DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

Dermatitis Paederus (Tomcat) pada Anak: Patogenesis, Manifestasi Klinis, Diagnosis, Tata Laksana, dan Pencegahan

Dermatitis Paederus (Tomcat) pada Anak: Patogenesis, Manifestasi Klinis, Diagnosis, Tata Laksana, dan Pencegahan

Dermatitis Paederus merupakan dermatitis kontak iritan akut yang disebabkan oleh paparan pederin, toksin vesikan yang terdapat dalam hemolimfa kumbang genus Paederus. Di Indonesia, kondisi ini populer disebut sebagai “luka bakar Tomcat”, meskipun secara patofisiologis bukan merupakan luka bakar termal dan bukan disebabkan oleh gigitan atau sengatan serangga. Paparan biasanya terjadi ketika kumbang tergencet, tertekan, atau tergosok pada kulit sehingga pederin dilepaskan. Manifestasi klinis khas berupa sensasi terbakar, eritema, edema, vesikel, bula, pustul, dan plak dengan konfigurasi linear atau geografis. Lesi dapat muncul beberapa jam setelah kontak dan sering mengenai wajah, leher, lengan, serta area kulit yang terbuka. Diagnosis terutama bersifat klinis berdasarkan morfologi lesi, distribusi, perjalanan penyakit, dan kemungkinan paparan. Riwayat melihat kumbang tidak selalu ditemukan. Tata laksana utama adalah segera membersihkan kulit setelah paparan, terapi antiinflamasi topikal sesuai derajat penyakit, perawatan simptomatik, dan pencegahan paparan ulang. Antibiotik tidak diperlukan secara rutin dan hanya dipertimbangkan bila terdapat infeksi sekunder atau komplikasi tertentu. Keterlibatan mata memerlukan perhatian khusus karena dapat menyebabkan dermatitis periorbital dan komplikasi okular. Pemahaman mengenai dermatitis Paederus penting untuk mencegah salah diagnosis sebagai luka bakar, infeksi kulit, herpes zoster, atau dermatitis kontak lainnya.

Kata kunci: Paederus, pederin, dermatitis Paederus, dermatitis linearis, dermatitis kontak iritan, Tomcat, luka bakar serangga.

Pendahuluan

Dermatitis Paederus merupakan bentuk khas dermatitis kontak iritan yang terjadi setelah kulit bersentuhan dengan toksin pederin dari kumbang genus Paederus. Penyakit ini ditemukan terutama di daerah tropis dan subtropis, tetapi dapat muncul di berbagai wilayah karena distribusi kumbang yang luas. Literatur menyebut kondisi ini dengan berbagai nama, termasuk Paederus dermatitis, dermatitis linearis, blister beetle dermatitis, night burn, dan Nairobi fly dermatitis. Di Indonesia, istilah “luka bakar Tomcat” lebih dikenal masyarakat. Secara medis, istilah tersebut kurang tepat karena lesi bukan akibat panas, melainkan akibat toksin yang menyebabkan dermatitis kontak iritan.

Kondisi ini mempunyai karakteristik epidemiologis yang berkaitan dengan lingkungan, iklim, dan perilaku serangga. Paederus lebih aktif pada kondisi hangat dan lembap. Kejadian kelompok atau wabah telah dilaporkan di berbagai daerah tropis, terutama pada periode tertentu dalam setahun. Paparan sering terjadi pada malam hari ketika serangga tertarik oleh cahaya dan masuk ke lingkungan tempat tinggal manusia. Karena ukurannya kecil dan tubuhnya ramping, serangga sering tidak disadari ketika berada di kulit atau pakaian.

Etiologi dan Biologi Paederus

Paederus termasuk famili Staphylinidae dan ordo Coleoptera. Berbagai spesies dapat menyebabkan dermatitis pada manusia. Salah satu spesies yang banyak dilaporkan adalah Paederus fuscipes. Kumbang ini berukuran kecil, sekitar 7 sampai 10 mm, dengan tubuh memanjang dan kombinasi warna hitam serta oranye-merah. Tidak semua spesies Paederus diketahui menyebabkan dermatitis, tetapi sejumlah spesies memiliki pederin yang cukup untuk menimbulkan reaksi kulit.

Kesalahan pemahaman yang sering terjadi adalah menganggap Tomcat menggigit atau menyengat manusia. Sebenarnya, mekanisme utamanya bukan gigitan maupun sengatan. Dermatitis terjadi ketika kumbang tertekan atau tergencet pada kulit. Tekanan tersebut menyebabkan hemolimfa yang mengandung pederin keluar dan mengenai kulit. Karena itu, menepuk atau menghancurkan kumbang pada kulit justru dapat meningkatkan paparan toksin.

Pederin sebagai Toksin Utama

Pederin merupakan senyawa toksik yang mempunyai efek vesikan kuat. Pederin ditemukan dalam hemolimfa kumbang dan diketahui berkaitan dengan bakteri endosimbion dalam tubuh Paederus. Literatur modern menjelaskan bahwa toksin tersebut tidak semata-mata merupakan produk metabolisme kumbang, tetapi berkaitan dengan bakteri endosimbion, termasuk Pseudomonas tertentu.

Pada tingkat seluler, pederin mengganggu sintesis protein dan DNA sehingga menghambat pembelahan sel. Efek toksik tersebut menyebabkan kerusakan epidermis, inflamasi, pembentukan vesikel atau bula, dan pada kasus tertentu nekrosis epidermis. Studi histopatologi pada dermatitis Paederus fuscipes menunjukkan spektrum perubahan dari nekrosis epidermis dan pembentukan bula pada fase akut hingga perubahan regeneratif dan hiperplasia epidermis pada fase selanjutnya.

Patogenesis

Patogenesis dermatitis Paederus terutama merupakan dermatitis kontak iritan, bukan reaksi alergi tipe IV klasik. Kerusakan terjadi akibat efek sitotoksik langsung pederin terhadap epidermis. Setelah toksin mengenai kulit, terjadi kerusakan sel epidermis dan pelepasan mediator inflamasi. Respons tersebut kemudian menghasilkan eritema, edema, sensasi terbakar, vesikel, bula, dan kadang pustul.

Besarnya reaksi dapat dipengaruhi oleh jumlah toksin, lama kontak, luas permukaan kulit yang terpapar, serta apakah toksin menyebar melalui tangan ke bagian tubuh lain. Transfer mekanis ini menjelaskan mengapa seseorang dapat mengalami lesi di lokasi yang tampaknya tidak terkena kumbang secara langsung.

Gambaran Klinis

Manifestasi awal biasanya berupa rasa panas, terbakar, menyengat, gatal, atau nyeri. Eritema kemudian berkembang menjadi plak inflamasi yang dapat disertai edema, vesikel, bula, pustul, dan erosi. Onset tidak selalu segera. Lesi dapat berkembang dalam beberapa jam setelah paparan sehingga pasien sering tidak menghubungkan kelainan kulit dengan keberadaan kumbang sebelumnya.

Salah satu gambaran yang sangat khas adalah lesi linear atau geografis. Pola linear muncul ketika cairan toksik terseret di sepanjang permukaan kulit. Lesi dapat menyerupai goresan atau luka bakar. Gambaran lain adalah kissing lesions, yaitu lesi yang muncul pada dua permukaan kulit yang saling bersentuhan. Pola ini dapat membantu memperkuat dugaan diagnosis.

Lokasi yang sering terkena adalah wajah, leher, lengan, dada, dan area tubuh yang terbuka. Kelopak mata dan daerah periorbital juga dapat terkena. Pada suatu laporan 123 kasus, leher dan lengan merupakan lokasi yang paling sering terkena, sedangkan 4,9% pasien mengalami keterlibatan periorbital.

Perjalanan Penyakit

Dermatitis Paederus umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Lesi akut kemudian mengalami pengeringan, pembentukan krusta, deskuamasi, dan penyembuhan. Studi histopatologi pada P. fuscipes melaporkan penyembuhan lesi dalam sekitar 10 sampai 12 hari, dengan perubahan pigmentasi pascainflamasi yang dapat bertahan sementara.

Hiperpigmentasi pascainflamasi merupakan salah satu keluhan yang dapat bertahan setelah gejala akut menghilang. Karena itu, pasien dapat menganggap penyakit belum sembuh meskipun proses inflamasi aktif sebenarnya sudah berhenti. Lama perubahan warna kulit bergantung pada beratnya inflamasi, lokasi lesi, dan karakteristik individu.

Diagnosis

Diagnosis dermatitis Paederus terutama merupakan diagnosis klinis. Tidak tersedia pemeriksaan laboratorium rutin yang secara khusus diperlukan untuk memastikan penyakit. Dokter menilai bentuk lesi, lokasi, onset, perjalanan penyakit, serta kemungkinan paparan terhadap Paederus. Riwayat melihat atau menemukan Tomcat tidak wajib ada karena serangga sering tidak disadari ketika bersentuhan dengan kulit.

Kombinasi antara rasa terbakar, lesi eritematosa linear atau geografis, vesikel atau pustul, serta distribusi pada kulit terbuka sangat membantu. Epidemiologi lingkungan juga dapat memperkuat dugaan, terutama ketika terjadi beberapa kasus dalam satu rumah atau lingkungan pada periode yang sama.

Diagnosis Banding

Dermatitis Paederus dapat menyerupai beberapa penyakit kulit lain. Diagnosis banding meliputi luka bakar termal atau kimia, dermatitis kontak iritan lainnya, dermatitis kontak alergi, phytophotodermatitis, impetigo bulosa, herpes simpleks, herpes zoster, serta beberapa penyakit kulit vesikobulosa.

Lesi linear merupakan petunjuk penting, tetapi tidak patognomonik. Karena itu, diagnosis tetap harus mempertimbangkan lokasi, perjalanan klinis, gejala sistemik, serta kemungkinan paparan lain. Pada kasus atipikal, berat, menetap, atau tidak membaik sesuai perjalanan yang diharapkan, pemeriksaan dermatologi diperlukan.

Tata Laksana

Langkah pertama setelah mengetahui atau mencurigai kontak dengan Paederus adalah segera mencuci kulit menggunakan sabun dan air. Tujuannya adalah menghilangkan toksin yang masih berada di permukaan kulit dan mengurangi kontak lebih lanjut. Serangga tidak boleh dihancurkan atau digosokkan pada kulit. Literatur klinis menekankan pentingnya dekontaminasi segera setelah paparan.

Pada dermatitis yang telah berkembang, terapi umumnya bersifat suportif dan antiinflamasi. Kortikosteroid topikal dapat digunakan sesuai derajat inflamasi dan lokasi lesi. Kompres dingin atau basah dapat membantu mengurangi sensasi terbakar dan ketidaknyamanan. Pemilihan preparat dan potensi kortikosteroid harus mempertimbangkan usia pasien, lokasi lesi, luas area, dan beratnya dermatitis.

Antibiotik sistemik tidak diberikan secara rutin karena penyakit ini pada dasarnya bukan infeksi bakteri primer. Antibiotik dapat dipertimbangkan bila terdapat infeksi sekunder atau komplikasi tertentu. Review literatur menekankan bahwa terapi antibiotik sistemik sebaiknya dibatasi pada kasus dengan komplikasi yang sesuai.

Keterlibatan Mata

Keterlibatan daerah periorbital memerlukan perhatian khusus. Pederin dapat berpindah dari tangan ke kelopak mata setelah pasien menyentuh area kulit yang terpapar. Dermatitis periorbital dapat menyebabkan edema dan iritasi. Bila toksin mengenai permukaan mata, dapat terjadi keluhan okular yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Pasien dengan mata merah, nyeri mata, fotofobia, mata berair terus-menerus, pembengkakan berat, atau gangguan penglihatan setelah dugaan paparan sebaiknya segera diperiksa oleh dokter, terutama dokter mata. Obat kulit tidak boleh digunakan sembarangan pada permukaan mata.

Komplikasi

Sebagian besar kasus mengalami penyembuhan tanpa komplikasi berat. Namun, komplikasi dapat berupa infeksi sekunder, lesi yang luas, keterlibatan periorbital, reaksi mukokutan, dan perubahan pigmentasi setelah inflamasi. Dalam laporan kasus dan seri kasus, komplikasi berat relatif jarang dibandingkan perjalanan penyakit yang tidak berkomplikasi.

Kondisi yang memerlukan evaluasi medis lebih cepat antara lain lesi sangat luas, keterlibatan mata atau mukosa, nyeri berat, demam, tanda infeksi sekunder, pembengkakan yang progresif, atau diagnosis yang tidak jelas.

Pencegahan

Pencegahan terutama ditujukan untuk mencegah kumbang bersentuhan dengan kulit. Bila Paederus ditemukan di dalam rumah, serangga sebaiknya disingkirkan tanpa dihancurkan di atas kulit. Kumbang dapat dipindahkan menggunakan kertas atau benda lain, kemudian dibuang dengan aman.

Karena Paederus tertarik terhadap cahaya dan aktif pada kondisi hangat serta lembap, penggunaan kasa pada jendela dan pintu dapat membantu mengurangi masuknya serangga. Mengurangi sumber cahaya yang menarik serangga di sekitar tempat tidur juga dapat membantu. Pengendalian lingkungan menjadi lebih penting di daerah yang sering mengalami kasus.

Kesimpulan

Dermatitis Paederus merupakan dermatitis kontak iritan akut akibat toksin pederin dari kumbang genus Paederus. Istilah “luka bakar Tomcat” populer di masyarakat, tetapi secara medis penyakit ini bukan luka bakar termal dan bukan akibat gigitan atau sengatan. Mekanisme utama terjadi ketika kumbang tergencet atau tertekan sehingga pederin mengenai kulit.

Gambaran klinis yang perlu dikenali adalah rasa terbakar yang diikuti eritema, edema, vesikel, bula, pustul atau erosi, terutama dengan pola linear atau geografis. Diagnosis umumnya klinis. Penanganan utama adalah dekontaminasi segera, terapi antiinflamasi topikal sesuai kondisi, perawatan suportif, dan pencegahan paparan ulang. Antibiotik bukan terapi rutin.

Pengenalan dini penting karena dermatitis Paederus dapat menyerupai luka bakar, infeksi, atau penyakit kulit vesikular lainnya. Edukasi masyarakat mengenai perilaku Paederus juga merupakan bagian penting pencegahan. Prinsip yang paling sederhana adalah jangan menghancurkan Tomcat di atas kulit, segera cuci kulit setelah kontak, dan hindari menyentuh bagian tubuh lain sebelum tangan dibersihkan.

Daftar Pustaka

  • Karthikeyan K, Kumar A. Paederus dermatitis. Indian Journal of Dermatology, Venereology and Leprology. 2017;83(4):424-431. doi:10.4103/0378-6323.198441. PMID: 28584222.
  • Vanhecke C, Le Gall P, Gaüzère BA. Vesicular contact dermatitis due to Paederus in Cameroon and review of the literature. Bulletin de la Société de Pathologie Exotique. 2015;108(5):328-336. doi:10.1007/s13149-015-0459-9. PMID: 26608274.
  • Veraldi S, Cuka E, Chiaratti A, Nazzaro G, Gianotti R, Süss L. Paederus fuscipes dermatitis: a report of nine cases observed in Italy and review of the literature. European Journal of Dermatology. 2013;23(3):387-391. doi:10.1684/ejd.2013.2028. PMID: 23783330.
  • Gnanaraj P, Venugopal V, Kuzhal Mozhi M, Pandurangan CN. An outbreak of Paederus dermatitis in a suburban hospital in South India: a report of 123 cases and review of literature. Journal of the American Academy of Dermatology. 2007;57(2):297-300. doi:10.1016/j.jaad.2006.10.982. PMID: 17490784.
  • Sendur N, Savk E, Karaman G. Paederus dermatitis: a report of 46 cases in Aydin, Turkey. Dermatology. 1999;199(4):353-355. doi:10.1159/000018290. PMID: 10640849.
  • Pederin-related histopathological study. Paederus fuscipes dermatitis: a histopathological study. [PubMed indexed article]. PMID: 1951984.
  • Zargari O, Kimyai-Asadi A, Fathalikhani F, Panahi M. Paederus dermatitis in northern Iran: a report of 156 cases. International Journal of Dermatology. 2003;42(8):608-612. doi:10.1046/j.1365-4362.2003.01771.x. PMID: 12890103.
  • Schunkert EM, Aschoff NS, Grimmer F, Wiemann C, Zillikens D. Paederus dermatitis: touched by champion flies, three clinical manifestations of pederin toxin-inflicted dermatitis. International Journal of Dermatology. 2018;57(8):989-991. doi:10.1111/ijd.13968. PMID: 29603192.
  • Paederus dermatitis. Case report and review of clinical features, toxin, diagnosis, treatment and prevention. [Open-access clinical review]. PMCID: PMC11288999.
  • Treatment of Paederus dermatitis with Sambucus ebulus lotion. [Randomized double-blind prospective placebo-controlled study]. PMCID: PMC4177629.
  • Paederus beetles: the agent of human dermatitis. [Review]. PMCID: PMC4357090.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *