DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Asfiksia pada Bayi Baru Lahir: Diagnosis dan Penatalaksanaan Berbasis Evidence-Based Medicine

Asfiksia pada Bayi Baru Lahir: Diagnosis dan Penatalaksanaan Berbasis Evidence-Based Medicine

Menurut WHO, American Academy of Pediatrics (AAP), Neonatal Resuscitation Program (NRP), European Resuscitation Council (ERC), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Asfiksia neonatorum merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan neurologis pada bayi baru lahir di seluruh dunia. Kondisi ini ditandai oleh kegagalan bayi mempertahankan ventilasi yang adekuat setelah lahir sehingga terjadi hipoksemia, hiperkapnia, dan asidosis metabolik yang dapat mengakibatkan disfungsi multiorgan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asfiksia intrapartum masih menyumbang sekitar seperempat kematian neonatal global, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Penatalaksanaan yang cepat, sistematis, dan sesuai pedoman resusitasi neonatal terbukti menurunkan mortalitas serta memperbaiki luaran neurologis jangka panjang.

Pedoman terbaru dari World Health Organization (WHO), American Academy of Pediatrics (AAP) melalui Neonatal Resuscitation Program (NRP) edisi ke-8, European Resuscitation Council (ERC), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa ventilasi tekanan positif (positive pressure ventilation/PPV) merupakan intervensi paling penting dalam resusitasi neonatus. Penatalaksanaan dilakukan mengikuti algoritma resusitasi neonatal yang mencakup penilaian awal, stabilisasi suhu, ventilasi efektif, kompresi dada, pemberian epinefrin bila diperlukan, serta perawatan pascaresusitasi termasuk terapi hipotermia pada bayi yang memenuhi kriteria. Artikel ini membahas definisi, epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan terkini berbasis bukti, prognosis, pencegahan, serta ringkasan poin penting mengenai asfiksia neonatorum.

Pendahuluan

Asfiksia pada bayi baru lahir merupakan keadaan kegawatdaruratan neonatal yang memerlukan tindakan segera dalam menit-menit pertama kehidupan. Sebagian besar neonatus akan bernapas spontan setelah lahir, namun sekitar 5–10% memerlukan bantuan awal, dan sekitar 1% membutuhkan resusitasi lengkap. Keterlambatan ventilasi yang efektif akan menyebabkan hipoksia progresif, asidosis, gangguan perfusi organ, dan kerusakan otak yang dapat berakhir dengan kematian atau kecacatan permanen seperti cerebral palsy, epilepsi, dan gangguan perkembangan.

Kemajuan dalam ilmu resusitasi neonatal telah mengubah pendekatan penanganan asfiksia dari tindakan yang berfokus pada pemberian oksigen tinggi menjadi ventilasi yang efektif dengan konsentrasi oksigen sesuai usia gestasi, penggunaan pulse oximetry, pemantauan denyut jantung secara kontinu, serta tata laksana pascaresusitasi yang komprehensif. Implementasi pedoman NRP, WHO, ERC, dan IDAI secara konsisten telah terbukti menurunkan angka kematian neonatal dan meningkatkan luaran neurologis pada bayi dengan asfiksia.

Definisi

Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bayi baru lahir untuk memulai atau mempertahankan pernapasan spontan yang adekuat setelah lahir sehingga terjadi hipoksia, hiperkapnia, dan asidosis metabolik yang dapat menyebabkan gangguan fungsi berbagai organ.

Secara klinis, diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi riwayat intrapartum, kondisi bayi saat lahir, kebutuhan resusitasi, skor Apgar, analisis gas darah tali pusat bila tersedia, serta adanya tanda ensefalopati hipoksik-iskemik (Hypoxic-Ischemic Encephalopathy/HIE).

Epidemiologi

  • Sekitar 5–10% bayi baru lahir memerlukan bantuan awal setelah lahir.
  • Sekitar 3–6% memerlukan ventilasi tekanan positif.
  • Sekitar 0,1–0,3% memerlukan kompresi dada dan obat-obatan.
  • Asfiksia intrapartum menyumbang sekitar 20–25% kematian neonatal global menurut WHO.
  • Insidens lebih tinggi pada bayi prematur, persalinan lama, dan fasilitas dengan sumber daya terbatas.

Faktor Risiko

Faktor maternal

  • Preeklamsia/eklamsia.
  • Diabetes melitus.
  • Hipotensi maternal.
  • Perdarahan antepartum.
  • Demam atau infeksi intrauterin.
  • Penggunaan obat sedatif atau anestesi.

Faktor intrapartum

  • Persalinan lama.
  • Distosia bahu.
  • Prolaps tali pusat.
  • Solusio plasenta.
  • Plasenta previa dengan perdarahan.
  • Gawat janin.
  • Air ketuban bercampur mekonium.

Faktor janin

  • Prematuritas.
  • Berat badan lahir rendah.
  • Kelainan kongenital.
  • Sepsis neonatal.
  • Kehamilan ganda.

Patofisiologi

Asfiksia menyebabkan hipoksia dan hiperkapnia yang memicu metabolisme anaerob dengan produksi asam laktat sehingga terjadi asidosis metabolik. Pada fase awal, tubuh mengompensasi dengan redistribusi aliran darah ke organ vital seperti otak, jantung, dan adrenal. Bila hipoksia berlanjut, mekanisme kompensasi gagal sehingga perfusi organ menurun dan terjadi kerusakan multiorgan.

Cedera otak hipoksik-iskemik berkembang melalui dua fase. Fase primer terjadi saat hipoksia menyebabkan kegagalan produksi ATP, disfungsi pompa ion, edema sel, dan nekrosis. Setelah reperfusi terjadi fase cedera sekunder akibat stres oksidatif, eksitotoksisitas glutamat, inflamasi, dan apoptosis. Mekanisme inilah yang menjadi dasar pemberian terapi hipotermia pada bayi dengan HIE sedang hingga berat untuk mengurangi kerusakan neurologis.

Manifestasi Klinis

  • Tidak menangis setelah lahir.
  • Apnea atau napas megap-megap (gasping).
  • Hipotonia.
  • Bradikardia (<100 kali/menit).
  • Sianosis.
  • Refleks lemah.
  • Skor Apgar rendah.
  • Kejang (pada HIE).
  • Penurunan kesadaran.
  • Gangguan perfusi perifer.

Diagnosis

Diagnosis didasarkan pada:

  • Riwayat obstetri dan intrapartum.
  • Skor Apgar menit ke-1 dan ke-5.
  • Frekuensi denyut jantung.
  • Pola napas.
  • Tonus otot.
  • Analisis gas darah arteri atau darah tali pusat (bila tersedia).
  • Pemeriksaan neurologis untuk menilai HIE.
  • Pemeriksaan penunjang sesuai indikasi (EEG, USG kepala, MRI otak, fungsi ginjal, fungsi hati).

Penatalaksanaan Terkini Berbasis Evidence-Based Medicine (WHO, Neonatal Resuscitation Program/AAP 8th Edition, European Resuscitation Council 2021, IDAI)

Penatalaksanaan asfiksia neonatorum harus dimulai dalam “Golden Minute” (60 detik pertama setelah lahir). Pedoman WHO, Neonatal Resuscitation Program (NRP) edisi ke-8, ERC, dan IDAI menegaskan bahwa ventilasi tekanan positif (Positive Pressure Ventilation/PPV) merupakan intervensi yang paling penting. Sebagian besar bayi yang mengalami asfiksia akan membaik hanya dengan ventilasi yang efektif, sedangkan kompresi dada dan obat-obatan hanya diperlukan pada sebagian kecil kasus.

Resusitasi dilakukan mengikuti urutan Airway–Breathing–Circulation (ABC) dengan menjaga suhu tubuh, membuka jalan napas, memberikan ventilasi efektif, mengevaluasi denyut jantung setiap 30 detik, kemudian melakukan kompresi dada dan pemberian epinefrin bila denyut jantung tetap <60 kali/menit setelah ventilasi yang adekuat.

Algoritma Resusitasi Neonatus (Golden Minute)

Langkah 1. Penilaian Awal

Segera setelah lahir, nilai:

  • Apakah bayi cukup bulan?
  • Apakah tonus otot baik?
  • Apakah bayi menangis atau bernapas?

Bila YA pada semua pertanyaan:→ Perawatan rutin.

Bila TIDAK:→ Mulai langkah resusitasi.

Langkah 2. Stabilisasi Awal

Dilakukan dalam 30 detik pertama.

  • Hangatkan bayi.
  • Keringkan tubuh.
  • Ganti kain basah.
  • Posisikan kepala sedikit ekstensi (sniffing position).
  • Bersihkan sekret hanya bila menghambat jalan napas.
  • Berikan stimulasi taktil.

Langkah 3. Evaluasi Denyut Jantung dan Pernapasan

  • HR ≥100/menit, Bernapas spontan→ Observasi
  • HR ≥100 tetapi apnea atau gasping→ PPV segera.
  • HR <100→ PPV segera.

Ventilasi Tekanan Positif (PPV)

Merupakan tindakan paling penting.

Gunakan:

  • T-piece resuscitator (pilihan utama).
  • Self inflating bag.
  • Flow inflating bag

Alat Ventilasi pada Resusitasi Neonatus

Pedoman Neonatal Resuscitation Program (NRP) 8th Edition, WHO, dan European Resuscitation Council (ERC) menyatakan bahwa terdapat tiga alat utama yang dapat digunakan untuk memberikan Positive Pressure Ventilation (PPV) pada bayi baru lahir. Tujuan ketiganya adalah memberikan ventilasi yang efektif sehingga paru mengembang, oksigen masuk ke alveoli, dan denyut jantung meningkat.

Alat Kelebihan Kekurangan Rekomendasi
T-piece Resuscitator Tekanan inspirasi (PIP) dan tekanan akhir ekspirasi (PEEP) dapat diatur dengan akurat, ventilasi lebih konsisten, mengurangi risiko cedera paru Memerlukan sumber gas bertekanan (udara/oksigen) dan pelatihan penggunaan Pilihan utama menurut NRP dan ERC
Self-Inflating Bag (Ambu Bag) Mudah digunakan, tidak memerlukan sumber gas untuk mengembang, praktis saat transportasi atau di fasilitas terbatas Sulit memberikan PEEP tanpa katup khusus, tekanan ventilasi kurang konsisten Alternatif bila T-piece tidak tersedia
Flow-Inflating Bag (Anesthesia Bag) Dapat memberikan PEEP dan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), tekanan dapat dikontrol dengan baik Memerlukan sumber gas terus-menerus, teknik penggunaan lebih sulit dan membutuhkan operator terlatih Digunakan terutama di NICU atau ruang operasi

T-piece Resuscitator (Pilihan Utama)

  • T-piece resuscitator adalah alat yang paling direkomendasikan untuk resusitasi neonatus karena mampu memberikan tekanan inspirasi (Peak Inspiratory Pressure/PIP) dan tekanan akhir ekspirasi (Positive End-Expiratory Pressure/PEEP) secara stabil dan konsisten. Dengan tekanan yang lebih terkontrol, risiko barotrauma, volutrauma, dan kerusakan paru dapat dikurangi, terutama pada bayi prematur yang memiliki paru sangat rentan.
  • Alat ini memerlukan sumber gas bertekanan (udara dan/atau oksigen) serta blender oksigen bila tersedia. Tekanan PIP dan PEEP diatur sebelum ventilasi dimulai sehingga operator dapat memberikan ventilasi yang lebih presisi sesuai kondisi bayi.

Self-Inflating Bag (Ambu Bag)

  • Self-inflating bag adalah alat ventilasi yang paling banyak tersedia di ruang bersalin, IGD, dan ambulans. Kantong akan mengembang kembali secara otomatis setelah ditekan sehingga tetap dapat digunakan meskipun tidak tersedia sumber gas bertekanan. Bila dihubungkan dengan oksigen, alat ini dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih tinggi.
  • Kelemahannya adalah tidak dapat memberikan PEEP secara efektif kecuali dipasang katup PEEP khusus. Selain itu, tekanan inspirasi bergantung pada kekuatan tangan operator sehingga dapat bervariasi. Walaupun demikian, alat ini tetap merupakan pilihan yang baik bila T-piece resuscitator tidak tersedia

Flow-Inflating Bag (Anesthesia Bag)

  • Flow-inflating bag atau anesthesia bag memerlukan aliran gas bertekanan yang kontinu agar kantong dapat mengembang. Keunggulannya adalah operator dapat mengatur tekanan inspirasi, memberikan PEEP, bahkan CPAP, sehingga sangat bermanfaat pada bayi prematur atau pasien yang memerlukan ventilasi lebih terkontrol.
  • Namun, alat ini lebih sulit digunakan karena memerlukan pengalaman untuk menjaga tekanan yang stabil. Oleh karena itu, flow-inflating bag lebih sering digunakan oleh tenaga kesehatan yang berpengalaman di ruang operasi, NICU, atau pusat pelayanan neonatal dengan fasilitas lengkap.

Rekomendasi Pedoman Internasional

  • Pilihan pertama: T-piece resuscitator bila tersedia.
  • Alternatif: Self-inflating bag bila T-piece tidak tersedia.
  • Flow-inflating bag: digunakan oleh operator terlatih dengan sumber gas bertekanan.

Pedoman NRP, WHO, dan ERC menekankan bahwa alat terbaik adalah alat yang dapat digunakan secara benar untuk menghasilkan ventilasi efektif dengan pengembangan dada yang adekuat, karena keberhasilan resusitasi lebih ditentukan oleh kualitas ventilasi daripada jenis alat semata.

  • Frekuensi: 40–60 kali/menit
  • Evaluasi setelah: 30 detik ventilasi efektif.

Konsentrasi Oksigen

  • Bayi cukup bulan: Mulai dengan: Udara ruangan (FiO₂ 21%)
  • Prematur <35 minggu Mulai: FiO₂ 21–30%
  • Kemudian disesuaikan berdasarkan pulse oximetry. WHO dan NRP tidak lagi menganjurkan oksigen 100% sejak awal.

Koreksi Ventilasi (MR SOPA)

Bila dada tidak mengembang:

  • M Mask adjustment
  • R Reposition airway
  • S Suction mouth and nose
  • O Open mouth
  • P Pressure increase
  • A Alternative airway (intubasi/LMA)

Koreksi Ventilasi (MR SOPA) pada Resusitasi Neonatus

Apabila setelah pemberian Positive Pressure Ventilation (PPV) dada bayi tidak tampak mengembang, ventilasi kemungkinan tidak efektif. Menurut Neonatal Resuscitation Program (NRP) edisi ke-8, sebelum melanjutkan resusitasi harus dilakukan langkah-langkah koreksi ventilasi yang dikenal sebagai MR SOPA. Tujuannya adalah memastikan udara benar-benar masuk ke paru sehingga oksigenasi dan denyut jantung dapat membaik.

Langkah Penjelasan
M – Mask Adjustment Periksa kembali posisi masker pada wajah bayi. Pastikan masker menutupi hidung dan mulut tanpa kebocoran udara. Kebocoran masker merupakan penyebab tersering kegagalan ventilasi pada neonatus.
R – Reposition Airway Atur ulang posisi kepala ke posisi sniffing (sedikit ekstensi). Fleksi atau hiperekstensi leher dapat menyebabkan jalan napas tertutup sehingga udara tidak masuk ke paru.
S – Suction Mouth and Nose Bila terdapat sekret, lendir, darah, atau mekonium yang menghambat jalan napas, lakukan pengisapan terlebih dahulu. Pengisapan dilakukan mulut terlebih dahulu, kemudian hidung, dan hanya bila terdapat sumbatan yang jelas.
O – Open Mouth Buka mulut bayi secara perlahan untuk mengurangi hambatan jalan napas. Pada beberapa bayi, mulut yang tertutup rapat dapat meningkatkan resistensi aliran udara saat ventilasi.
P – Pressure Increase Bila dada masih belum mengembang, tingkatkan tekanan inspirasi secara bertahap sambil tetap mengamati pengembangan dada. Tekanan harus cukup untuk membuka paru tetapi tidak berlebihan agar mengurangi risiko barotrauma.
A – Alternative Airway Bila seluruh langkah di atas telah dilakukan namun ventilasi tetap tidak efektif, gunakan jalan napas alternatif, yaitu intubasi endotrakeal atau laryngeal mask airway (LMA) bila intubasi sulit atau tidak memungkinkan.

