DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Infeksi Virus sebagai Pemicu Perburukan Dermatitis Atopik: Peran Gangguan Skin Barrier dan Disregulasi Imun

Infeksi Virus sebagai Pemicu Perburukan Dermatitis Atopik: Peran Gangguan Skin Barrier dan Disregulasi Imun

Audi Yudhasmara , Widodo Judarwanto

Abstrak

Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit inflamasi kulit kronis yang ditandai oleh gangguan sawar kulit (skin barrier) dan disregulasi sistem imun. Kekambuhan dermatitis atopik tidak hanya berkaitan dengan paparan alergen, termasuk alergi makanan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor pencetus, salah satunya infeksi virus. Infeksi virus saluran napas seperti common cold dapat berhubungan dengan aktivasi respons imun dan peningkatan inflamasi yang berpotensi memperburuk kondisi kulit pada individu dengan predisposisi dermatitis atopik. Gangguan integritas barrier kulit menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi, sementara aktivasi sistem imun akibat infeksi dapat memperkuat proses inflamasi kulit. Pemahaman mengenai hubungan infeksi virus dan dermatitis atopik penting untuk mencegah kesalahan diagnosis, terutama kecenderungan langsung menyalahkan alergi susu sapi setiap terjadi flare. Evaluasi penyebab kekambuhan dermatitis perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan faktor makanan, infeksi, iritan, serta kondisi skin barrier.

Kata kunci: dermatitis atopik, infeksi virus, common cold, skin barrier, inflamasi, alergi makanan.

Pendahuluan

Dermatitis atopik merupakan salah satu penyakit inflamasi kulit yang sering ditemukan pada bayi dan anak. Penyakit ini memiliki karakteristik utama berupa gangguan fungsi sawar kulit dan ketidakseimbangan respons imun, terutama jalur inflamasi tipe 2 (type 2 inflammation). Gangguan barrier kulit menyebabkan peningkatan kehilangan air melalui kulit serta meningkatkan masuknya berbagai faktor pemicu dari lingkungan.

Dalam praktik klinis, kekambuhan dermatitis pada bayi sering dikaitkan secara langsung dengan alergi makanan, terutama alergi protein susu sapi. Hal ini menyebabkan sebagian pasien menjalani berbagai pergantian susu berulang kali setiap kali terjadi flare. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa dermatitis atopik merupakan penyakit multifaktorial, sehingga kekambuhan tidak selalu disebabkan oleh satu faktor tertentu.

Infeksi virus merupakan salah satu faktor yang dapat berperan dalam memperberat inflamasi kulit. Virus tidak menyebabkan alergi makanan atau alergi susu sapi, tetapi respons imun akibat infeksi dapat meningkatkan aktivitas inflamasi pada individu yang memiliki kecenderungan dermatitis atopik.

Mekanisme Hubungan Infeksi Virus dan Dermatitis Atopik

Pada dermatitis atopik terjadi gangguan struktur dan fungsi skin barrier akibat perubahan protein penting kulit, termasuk filaggrin, serta peningkatan permeabilitas kulit. Kondisi ini menyebabkan kulit lebih mudah mengalami iritasi dan rentan terhadap masuknya mikroorganisme.

Infeksi virus dapat memicu aktivasi sistem imun bawaan dan adaptif melalui pelepasan mediator inflamasi seperti interferon dan sitokin proinflamasi. Aktivasi ini dapat memperkuat proses peradangan yang sudah berlangsung pada kulit penderita dermatitis atopik sehingga muncul gejala seperti kemerahan, gatal, dan flare.

Khalil et al. menjelaskan bahwa hubungan antara infeksi virus dan dermatitis atopik berkaitan dengan interaksi kompleks antara gangguan barrier kulit, perubahan respons imun, dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi virus.

Infeksi Virus sebagai Pemicu Flare

Infeksi saluran napas ringan seperti common cold dapat terjadi bersamaan dengan perburukan dermatitis pada sebagian anak. Kondisi klinis dapat berupa pilek ringan, batuk ringan, tubuh terasa hangat, rewel, atau perubahan perilaku tanpa harus selalu disertai demam tinggi.

Ong dan Leung menjelaskan bahwa pasien dermatitis atopik memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi infeksi karena gangguan barrier kulit dan perubahan sistem imun. Infeksi tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan inflamasi dan memperburuk perjalanan penyakit.

Namun, penting dibedakan bahwa infeksi virus bukan merupakan penyebab alergi baru. Infeksi hanya dapat berperan sebagai faktor pencetus atau memperberat kondisi inflamasi yang sudah ada.

Implikasi Klinis

Pada bayi dengan dermatitis yang kambuh, evaluasi tidak seharusnya hanya berfokus pada penggantian susu. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan:

1. Riwayat makanan ibu pada bayi ASI.
2. Makanan bayi saat MPASI.
3. Riwayat infeksi virus atau gejala saluran napas.
4. Paparan iritan seperti sabun, deterjen, keringat, dan lingkungan.
5. Kondisi kelembapan serta perawatan skin barrier.

Pendekatan komprehensif dapat membantu menghindari eliminasi makanan atau pergantian formula yang tidak diperlukan.

Kesimpulan

Infeksi virus dapat menjadi salah satu faktor pencetus atau memperberat flare dermatitis atopik melalui aktivasi sistem imun dan gangguan keseimbangan inflamasi kulit. Dermatitis yang kambuh tidak selalu menunjukkan alergi susu sapi. Evaluasi penyebab harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan faktor alergi, infeksi, iritan, dan gangguan skin barrier.

Daftar Pustaka

  • 1. Khalil N, Walton J, Roberts N, Hussain K. Viral infections in atopic dermatitis. Clinical and Experimental Dermatology. 2025;50(1):46–55. doi:10.1093/ced/llae304. PMID:39097528.
  • 2. Ong PY, Leung DYM. Bacterial and Viral Infections in Atopic Dermatitis: A Comprehensive Review. Clinical Reviews in Allergy & Immunology. 2016;51(3):329–337. doi:10.1007/s12016-016-8548-5. PMID:27377298.
  • 3. Wang V, Boguniewicz J, Boguniewicz M, Ong PY. The Infectious Complications of Atopic Dermatitis. Annals of Allergy, Asthma & Immunology. 2021;126(1):3–12. doi:10.1016/j.anai.2020.08.002. PMID:32771354.
  • 4. Ong PY, Leung DYM. The Infectious Aspects of Atopic Dermatitis. Immunology and Allergy Clinics of North America. 2010;30(3):309–321. doi:10.1016/j.iac.2010.05.001. PMID:20670815.
  • 5. Tamagawa-Mineoka R, Katoh N. Atopic Dermatitis: Identification and Management of Complicating Factors. International Journal of Molecular Sciences. 2020;21(8):2671. doi:10.3390/ijms21082671.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *