- KELAINAN REFRAKSI PADA ANAK: DIAGNOSIS DINI DAN PENCEGAHAN GANGGUAN PENGLIHATAN
- Rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme perlu dideteksi sejak dini untuk mencegah gangguan perkembangan penglihatan, termasuk ambliopia.
Pengertian dan Jenis Kelainan Refraksi
- Kelainan refraksi (refractive error) merupakan gangguan optik ketika cahaya yang masuk ke mata tidak difokuskan secara tepat pada retina sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Kondisi ini berkaitan dengan panjang bola mata, kelengkungan kornea, dan kekuatan lensa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kelainan refraksi yang tidak terkoreksi sebagai salah satu penyebab utama gangguan penglihatan pada anak maupun orang dewasa.
- Terdapat tiga jenis kelainan refraksi yang umum ditemukan pada anak. Miopia (rabun jauh) terjadi ketika bayangan benda jauh terfokus di depan retina sehingga penglihatan jarak jauh menjadi kabur. Hipermetropia (rabun dekat) terjadi ketika sistem optik mata cenderung memfokuskan bayangan di belakang retina; anak dapat mengompensasinya melalui akomodasi, tetapi hipermetropia yang bermakna dapat menyebabkan mata lelah, penglihatan kabur, atau gangguan kesejajaran mata. Astigmatisme terjadi akibat perbedaan kelengkungan kornea atau lensa pada berbagai meridian sehingga cahaya tidak terfokus secara merata.
- Kelainan tersebut dapat terjadi secara tunggal atau bersamaan. Derajat gangguan, usia anak, dan perbedaan kekuatan refraksi antara kedua mata turut menentukan dampaknya terhadap fungsi penglihatan.
Gejala Klinis dan Dampak terhadap Perkembangan
- Anak dengan kelainan refraksi dapat menunjukkan perilaku seperti memicingkan mata, mendekatkan buku ke wajah, duduk terlalu dekat dengan televisi, kesulitan melihat tulisan di papan kelas, atau mengeluh sakit kepala setelah membaca. Namun, sebagian anak tidak menunjukkan keluhan yang jelas, terutama apabila gangguan hanya terjadi pada satu mata.
- Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi dapat mengurangi ketajaman penglihatan dan menghambat kenyamanan anak saat belajar serta beraktivitas. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko ambliopia, yaitu gangguan perkembangan penglihatan pada satu atau kedua mata selama masa kanak-kanak. Ambliopia dapat terjadi ketika otak menerima gambaran yang tidak jelas secara terus-menerus, misalnya akibat kelainan refraksi berat, perbedaan refraksi yang besar antara kedua mata (anisometropia), atau strabismus (mata juling).
- Ambliopia perlu dikenali sedini mungkin karena penanganan pada masa perkembangan penglihatan umumnya lebih efektif dibandingkan setelah sistem penglihatan matang. Kesulitan belajar sendiri bukan bukti adanya kelainan refraksi; pemeriksaan mata diperlukan untuk memastikan apakah gangguan penglihatan berperan.
- Skrining dan Pemeriksaan Mata Berdasarkan Usia
- Skrining penglihatan merupakan bagian penting dari pemantauan kesehatan anak. Pemeriksaan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak bekerja sama. American Academy of Ophthalmology (AAO) dan American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS) merekomendasikan penilaian penglihatan sejak bayi, selama masa prasekolah, dan secara berkala pada usia sekolah.
Sebagai panduan umum:
- Bayi baru lahir hingga 12 bulan: pemeriksaan struktur mata, pupil, refleks merah (red reflex), serta kemampuan mata mengikuti objek sesuai tahap perkembangan.
- Usia 1–3 tahun: pemeriksaan kesehatan dan kesejajaran mata; skrining berbasis instrumen, seperti photoscreening, dapat digunakan apabila anak belum mampu menjalani tes ketajaman penglihatan konvensional.
- Usia 3–5 tahun: skrining ketajaman penglihatan menggunakan bagan yang sesuai usia atau instrumen yang tervalidasi. Anak yang gagal dalam skrining perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
- Usia 5 tahun ke atas: skrining penglihatan umumnya diulang setiap 1–2 tahun, atau lebih sering jika terdapat keluhan, faktor risiko, atau hasil pemeriksaan sebelumnya abnormal.
- Jadwal tersebut merupakan panduan skrining, bukan jadwal wajib pemeriksaan lengkap untuk setiap anak. Anak yang memiliki gejala atau faktor risiko memerlukan evaluasi tanpa menunggu jadwal berikutnya.
- Pemeriksaan diagnostik dapat meliputi pengukuran ketajaman penglihatan setiap mata secara terpisah, pemeriksaan kesejajaran dan gerakan mata, evaluasi struktur mata, serta pengukuran refraksi. Pada anak, dokter mata dapat melakukan refraksi sikloplegik, yaitu pengukuran refraksi setelah pemberian tetes mata untuk sementara mengurangi kemampuan akomodasi. Pemeriksaan ini membantu memperoleh hasil yang lebih akurat, terutama dalam menilai hipermetropia.
- Skrining tidak sama dengan diagnosis. Hasil skrining yang normal juga tidak sepenuhnya menyingkirkan semua penyakit mata.
Penanganan dan Upaya Mengurangi Risiko Miopia
- Penanganan utama kelainan refraksi adalah koreksi optik menggunakan kacamata dengan ukuran yang sesuai. Kacamata membantu memfokuskan cahaya pada retina sehingga ketajaman penglihatan membaik. Pada anak dengan ambliopia, dokter mata dapat memberikan terapi tambahan, seperti penutupan sementara mata yang lebih baik (patching) atau terapi lain sesuai penyebab dan tingkat gangguan.
- Pada anak dengan miopia progresif, dokter mata dapat mempertimbangkan metode pengendalian miopia, termasuk lensa optik khusus atau atropin dosis rendah pada kondisi tertentu. Pemilihan terapi harus dilakukan secara individual dengan mempertimbangkan bukti manfaat, potensi efek samping, usia, dan kebutuhan anak.
- WHO menyarankan peningkatan aktivitas di luar ruangan pada siang hari, jeda berkala dari aktivitas melihat dekat, serta penggunaan koreksi penglihatan sesuai resep. WHO menyebut aktivitas luar ruangan sekitar 90 menit sehari sebagai salah satu strategi yang dapat membantu mengurangi risiko miopia pada anak. Langkah tersebut tidak menjamin miopia dapat dicegah sepenuhnya dan tidak menggantikan pemeriksaan mata.
- Tanda Bahaya: Kapan Harus Segera ke Dokter?
- Perubahan penglihatan yang mendadak, kehilangan penglihatan, nyeri mata berat, cedera mata, atau penglihatan ganda yang baru muncul memerlukan evaluasi medis segera. Kilatan cahaya atau munculnya banyak bintik melayang secara tiba-tiba juga perlu dinilai segera.
- Pada bayi dan anak, refleks merah yang tampak putih atau tidak simetris, mata juling yang baru muncul, serta ketidakmampuan mengikuti objek sesuai tahap perkembangan perlu segera dievaluasi oleh tenaga kesehatan mata. Jika mata terkena bahan kimia, segera bilas dengan air bersih mengalir dan cari pertolongan medis.
Kesimpulan
- Kelainan refraksi pada anak merupakan gangguan optik yang dapat dikoreksi, tetapi keterlambatan diagnosis dapat berdampak pada perkembangan penglihatan, terutama jika disertai ambliopia. Skrining sesuai usia, pemeriksaan diagnostik ketika diperlukan, koreksi refraksi yang tepat, dan pemantauan berkala merupakan langkah utama untuk menjaga fungsi penglihatan anak. Orang tua dan guru perlu mengenali gejala dini tanpa langsung menganggap kesulitan melihat sebagai masalah perilaku atau motivasi belajar.
Referensi utama
- World Health Organization (WHO). Eye care, vision impairment and blindness: Refractive errors.
- American Academy of Ophthalmology (AAO). Vision Screening.
- American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus (AAPOS). Vision Screening Recommendations.
- American Academy of Ophthalmology. Pediatric Eye Evaluations Preferred Practice Pattern.











Leave a Reply