Penanganan Kejang pada Bayi dan Anak: Pendekatan Berbasis Evidence-Based Medicine Menurut AAP, ILAE, PALS, WHO, dan IDAI
Kejang merupakan salah satu kegawatdaruratan neurologi yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak serta menjadi penyebab utama kunjungan ke instalasi gawat darurat pediatrik. Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari kejang demam sederhana yang bersifat jinak hingga status epileptikus, infeksi sistem saraf pusat, gangguan metabolik, trauma kepala, stroke, keracunan, maupun epilepsi. Penatalaksanaan yang cepat dan sistematis sangat penting untuk mencegah hipoksia, cedera neuron sekunder, edema serebri, serta komplikasi neurologis jangka panjang. Pendekatan modern menekankan stabilisasi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABCDE), penghentian kejang sedini mungkin, identifikasi penyebab yang mendasari, serta terapi definitif sesuai etiologi.
Pedoman terbaru dari International League Against Epilepsy (ILAE), American Academy of Pediatrics (AAP), American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian benzodiazepin sebagai terapi lini pertama untuk kejang yang berlangsung ≥5 menit, diikuti obat antiepilepsi lini kedua seperti levetiracetam, fosphenytoin, fenitoin, atau fenobarbital bila kejang menetap. Pada status epileptikus refrakter diperlukan terapi intensif menggunakan infus anestetik serta ventilasi mekanik di unit perawatan intensif anak (PICU). Artikel ini mengulas secara sistematis definisi, epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, tata laksana berbasis bukti, prognosis, dan pencegahan kejang pada bayi dan anak berdasarkan rekomendasi internasional terkini.
Pendahuluan
Kejang merupakan manifestasi aktivitas listrik abnormal yang terjadi secara berlebihan dan sinkron di korteks serebri sehingga menimbulkan gangguan fungsi neurologis sementara berupa perubahan kesadaran, aktivitas motorik, sensorik, otonom, maupun perilaku. Pada bayi dan anak, kejang merupakan keadaan gawat darurat yang memerlukan evaluasi dan penanganan segera karena dapat menjadi manifestasi berbagai penyakit serius, termasuk meningitis, ensefalitis, hipoglikemia, gangguan elektrolit, trauma kepala, keracunan, stroke, maupun epilepsi. Selain menyebabkan gangguan oksigenasi otak, kejang yang berlangsung lama dapat mengakibatkan eksitotoksisitas neuron, edema serebri, kerusakan jaringan otak permanen, bahkan kematian apabila tidak ditangani secara tepat.
Kemajuan dalam bidang neurofisiologi, pencitraan otak, farmakologi antiepilepsi, dan resusitasi anak telah mengubah paradigma penatalaksanaan kejang dalam beberapa dekade terakhir. Saat ini, pendekatan berbasis evidence-based medicine menekankan penghentian kejang sedini mungkin, idealnya sebelum mencapai lima menit, karena risiko berkembang menjadi status epileptikus meningkat secara bermakna setelah durasi tersebut. Di samping terapi antikejang, keberhasilan penatalaksanaan sangat bergantung pada identifikasi dan koreksi penyebab yang mendasari, seperti hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi, atau kelainan metabolik. Oleh karena itu, setiap tenaga kesehatan yang menangani kegawatdaruratan anak harus memahami algoritma penatalaksanaan kejang sesuai pedoman internasional agar dapat memberikan terapi yang cepat, aman, dan efektif serta meningkatkan luaran neurologis jangka panjang pasien.
Definisi
Kejang adalah manifestasi klinis akibat aktivitas listrik abnormal, berlebihan, dan sinkron pada neuron korteks serebri yang menimbulkan gangguan fungsi motorik, sensorik, otonom, perilaku, maupun kesadaran. Pada bayi dan anak, kejang dapat terjadi akibat berbagai penyebab, antara lain kejang demam, epilepsi, infeksi sistem saraf pusat, gangguan metabolik, trauma kepala, stroke, keracunan, atau penyakit genetik. Kejang dibedakan menjadi kejang fokal dan kejang generalisata berdasarkan klasifikasi International League Against Epilepsy (ILAE) 2022. Kejang yang berlangsung terus-menerus atau berulang tanpa pemulihan kesadaran disebut status epileptikus, suatu kegawatdaruratan neurologi yang memerlukan terapi segera.
Secara fisiologis, aktivitas listrik otak normal dijaga oleh keseimbangan antara neurotransmiter eksitatorik (glutamat) dan inhibitorik (GABA). Ketidakseimbangan kedua sistem tersebut menyebabkan hiperaktivitas neuron sehingga timbul bangkitan kejang. Semakin lama kejang berlangsung, semakin besar risiko hipoksia serebral, edema otak, kerusakan neuron permanen, hingga kematian. Oleh karena itu, setiap kejang yang berlangsung ≥5 menit harus dianggap sebagai status epileptikus dan segera diberikan terapi antikejang.
Epidemiologi
Kejang merupakan salah satu penyebab tersering kegawatdaruratan neurologi pada anak. Diperkirakan sekitar 8–10% anak akan mengalami setidaknya satu episode kejang sebelum usia 16 tahun. Kejang demam merupakan bentuk yang paling sering dijumpai pada usia 6 bulan hingga 5 tahun, sedangkan epilepsi memiliki prevalensi sekitar 0,5–1% populasi anak. Insidens kejang lebih tinggi pada bayi dibandingkan anak yang lebih besar karena imaturitas sistem saraf pusat dan tingginya kejadian infeksi maupun gangguan metabolik pada kelompok usia tersebut.
Status epileptikus terjadi pada sekitar 10–20 per 100.000 anak per tahun, dengan insidens tertinggi pada bayi usia kurang dari satu tahun. Meskipun angka kematian relatif rendah di negara maju, status epileptikus tetap menjadi penyebab penting morbiditas neurologis berupa gangguan perkembangan, epilepsi refrakter, dan defisit kognitif apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Faktor Risiko
Faktor risiko kejang pada bayi dan anak sangat bergantung pada etiologinya. Riwayat keluarga epilepsi atau kejang demam, prematuritas, berat badan lahir rendah, asfiksia perinatal, kelainan perkembangan otak, trauma kepala, infeksi sistem saraf pusat, penyakit metabolik, serta kelainan genetik meningkatkan risiko terjadinya kejang. Demam tinggi merupakan faktor pencetus utama pada kejang demam, sedangkan epilepsi lebih sering berkaitan dengan kelainan struktural atau genetik.
Selain itu, hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia, hipomagnesemia, keracunan obat, gangguan fungsi hati atau ginjal, serta penghentian mendadak obat antiepilepsi juga dapat memicu kejang akut. Identifikasi faktor risiko sangat penting karena penatalaksanaan definitif harus diarahkan pada penyebab yang mendasarinya.
Patofisiologi
Kejang terjadi akibat peningkatan eksitabilitas neuron yang menyebabkan pelepasan impuls listrik secara sinkron dan berlebihan. Ketidakseimbangan antara neurotransmiter eksitatorik (glutamat) dan inhibitorik (GABA) menyebabkan depolarisasi neuron yang berulang sehingga terbentuk aktivitas epileptiform. Pada bayi, otak yang masih berkembang memiliki kadar neurotransmiter eksitatorik yang relatif lebih tinggi sehingga lebih rentan mengalami kejang dibandingkan orang dewasa.
Apabila kejang berlangsung lama, kebutuhan oksigen dan glukosa otak meningkat drastis. Hipoksia, asidosis laktat, hiperglikemia sementara, edema serebri, dan gangguan autoregulasi serebral dapat terjadi. Setelah durasi sekitar 30 menit, mekanisme penghentian kejang secara spontan mulai gagal sehingga status epileptikus menjadi semakin sulit dikendalikan dan risiko cedera otak permanen meningkat.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis sangat bervariasi tergantung jenis kejang. Kejang generalisata biasanya ditandai dengan hilangnya kesadaran, fase tonik berupa kekakuan seluruh tubuh, diikuti fase klonik berupa gerakan ritmik ekstremitas, mata mendelik, hipersalivasi, sianosis, serta inkontinensia urin. Setelah kejang berhenti, anak memasuki fase postiktal berupa mengantuk, lemas, atau kebingungan sementara.
Pada kejang fokal, gejala dapat berupa kedutan pada satu ekstremitas, deviasi mata, gangguan sensorik, perubahan perilaku, atau automatisme seperti mengunyah dan mengecap. Tanda kegawatan meliputi kejang lebih dari 5 menit, kejang berulang tanpa sadar penuh, gangguan pernapasan, sianosis, penurunan kesadaran, hipotensi, serta tanda peningkatan tekanan intrakranial yang memerlukan penanganan segera.
Diagnosis
Diagnosis kejang pada bayi dan anak ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, serta pemeriksaan penunjang yang dipilih sesuai indikasi klinis. Riwayat yang harus digali meliputi usia saat kejang pertama, durasi kejang, tipe kejang (fokal atau generalisata), frekuensi, adanya demam, trauma kepala, riwayat epilepsi dalam keluarga, penggunaan obat-obatan, serta riwayat penyakit metabolik atau gangguan perkembangan. Pemeriksaan fisik bertujuan menilai stabilitas jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi, sekaligus mencari tanda infeksi sistem saraf pusat, trauma, peningkatan tekanan intrakranial, maupun penyakit sistemik yang mendasari.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan berdasarkan indikasi klinis, terutama glukosa darah, elektrolit (natrium, kalium, kalsium, magnesium), fungsi ginjal, fungsi hati, analisis gas darah, dan pemeriksaan toksikologi bila dicurigai keracunan. Pungsi lumbal diindikasikan bila terdapat kecurigaan meningitis atau ensefalitis. Pemeriksaan EEG berguna untuk klasifikasi epilepsi dan evaluasi pasien dengan kejang berulang, sedangkan CT scan atau MRI otak dilakukan pada pasien dengan kejang fokal, trauma kepala, defisit neurologis menetap, peningkatan tekanan intrakranial, atau dicurigai adanya kelainan struktural otak. Pemeriksaan tersebut tidak dilakukan secara rutin pada seluruh pasien, tetapi disesuaikan dengan kondisi klinis.
Penatalaksanaan Berbasis Evidence-Based Medicine (AAP, ILAE, PALS, WHO, IDAI)
Penatalaksanaan kejang pada bayi dan anak mengikuti prinsip ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure). Jalan napas harus segera dipastikan tetap terbuka dengan memposisikan kepala secara tepat dan mengisap sekret bila diperlukan. Oksigen diberikan bila terdapat hipoksemia, sedangkan ventilasi bantuan menggunakan bag-valve-mask dilakukan apabila ventilasi spontan tidak adekuat. Akses intravena segera dipasang untuk pemberian obat dan cairan, disertai pemantauan tanda vital, saturasi oksigen, dan glukosa darah.
Kejang yang berlangsung kurang dari lima menit umumnya akan berhenti spontan sehingga cukup dilakukan observasi dan pencarian penyebab. Namun, bila kejang berlangsung ≥5 menit, terapi benzodiazepin harus segera diberikan karena risiko berkembang menjadi status epileptikus meningkat secara bermakna. Apabila kejang tidak berhenti setelah dua dosis benzodiazepin, terapi dilanjutkan dengan obat antiepilepsi lini kedua seperti levetiracetam, fosphenytoin, fenitoin, atau fenobarbital. Pasien dengan status epileptikus refrakter memerlukan intubasi endotrakeal, ventilasi mekanik, serta pemberian infus anestetik di ruang perawatan intensif anak (PICU).
Prosedur Penanganan Kejang pada Bayi dan Anak Berdasarkan PALS (AHA), ILAE, AAP, WHO, dan IDAI
1. Penilaian Awal (ABCDE)
| Langkah | Tindakan | Target |
|---|---|---|
| Airway | Buka jalan napas, posisi sniffing, hisap sekret bila perlu | Jalan napas paten |
| Breathing | Nilai RR, SpO₂, berikan O₂ 10–15 L/menit bila hipoksia | SpO₂ ≥94% |
| Circulation | Pasang IV/IO, monitor nadi, TD, CRT | Perfusi adekuat |
| Disability | Nilai GCS/AVPU, ukuran pupil, glukosa darah | Identifikasi penyebab |
| Exposure | Cari trauma, ruam, demam, tanda infeksi | Menentukan etiologi |
2. Pemeriksaan Awal yang Harus Dilakukan
- Glukosa darah segera (finger stick).
- Saturasi oksigen.
- Elektrolit (Na, K, Ca, Mg).
- Analisis gas darah bila berat.
- Darah lengkap.
- CRP/prokalsitonin bila dicurigai infeksi.
- Kultur darah sebelum antibiotik bila memungkinkan.
- EEG bila kejang berulang.
- CT Scan/MRI bila ada indikasi.
3. Indikasi Intubasi
Lakukan intubasi bila terdapat:
- Status epileptikus refrakter.
- Apnea.
- Gagal napas.
- Aspirasi.
- GCS ≤8.
- Memerlukan infus midazolam atau anestesi kontinu.
- Hipoksia berat meskipun telah diberikan oksigen.
4. Terapi Cairan
Bila tidak syok
- NaCl 0,9% sesuai kebutuhan rumatan.
Bila syok
- Bolus NaCl 0,9%
- 20 mL/kg selama 10–20 menit
- Evaluasi ulang perfusi.
5. Koreksi Gangguan Metaboli
Hipoglikemia
- Glukosa <60 mg/dL→ Dextrose 10% 5 mL/kg IV bolus
- Lanjutkan infus glukosa.
Hipokalsemia
- Kalsium glukonat 10%
- 2 mL/kg IV perlahan
- Monitor EKG.
Hipomagnesemia
- MgSO₄
- 25–50 mg/kg IV
Hiponatremia Berat
- Na <120 mEq/L dengan kejang
- NaCl hipertonik 3%
- 3–5 mL/kg IV selama 10–20 menit.
Penatalaksanaan Berdasarkan Penyebab
| Etiologi | Terapi Definitif |
|---|---|
| Kejang demam | Antipiretik, edukasi |
| Meningitis | Antibiotik empiris |
| Ensefalitis HSV | Asiklovir IV |
| Hipoglikemia | Dextrose |
| Hipokalsemia | Kalsium |
| Hipomagnesemia | Magnesium |
| Keracunan | Antidot sesuai penyebab |
| Epilepsi | Antiepilepsi jangka panjang |
Monitoring Setelah Kejang Berhenti
Monitor setiap 15–30 menit:
- Frekuensi napas.
- Saturasi.
- Denyut jantung.
- Tekanan darah.
- GCS.
- Ukuran pupil.
- Glukosa darah.
- Diuresis.
- Suhu tubuh.
Indikasi Rawat PICU
- Status epileptikus.
- Intubasi.
- Gagal napas.
- Syok.
- Ensefalitis.
- Meningitis.
- Kejang refrakter.
- Gangguan hemodinamik.
- Membutuhkan infus antiepilepsi kontinu.
Indikasi Pulang
Pasien dapat dipulangkan bila:
- Kejang telah berhenti.
- Penyebab telah diketahui dan ditangani.
- Kesadaran kembali normal.
- Tidak ada defisit neurologis.
- Tidak memerlukan terapi intravena lanjutan.
- Orang tua telah mendapat edukasi mengenai pertolongan pertama bila kejang berulang.
- Jadwal kontrol telah ditentukan.
Edukasi Orang Tua
- Tetap tenang saat anak kejang.
- Baringkan anak pada posisi miring.
- Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut.
- Jangan menahan gerakan kejang.
- Catat waktu mulai dan lama kejang.
- Segera ke rumah sakit bila:
- Kejang >5 menit.
- Kejang berulang.
- Anak tidak sadar setelah kejang.
- Disertai sesak napas atau kebiruan.
- Kejang pertama kali terjadi.
Ringkasan Algoritma Penanganan
| Durasi Kejang | Tatalaksana |
|---|---|
| <5 menit | ABCDE, oksigen bila perlu, cek glukosa, observasi |
| ≥5 menit | Diazepam, midazolam, atau lorazepam |
| 10–20 menit | Levetiracetam, fosphenytoin, fenitoin, atau fenobarbital |
| >30 menit | Status epileptikus refrakter → intubasi, ventilasi mekanik, infus midazolam/propofol/pentobarbital di PICU |
Algoritma Penatalaksanaan Kejang Akut
Tahap 1 (0–5 menit)
- Penilaian ABCDE.
- Posisikan pasien miring.
- Berikan oksigen bila diperlukan.
- Periksa glukosa darah.
- Pasang akses intravena.
- Identifikasi penyebab yang dapat segera dikoreksi.
Tahap 2 (5–10 menit)
Berikan salah satu benzodiazepin berikut:
- Diazepam IV.
- Diazepam rektal.
- Midazolam intranasal/bukal.
- Lorazepam IV.
Tahap 3 (10–20 menit)
Bila kejang masih berlangsung:
- Levetiracetam IV.
- Fosphenytoin IV.
- Fenitoin IV.
- Fenobarbital IV.
Tahap 4 (>30 menit)
Status epileptikus refrakter:
- Intubasi.
- Ventilasi mekanik.
- Midazolam infus.
- Propofol (anak besar).
- Pentobarbital sesuai protokol PICU.
- Monitoring EEG kontinu bila tersedia.
Tabel Terapi Medikamentosa Kejang pada Bayi dan Anak
Berdasarkan AAP, ILAE, PALS (AHA), WHO, dan IDAI
| Tahap | Obat | Dosis | Nama Dagang (Contoh) | Indikasi | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| Lini pertama (≥5 menit) | Diazepam IV | 0,2–0,3 mg/kg IV (maks. 10 mg) | Stesolid®, Valium®, Diazepam OGB | Status epileptikus awal | Dapat diulang 1 kali |
| Diazepam rektal | 0,5 mg/kg (maks. 10 mg) | Stesolid® Rectal Tube | Bila akses IV belum tersedia | Pilihan di pra-rumah sakit | |
| Midazolam intranasal/bukal/IM | 0,2 mg/kg | Dormicum®, Midazolam OGB | Alternatif diazepam | Onset cepat | |
| Lorazepam IV | 0,1 mg/kg (maks. 4 mg) | Ativan® | Bila tersedia | Durasi kerja lebih panjang | |
| Lini kedua (10–20 menit) | Levetiracetam IV | 40–60 mg/kg (maks. 4.500 mg) | Keppra®, Levetiracetam OGB | Benzodiazepin gagal | Profil keamanan baik |
| Fosphenytoin IV | 20 mg PE/kg | Cerebyx® | Status epileptikus | Lebih aman dibanding fenitoin | |
| Fenitoin IV | 20 mg/kg | Dilantin®, Phenytoin OGB | Alternatif | Infus perlahan, monitor EKG | |
| Fenobarbital IV | 20 mg/kg | Gardenal®, Luminal® | Bayi kecil atau refrakter | Dapat menyebabkan depresi napas | |
| Lini ketiga (>30 menit) | Midazolam infus | Loading 0,2 mg/kg, infus 0,05–2 mg/kg/jam | Dormicum® | Status epileptikus refrakter | PICU |
| Propofol* | 1–2 mg/kg, lanjut infus | Diprivan® | Anak besar | Hindari penggunaan berkepanjangan | |
| Pentobarbital | Sesuai protokol PICU | Nembutal® | Refrakter | Monitoring EEG dan ventilasi | |
| Hipoglikemia | Dextrose 10% | 5 mL/kg IV bolus | Dextrose 10% | Glukosa <60 mg/dL | Lanjut infus glukosa |
| Hipokalsemia | Kalsium glukonat 10% | 2 mL/kg IV perlahan | Calcium Gluconate OGB | Hipokalsemia | Monitor EKG |
| Hipomagnesemia | Magnesium sulfat | 25–50 mg/kg IV | MgSO₄ OGB | Hipomagnesemia | Berikan perlahan |
| Meningitis bakterialis | Ceftriaxone/Cefotaxime ± Vancomycin | Sesuai usia | Rocephin®, Claforan®, Vancocin® | Infeksi SSP | Setelah kultur bila memungkinkan |
| Ensefalitis herpes | Asiklovir | 20 mg/kg IV tiap 8 jam | Zovirax® | Dugaan HSV | Dimulai sedini mungkin |
*Propofol digunakan terutama pada anak yang lebih besar di PICU dengan pemantauan ketat.
Rekomendasi Tahapan Terapi Menurut PALS, ILAE, AAP, dan IDAI
| Durasi Kejang | Tindakan yang Direkomendasikan |
|---|---|
| <5 menit | ABCDE, oksigen bila perlu, cek glukosa, observasi |
| ≥5 menit | Benzodiazepin (diazepam, midazolam, atau lorazepam) |
| 10–20 menit | Levetiracetam, fosphenytoin, fenitoin, atau fenobarbital |
| >30 menit | Status epileptikus refrakter → intubasi, ventilasi mekanik, infus midazolam/propofol/pentobarbital di PICU |
Obat yang Tidak Direkomendasikan Secara Rutin
| Obat | Alasan |
|---|---|
| Fenobarbital oral profilaksis pada kejang demam | Efek samping lebih besar daripada manfaat |
| Asam valproat untuk kejang demam | Tidak direkomendasikan sebagai profilaksis rutin |
| Diazepam oral jangka panjang | Tidak efektif untuk pencegahan kejang demam |
| Antibiotik tanpa indikasi | Hanya diberikan bila terdapat infeksi bakteri yang terbukti atau sangat dicurigai |
Catatan Penting
- Benzodiazepin diberikan bila kejang berlangsung ≥5 menit, bukan pada kejang yang sudah berhenti spontan.
- Bila dua dosis benzodiazepin gagal, segera lanjutkan ke obat lini kedua tanpa menunda.
- Levetiracetam kini banyak dipilih sebagai lini kedua karena efektivitasnya sebanding dengan fenitoin dan efek samping kardiovaskular lebih sedikit.
- Selalu koreksi penyebab yang dapat diobati (hipoglikemia, hipokalsemia, hipomagnesemia, infeksi, atau keracunan).
- Semua pasien dengan status epileptikus memerlukan pemantauan ketat dan umumnya dirawat di PICU.
Pedoman ini disusun sesuai rekomendasi terbaru dari American Heart Association Pediatric Advanced Life Support (PALS), American Academy of Pediatrics (AAP), International League Against Epilepsy (ILAE), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Prognosis
Prognosis sangat bergantung pada penyebab kejang. Kejang demam sederhana dan kejang akut akibat hipoglikemia atau gangguan elektrolit yang segera dikoreksi umumnya memiliki prognosis yang sangat baik tanpa gangguan neurologis jangka panjang. Sebaliknya, status epileptikus, infeksi sistem saraf pusat, stroke, ensefalopati hipoksik-iskemik, atau epilepsi akibat kelainan struktural otak memiliki risiko lebih tinggi terhadap epilepsi kronis, keterlambatan perkembangan, gangguan kognitif, maupun cerebral palsy.
Faktor yang berhubungan dengan prognosis buruk meliputi durasi kejang lebih dari 30 menit, keterlambatan pemberian terapi antikejang, usia bayi muda, kejang fokal, gangguan kesadaran menetap, serta adanya kelainan struktural otak. Oleh karena itu, terapi yang cepat dan identifikasi penyebab secara dini merupakan faktor utama dalam meningkatkan luaran neurologis
Pencegahan
Pencegahan kejang pada bayi dan anak dilakukan melalui pengendalian faktor risiko serta tata laksana penyakit yang mendasarinya. Imunisasi lengkap, pengobatan infeksi secara adekuat, pengendalian demam sesuai indikasi, pemantauan glukosa pada bayi berisiko, koreksi gangguan elektrolit, serta kepatuhan terhadap terapi antiepilepsi pada pasien epilepsi terbukti menurunkan risiko kekambuhan. Edukasi keluarga mengenai pertolongan pertama saat kejang dan kapan harus segera membawa anak ke rumah sakit juga merupakan bagian penting dari pencegahan komplikasi.
Pada anak dengan epilepsi, kepatuhan terhadap pengobatan, tidur yang cukup, menghindari pencetus seperti kurang tidur atau penghentian obat secara mendadak, serta kontrol rutin ke dokter spesialis anak konsultan neurologi atau neurologi anak merupakan strategi utama untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki kualitas hidup.
Ringkasan Poin Penting
- Kejang yang berlangsung ≥5 menit harus dianggap sebagai status epileptikus dan segera diberikan benzodiazepin.
- Penanganan selalu diawali dengan ABCDE dan koreksi hipoglikemia serta gangguan elektrolit.
- Levetiracetam, fosphenytoin, fenitoin, atau fenobarbital merupakan terapi lini kedua bila benzodiazepin gagal.
- Status epileptikus refrakter memerlukan intubasi, ventilasi mekanik, dan perawatan di PICU.
- Prognosis sangat ditentukan oleh penyebab, durasi kejang, dan kecepatan terapi.
- Edukasi keluarga dan tindak lanjut merupakan bagian penting dalam penatalaksanaan jangka panjang.
Daftar Pustaka
- Topjian AA, Raymond TT, Atkins D, et al. Part 4: Pediatric Advanced Life Support. Circulation. 2020;142(16_suppl_2):S469-S523.
- International League Against Epilepsy (ILAE). Pressler RM, et al. Treatment of seizures in neonates and children. Epilepsia. 2023;64:255-276.
- American Academy of Pediatrics. Pediatric Care Online: Seizures and Status Epilepticus. AAP; diperbarui berkala. https://publications.aap.org
- World Health Organization. Pocket Book of Hospital Care for Children. 3rd ed. Geneva: WHO; 2022. https://www.who.int/publications/i/item/9789241548373
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis IDAI: Kejang dan Epilepsi pada Anak. Jakarta: IDAI.






Leave a Reply