak boleh ditentukan hanya berdasarkan usia. Dokter perlu memeriksa vaksin yang sudah diterima dan interval antar dosis.
IMUNISASI KEJAR
Anak yang terlambat mendapatkan vaksin tidak otomatis harus mengulang seluruh seri.
Dokter dapat menentukan dosis berikutnya berdasarkan:
- Usia anak.
- Jenis vaksin yang sudah diberikan.
- Jumlah dosis sebelumnya.
- Interval antar dosis.
- Kondisi medis anak.
- Ketersediaan vaksin.
- Rekomendasi imunisasi yang berlaku.
Imunisasi kejar sangat penting untuk anak yang tidak memiliki catatan imunisasi lengkap.
PILIHAN VAKSIN DI FASILITAS SWASTA
Beberapa produk vaksin yang mengandung komponen difteri, pertusis, dan tetanus tersedia dalam bentuk kombinasi.
| Produk | Komponen utama | Kelompok penggunaan |
|---|---|---|
| Tetraxim | DTaP-IPV | Anak |
| Infanrix-Hib-IPV | DTaP-Hib-IPV | Anak |
| Infanrix Hexa | DTaP-Hib-IPV-HepB | Bayi dan anak sesuai usia produk |
| Hexaxim | DTaP-Hib-IPV-HepB | Bayi dan anak sesuai usia produk |
| Adacel | Tdap | Anak lebih besar, remaja, dewasa |
| Td/DT program | Difteri dan tetanus | Sesuai program nasional |
Tidak semua produk dapat dipertukarkan secara bebas pada setiap jadwal. Dokter perlu mempertimbangkan formulasi vaksin, usia, dosis sebelumnya, dan rekomendasi produk.
HARGA VAKSIN DI JAKARTA TAHUN 2026
Harga vaksin swasta berbeda antar fasilitas kesehatan. Harga juga dapat berubah karena ketersediaan produk, jasa dokter, biaya administrasi, serta jenis layanan.
Contoh price list vaksinasi 2026 menunjukkan kisaran harga sebagai berikut:
| Vaksin | Contoh merek | Perkiraan harga 2026 |
|---|---|---|
| DTaP-IPV | Tetraxim | Rp705.000 |
| DTaP-Hib-IPV | Infanrix-Hib-IPV | Rp855.000 |
| DTaP-Hib-IPV-HepB | Infanrix Hexa | Rp1.055.000 |
| DTaP-Hib-IPV-HepB | Hexaxim | Rp1.105.000 |
| Tdap | Adacel | Rp660.000 |
Harga tersebut merupakan contoh harga layanan swasta dan bukan tarif nasional. Imunisasi yang diberikan melalui program pemerintah memiliki mekanisme pembiayaan tersendiri.
EFEK SAMPING VAKSIN
Sebagian besar efek samping bersifat ringan dan sementara.
| Vaksin | Efek samping yang sering |
|---|---|
| DPT | Demam, nyeri suntikan, rewel |
| DTaP | Nyeri, kemerahan, bengkak, demam |
| DT | Nyeri dan bengkak pada lokasi suntikan |
| Td | Nyeri, kemerahan, bengkak |
| Tdap | Nyeri suntikan, lelah, sakit kepala, demam ringan |
Efek samping biasanya membaik dalam beberapa hari.
Reaksi alergi berat seperti anafilaksis sangat jarang. Vaksinasi harus dilakukan di fasilitas yang mampu mengenali dan menangani reaksi alergi akut.
KONTRAINDIKASI DAN KEHATI-HATIAN
- Kontraindikasi harus ditentukan berdasarkan jenis vaksin.
- Riwayat anafilaksis terhadap dosis sebelumnya atau komponen vaksin merupakan kontraindikasi penting.
- Untuk vaksin yang mengandung pertusis, ensefalopati yang tidak dapat dijelaskan dalam 7 hari setelah dosis sebelumnya yang mengandung pertusis menjadi pertimbangan kontraindikasi terhadap komponen pertusis.
- Anak dengan penyakit akut sedang atau berat dapat memerlukan penundaan vaksinasi sampai kondisinya membaik.
- Demam ringan atau infeksi ringan umumnya bukan alasan otomatis untuk menunda imunisasi.
SARAN UNTUK ORANG TUA
- Periksa buku imunisasi anak sebelum memberikan vaksin berikutnya.
- Jangan menganggap imunisasi selesai setelah bayi mendapatkan seri dasar.
- Pastikan anak mendapatkan booster sesuai usia dan program imunisasi.
- Jika imunisasi terlambat, konsultasikan untuk imunisasi kejar. Jangan mengulang seluruh rangkaian tanpa alasan medis.
- Untuk anak usia sekolah, pastikan imunisasi BIAS sudah diterima sesuai sasaran.
- Untuk remaja, evaluasi kebutuhan Tdap atau Td berdasarkan riwayat imunisasi.
- Simpan catatan setiap vaksin, termasuk tanggal, jenis vaksin, dan merek bila tersedia.
- Jangan memilih vaksin hanya berdasarkan harga. Perhatikan antigen yang terkandung, usia penggunaan, jumlah dosis, dan jadwal.
- Jika anak mengalami reaksi berat setelah imunisasi, segera lakukan evaluasi medis.
KESIMPULAN
- DPT, DTaP, DT, Td, dan Tdap merupakan kelompok vaksin yang memiliki fungsi berbeda berdasarkan komposisi antigen dan kelompok usia penggunaannya. DPT dan DTaP terutama digunakan untuk imunisasi primer pada bayi dan anak, sedangkan DT, Td, dan Tdap digunakan pada situasi dan kelompok usia tertentu, terutama sebagai imunisasi lanjutan atau booster.
- Perlindungan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus membutuhkan imunisasi yang sesuai usia dan dosis penguat. Pada anak sekolah, program BIAS berperan penting dalam mempertahankan perlindungan. Pada remaja, Tdap atau Td dapat menjadi bagian dari imunisasi lanjutan.
- Keputusan vaksinasi harus mempertimbangkan usia, riwayat imunisasi, jenis vaksin, interval dosis, kondisi kesehatan, serta rekomendasi nasional dan profesional.








Leave a Reply