- Waspada Lonjakan ISPA pada Anak: Dampak Kabut Asap Karhutla, Risiko Influenza, dan Upaya Perlindungan Bayi serta Balita
- Artikel ilmiah populer untuk orang tua dan tenaga kesehatan anak
- dr Sandiaz Yudhasmara, dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak menjadi perhatian kesehatan masyarakat ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan pencemaran udara. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 62.400 kasus atau 22,5% terjadi pada anak usia 0 sampai 5 tahun. Data ini menunjukkan besarnya beban penyakit pernapasan pada kelompok usia dini di wilayah terdampak. Asap kebakaran mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai polutan yang dapat mengiritasi saluran napas, memperburuk asma, dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Namun, data ISPA tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh asap atau influenza. Pencegahan membutuhkan pengurangan paparan polusi, pemantauan gejala, imunisasi sesuai rekomendasi, serta deteksi dini pneumonia dan gangguan pernapasan berat.
Bayi dan balita memiliki saluran pernapasan yang masih berkembang sehingga memerlukan perlindungan khusus ketika kualitas udara memburuk. Pada periode Agustus hingga Oktober 2026, Kementerian Kesehatan meningkatkan pemantauan ISPA di tujuh provinsi terdampak karhutla. Paparan asap dapat memicu batuk, iritasi saluran napas, sesak, dan kekambuhan asma. Pada saat yang sama, virus pernapasan seperti influenza juga dapat menyebabkan infeksi yang memerlukan penilaian klinis tersendiri. Karena ISPA merupakan istilah luas yang mencakup berbagai penyakit dan penyebab, peningkatan jumlah kasus perlu ditafsirkan berdasarkan data surveilans, kondisi lingkungan, gejala pasien, dan hasil pemeriksaan bila tersedia. Upaya perlindungan harus mencakup pencegahan paparan asap, pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi, imunisasi, serta pengenalan tanda bahaya sejak dini.
Data Kemenkes: Beban ISPA pada bayi dan balita
- Data yang tersedia menunjukkan peningkatan kumulatif kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla selama Agustus hingga Oktober 2026.
- Data Kemenkes per 12 Oktober 2026 277.075
- Kasus ISPA kumulatif di tujuh provinsi 62.400
- Kasus pada anak usia 0 sampai 5 tahun
- Proporsi kasus pada anak usia 0 sampai 5 tahun 22,5%
- Sumber: Kemenkes RI, diberitakan ANTARA pada 14 Oktober 2026.
- Angka tersebut merupakan jumlah kasus kumulatif yang dilaporkan, bukan jumlah kasus baru dalam satu hari. Data ini juga tidak berarti seluruh pasien mengalami penyakit berat atau harus dirawat di rumah sakit.
- Laporan BNPB pada 22 Oktober 2026 kemudian menyebut akumulasi 333.470 kasus ISPA di wilayah terdampak, termasuk 75.172 kasus pada kelompok usia 0 sampai 5 tahun sejak 18 Agustus 2026. Perbedaan angka ini menunjukkan pentingnya memperhatikan tanggal pelaporan dan periode pengumpulan data ketika membandingkan perkembangan kasus.
Mengapa bayi dan balita lebih rentan terhadap asap karhutla?
- Asap karhutla mengandung campuran partikel halus dan gas berbahaya. Salah satu komponen yang menjadi perhatian adalah PM2.5, yaitu partikel dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.
- Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan asap dapat menimbulkan iritasi, batuk, mengi, sesak napas, serta memperburuk asma yang sudah ada. WHO menyebut anak-anak sebagai kelompok rentan karena paru-paru, sistem kekebalan, dan organ tubuh mereka masih berkembang.
- Beberapa faktor yang meningkatkan kerentanan anak meliputi:
-
- Saluran napas anak lebih kecil daripada orang dewasa.
- Anak bernapas lebih cepat dan menghirup lebih banyak udara dibandingkan orang dewasa jika dihitung berdasarkan berat badan.
- Bayi belum mampu menjelaskan keluhan sesak atau rasa tidak nyaman.
- Anak dengan asma atau penyakit paru kronis dapat mengalami perburukan gejala.
- Paparan yang berulang dapat meningkatkan gangguan pernapasan selama kualitas udara buruk
- Dampak asap tidak terbatas pada ISPA. Anak juga dapat mengalami iritasi mata, sakit tenggorokan, dan kekambuhan asma.
ISPA, influenza, dan dampak polusi udara tidak sama
Istilah ISPA mencakup berbagai infeksi saluran pernapasan. Penyebabnya dapat berupa virus, bakteri, atau patogen lain. Sementara itu, asap karhutla merupakan faktor lingkungan yang dapat mengiritasi saluran napas dan memperburuk penyakit pernapasan.
| Kondisi | Penyebab atau pemicu | Gejala yang dapat muncul |
|---|---|---|
| ISPA akibat virus | Infeksi virus pernapasan | Pilek, batuk, sakit tenggorokan, kadang demam |
| Influenza | Virus influenza | Demam, batuk, nyeri badan, lemas, sakit kepala |
| Iritasi akibat asap | PM2.5 dan polutan lain | Batuk, mata perih, tenggorokan teriritasi, sesak |
| Kekambuhan asma | Peradangan dan penyempitan saluran napas, dapat dipicu asap | Mengi, batuk berulang, dada terasa sesak |
| Pneumonia | Infeksi paru akibat berbagai patogen | Napas cepat, tarikan dinding dada, demam, kesulitan minum |
- Gejala-gejala tersebut dapat tumpang tindih. Anak yang mengalami batuk setelah terpapar asap belum tentu mengalami infeksi. Sebaliknya, adanya kabut asap tidak menyingkirkan kemungkinan influenza atau pneumonia.
- Data peningkatan ISPA juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kasus influenza meningkat dengan besaran yang sama. Peningkatan influenza perlu dikonfirmasi melalui data surveilans influenza atau pemeriksaan yang sesuai.
Cara melindungi bayi dan anak selama kabut asap
- Kurangi paparan di luar ruangan
- Batasi bermain, berolahraga, dan kegiatan luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Pantau informasi kualitas udara dan ikuti arahan pemerintah setempat.
- Jaga udara dalam rumah
- Tutup pintu dan jendela saat udara luar berasap, jika kondisi rumah tetap aman dan tidak terlalu panas. Gunakan penyaring udara HEPA jika tersedia. Hindari rokok, dupa, lilin, dan kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap.
- Siapkan obat anak dengan asma
- Ikuti rencana pengobatan yang dibuat dokter. Pastikan obat rutin dan obat pelega tersedia sesuai resep. Jangan mengubah dosis sendiri.
- Pantau gejala setiap hari
- Perhatikan pola napas, kemampuan menyusu, asupan minum, aktivitas, dan jumlah buang air kecil. Segera periksakan anak jika gejala memburuk.
- WHO dan CDC menganjurkan pengurangan aktivitas luar ruangan, perlindungan udara dalam rumah, dan pemantauan gejala selama episode asap kebakaran. Masker tidak menggantikan upaya mengurangi paparan. Bayi tidak boleh dipakaikan masker. Pada anak yang lebih besar, respirator hanya bermanfaat jika ukurannya sesuai dan dapat digunakan dengan benar.
Apakah anak perlu antibiotik, obat batuk, atau vitamin?
Tidak semua batuk dan ISPA memerlukan obat.
| Terapi | Kapan dipertimbangkan |
|---|---|
| Oralit atau cairan yang cukup | Jika asupan cairan berkurang atau anak kehilangan cairan |
| Saline hidung | Membantu mengencerkan lendir hidung |
| Parasetamol | Untuk demam atau nyeri sesuai dosis dan usia |
| Obat asma | Jika anak memiliki asma, sesuai rencana dokter |
| Antibiotik | Jika dokter menemukan indikasi infeksi bakteri |
| Antivirus influenza | Untuk pasien tertentu sesuai usia, risiko, waktu timbul gejala, dan penilaian dokter |
| Vitamin atau suplemen | Sesuai kebutuhan nutrisi dan indikasi, bukan pengganti pengobatan |
- Antibiotik tidak mengobati infeksi virus dan tidak mengatasi iritasi akibat asap. Obat batuk bebas juga tidak dianjurkan untuk diberikan sembarangan kepada bayi dan anak kecil. Anak yang berisiko mengalami influenza berat perlu dinilai dokter lebih awal untuk menentukan apakah antivirus diperlukan.
Tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera
- Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami:
-
- Napas cepat atau sulit bernapas.
- Dada tertarik ke dalam ketika menarik napas.
- Bibir atau wajah membiru.
- Tidak mampu menyusu atau minum.
- Sangat lemas, sulit dibangunkan, atau kesadaran menurun.
- Sesak atau mengi yang memburuk, terutama pada anak dengan asma.
- Demam pada bayi berusia di bawah 3 bulan dengan suhu 38°C atau lebih
- Jika anak mengalami gangguan napas berat, jangan menunda pertolongan untuk mencoba pengobatan rumahan.
Kesimpulan ilmiah
- Data Kemenkes pada Oktober 2026 menunjukkan besarnya beban ISPA di wilayah terdampak karhutla, termasuk pada bayi dan balita. Asap yang mengandung PM2.5 dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan dan memperburuk asma. Namun, ISPA, influenza, dan gangguan akibat polusi udara merupakan kondisi yang berbeda dan perlu dinilai secara tepat.
- Perlindungan anak memerlukan kerja sama keluarga, tenaga kesehatan, sekolah, dan pemerintah. Mengurangi paparan asap, menjaga udara dalam rumah, memantau gejala, memberikan imunisasi sesuai rekomendasi, serta mencari pertolongan ketika muncul tanda bahaya merupakan langkah utama untuk mengurangi risiko komplikasi.
Daftar pustaka
- 1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes Siap Siaga Hadapi Dampak Karhutla, 848 Tenaga Kesehatan Dimobilisasi. 29 Agustus 2026. Baca laporan Kemenkes.
- 2. ANTARA. Kemenkes pantau kasus ISPA untuk perkuat respons kesehatan. 14 Oktober 2026. Baca laporan ANTARA.
- 3. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Akses Pelayanan Kesehatan Warga Terdampak Asap Karhutla. 22 Oktober 2026. Baca laporan BNPB.
- 4. World Health Organization. Wildfires. 31 Juli 2026. Baca fakta ilmiah WHO tentang kebakaran hutan dan kesehatan.
- 5. Centers for Disease Control and Prevention. Wildfire Smoke and Children. Diperbarui 24 Agustus 2026. Baca panduan CDC untuk melindungi anak.
- 6. UNICEF. Safe from Wildfire Smoke. Baca panduan perlindungan anak dari asap kebakaran.












Leave a Reply