Evaluasi Setelah MR SOPA

Setelah setiap langkah koreksi dilakukan:

  • Amati apakah dada sudah mengembang.
  • Nilai kembali denyut jantung setelah sekitar 30 detik ventilasi yang efektif.
  • Bila denyut jantung meningkat menjadi ≥100 kali/menit, lanjutkan ventilasi sampai bayi bernapas spontan.
  • Bila denyut jantung tetap <60 kali/menit meskipun ventilasi sudah efektif, lanjutkan ke kompresi dada sesuai algoritma resusitasi neonatal.

MR SOPA merupakan bagian penting dari algoritma resusitasi neonatal modern karena sebagian besar kegagalan ventilasi pada menit-menit pertama kehidupan disebabkan oleh masalah teknis yang dapat diperbaiki dengan langkah-langkah sederhana ini, sehingga sering kali menghindarkan bayi dari tindakan yang lebih invasif.

Suction Bukan Prioritas Utama

Menurut pedoman resusitasi neonatal terkini (NRP 8th Edition–AAP, AHA, WHO, dan ERC), ventilasi lebih diprioritaskan daripada suction rutin. Jalan napas tidak lagi disedot secara rutin sebelum memulai ventilasi.

Urutan yang benar

  1. Hangatkan, keringkan, dan posisikan bayi.
  2. Nilai napas dan denyut jantung.
  3. Jika bayi apnea, gasping, atau denyut jantung <100 kali/menit → segera mulai Positive Pressure Ventilation (PPV).
  4. Hanya lakukan suction bila benar-benar ada sumbatan jalan napas oleh lendir, darah, atau mekonium yang menghalangi ventilasi.

Mengapa ventilasi didahulukan?

Ventilasi yang terlambat akan memperpanjang hipoksia. Penelitian menunjukkan bahwa suction rutin dapat menunda dimulainya ventilasi, menyebabkan bradikardia akibat rangsangan vagal, dan tidak memperbaiki luaran klinis. Oleh karena itu, pedoman terbaru menekankan bahwa paru harus segera diventilasi, karena ventilasi adalah intervensi terpenting dalam resusitasi neonatus.

Kapan suction dilakukan?

Lakukan suction hanya bila:

  • Jalan napas tampak tersumbat oleh sekret, darah, atau mekonium.
  • Dada tidak mengembang saat PPV sehingga diperlukan langkah MR SOPA, yaitu S (Suction mouth and nose).
  • Sekret mengganggu intubasi endotrakeal.

Bayi dengan air ketuban bercampur mekonium

Pedoman terbaru tidak lagi menganjurkan suction rutin pada mulut, hidung, atau trakea hanya karena terdapat mekonium. Bila bayi tidak bugar, PPV harus segera dimulai, sedangkan suction dilakukan hanya bila mekonium menyebabkan obstruksi jalan napas.

Pada resusitasi neonatal modern, ventilasi didahulukan. Suction dilakukan hanya bila ada indikasi, yaitu bila terdapat sumbatan jalan napas atau ventilasi tidak efektif, bukan sebagai tindakan rutin sebelum PPV. Ini merupakan salah satu perubahan penting dibandingkan pedoman lama.</blockquote

Indikasi Intubasi

  • Ventilasi masker gagal.
  • Memerlukan kompresi dada.
  • Hernia diafragma kongenital.
  • Aspirasi mekonium dengan obstruksi jalan napas.
  • Ventilasi jangka panjang.

Kompresi Dada

  • Dilakukan bila: HR <60/menit setelah: 30 detik ventilasi efektif.
  • Teknik:: Two-thumb encircling technique
  • Lokasi: Sepertiga bawah sternum.
  • Rasio: 3 : 1 (90 kompresi + 30 ventilasi)
  • Total: 120 tindakan/menit.

Evaluasi Setelah 60 Detik

  • Jika: HR ≥60→ Hentikan kompresi.
  • Lanjutkan PPV bila perlu.
  • Jika: HR ≥100→ Hentikan PPV bila bayi bernapas spontan.

Epinefrin

Indikasi: HR tetap <60, setelah:

  • ventilasi efektif
  • kompresi dada selama 60 detik
  • Dosis IV 0,01–0,03 mg/kg (0,1–0,3 mL/kg larutan 1:10.000)
  • Melalui: Kateter vena umbilikalis.
  • Nama dagang Epinephrine®, Adrenalin OGB

Terapi Cairan

  • Indikasi: Dicurigai hipovolemia.
  • Berikan: NaCl 0,9% atau O negatif 10 mL/kg selama 5–10 menit.

Terapi Hipotermia

Indikasi:

  • Usia kehamilan ≥36 minggu.
  • HIE sedang atau berat.
  • Dimulai dalam ≤6 jam setelah lahir.
  • Target suhu: 33–34°C
  • selama: 72 jam.

Terapi ini terbukti menurunkan mortalitas dan kecacatan neurologis.

Perawatan Pascaresusitasi

  • NICU.
  • Monitoring kontinu.
  • Glukosa darah.
  • Elektrolit.
  • Analisis gas darah.
  • Fungsi ginjal.
  • Fungsi hati.
  • EEG bila kejang.
  • MRI otak sesuai indikasi.

Terapi Medikamentosa

Kondisi Terapi
Hipoglikemia Dextrose 10%
Kejang Fenobarbital → Levetiracetam → Fenitoin sesuai indikasi
Hipotensi Dobutamin atau Dopamin
Asidosis Koreksi ventilasi; natrium bikarbonat hanya pada indikasi khusus
Sepsis Ampisilin + Gentamisin sesuai protokol

Monitoring

  • Denyut jantung.
  • Saturasi oksigen preduktal.
  • Tekanan darah.
  • Frekuensi napas.
  • Suhu tubuh.
  • Diuresis.
  • Glukosa darah.
  • Elektrolit.
  • Laktat.
  • Status neurologis.

Indikasi Perawatan NICU

  • Semua bayi pascaresusitasi.
  • Membutuhkan PPV berkepanjangan.
  • Kompresi dada.
  • Epinefrin.
  • HIE.
  • Kejang.
  • Hipotensi.
  • Ventilasi mekanik.
  • Terapi hipotermia.

Apgar Score

  • Skor Apgar masih digunakan, tetapi bukan sebagai dasar untuk memulai atau menentukan langkah resusitasi neonatal. Pedoman terbaru dari Neonatal Resuscitation Program (NRP) edisi ke-8 (AAP), American Heart Association (AHA), European Resuscitation Council (ERC) 2021, dan WHO menegaskan bahwa keputusan resusitasi harus didasarkan pada penilaian pernapasan dan denyut jantung, bukan pada skor Apgar.
  • Secara praktik, setelah lahir tenaga kesehatan segera menilai tiga pertanyaan awal: apakah bayi cukup bulan, apakah tonus otot baik, dan apakah bayi bernapas atau menangis. Bila bayi tidak bernapas atau hanya megap-megap (gasping), atau denyut jantung <100 kali/menit, ventilasi tekanan positif (PPV) harus segera dimulai dalam “Golden Minute”, tanpa menunggu perhitungan skor Apgar. Denyut jantung merupakan indikator terpenting untuk mengevaluasi efektivitas resusitasi.

Apgar Skor

Tabel Penilaian Skor Apgar

Skor Apgar dikembangkan oleh Virginia Apgar pada tahun 1952 untuk menilai kondisi klinis bayi baru lahir pada menit ke-1 dan ke-5 setelah lahir.

Komponen 0 1 2
Appearance (Warna kulit) Seluruh tubuh biru atau pucat Badan merah, ekstremitas biru (akrosianosis) Seluruh tubuh merah muda
Pulse (Denyut jantung) Tidak ada <100 kali/menit ≥100 kali/menit
Grimace (Respons terhadap rangsang) Tidak ada respons Menyeringai/lemah Menangis kuat, batuk, atau menarik diri
Activity (Tonus otot) Lemas (flaksid) Fleksi ringan ekstremitas Gerakan aktif, tonus baik
Respiration (Pernapasan) Tidak bernapas Napas lambat/tidak teratur, megap-megap Menangis kuat, napas teratur

Interpretasi Skor Apgar

Total Skor Interpretasi
7–10 Kondisi baik, adaptasi neonatal adekuat
4–6 Depresi sedang, memerlukan evaluasi dan kemungkinan bantuan pernapasan
0–3 Depresi berat, memerlukan resusitasi segera

Waktu Penilaian

  • Menit ke-1: Menilai adaptasi awal bayi setelah lahir.
  • Menit ke-5: Menilai respons terhadap adaptasi atau tindakan resusitasi.
  • Bila skor <7 pada menit ke-5: Penilaian diulang setiap 5 menit hingga menit ke-20 sesuai rekomendasi NRP (AAP) dan AHA.

Catatan penting: Pada pedoman resusitasi neonatal terkini, skor Apgar tidak digunakan untuk memutuskan kapan memulai resusitasi. Resusitasi dimulai berdasarkan pernapasan, tonus, dan terutama denyut jantung, tanpa menunggu perhitungan skor Apgar. Skor Apgar berfungsi untuk dokumentasi kondisi bayi dan evaluasi respons terhadap resusitasi.

Skor Apgar tetap memiliki nilai penting, yaitu untuk:

  • Menilai kondisi bayi pada menit ke-1 dan ke-5 setelah lahir.
  • Dilanjutkan setiap 5 menit hingga 20 menit bila skor masih <7.
  • Mendokumentasikan respons bayi terhadap resusitasi.
  • Membantu evaluasi klinis dan prognosis secara keseluruhan.
  • Menjadi data epidemiologi dan audit mutu pelayanan.

Namun, skor Apgar tidak digunakan untuk:

  • Memutuskan kapan memulai resusitasi.
  • Menentukan jenis tindakan resusitasi.
  • Menentukan penghentian resusitasi.
  • Menegakkan diagnosis asfiksia hipoksik-iskemik secara tunggal.

Ringkasan rekomendasi pedoman

Aspek Rekomendasi terkini
Memulai resusitasi Berdasarkan napas dan denyut jantung, bukan Apgar
Penilaian utama selama resusitasi Denyut jantung, ventilasi, dan oksigenasi
Penggunaan Apgar Dokumentasi kondisi bayi dan respons terhadap resusitasi
Waktu penilaian Menit ke-1 dan ke-5; lanjut tiap 5 menit sampai 20 menit bila skor <7

Poin-Poin Penting Resusitasi Neonatus
✅ Golden Minute: Ventilasi efektif harus dimulai dalam 60 detik pertama bila bayi apnea, gasping, atau denyut jantung <100 kali/menit.
✅ Ventilasi tekanan positif (PPV) adalah intervensi paling penting dalam resusitasi neonatus.
✅ Keputusan resusitasi didasarkan pada napas dan denyut jantung, bukan skor Apgar.
✅ Denyut jantung adalah indikator terbaik untuk menilai keberhasilan resusitasi.
✅ Suction tidak dilakukan secara rutin; hanya bila terdapat sumbatan jalan napas atau ventilasi tidak efektif.
✅ T-piece resuscitator merupakan alat pilihan utama bila tersedia.
✅ Udara ruangan (FiO₂ 21%) digunakan sebagai oksigen awal pada bayi cukup bulan; prematur umumnya dimulai dengan FiO₂ 21–30%.
✅ Kompresi dada hanya dilakukan bila HR <60 kali/menit setelah 30 detik PPV yang efektif.
✅ Epinefrin diberikan hanya bila HR tetap <60 kali/menit setelah ventilasi efektif dan kompresi dada.
✅ Terapi hipotermia direkomendasikan pada bayi usia kehamilan ≥36 minggu dengan ensefalopati hipoksik-iskemik sedang atau berat, dimulai dalam ≤6 jam setelah lahir.
✅ Setelah resusitasi berhasil, semua bayi memerlukan pemantauan ketat, karena komplikasi seperti hipoglikemia, hipotensi, kejang, dan gangguan multiorgan dapat muncul dalam beberapa jam pertama kehidupan.

Referensi

  1. Weiner GM, Zaichkin J, eds. Textbook of Neonatal Resuscitation (NRP). 8th ed. American Academy of Pediatrics; 2021.
  1. American Heart Association. Wyckoff MH, Wyllie J, Aziz K, et al. Neonatal Life Support: 2020 International Consensus on CPR and ECC Science With Treatment Recommendations. Circulation. 2020;142(16_suppl_1):S185-S221.
  2. European Resuscitation Council. Madar J, Roehr CC, Ainsworth S, et al. European Resuscitation Council Guidelines 2021: Newborn Resuscitation and Support of Transition of Infants at Birth. Resuscitation. 2021;161:291-326.
  3. World Health Organization. WHO Recommendations on Newborn Health: Guidelines Approved by the WHO Guidelines Review Committee. Geneva: WHO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *