DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

Pada Umumnya Anak Sulit Makan dan Berat Badan Kurang Tidak Perlu Cek Laboratorium

Pada Umumnya Anak Sulit Makan dan Berat Badan Kurang Tidak Perlu Cek Laboratorium

Analisis Pemeriksaan Darah pada Anak Sulit Makan dan Berat Badan Kurang: Kapan Perlu Laboratorium dan Bagaimana Menginterpretasikannya?

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Sulit makan (picky eating) dan berat badan yang sulit naik merupakan dua keluhan yang paling sering membawa anak ke praktik dokter anak. Dalam praktik sehari-hari, kekhawatiran orang tua sering berujung pada permintaan pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal, vitamin, mineral, hingga panel alergi. Namun, perkembangan bukti ilmiah dalam beberapa tahun terakhir justru menunjukkan bahwa pemeriksaan laboratorium rutin pada sebagian besar anak dengan keluhan tersebut memiliki manfaat diagnostik yang rendah. Pedoman terbaru American Academy of Pediatrics (AAP) bersama North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) tahun 2026 menekankan bahwa evaluasi awal harus dimulai dari riwayat makan yang rinci, pemeriksaan fisik menyeluruh, serta analisis kurva pertumbuhan menggunakan standar WHO, sebelum mempertimbangkan pemeriksaan laboratorium.

Kajian sistematis yang menjadi dasar pedoman tersebut menunjukkan bahwa pemeriksaan laboratorium tanpa indikasi klinis hanya mampu menemukan penyebab organik pada sekitar 0,8 hingga 14 persen kasus. Dengan kata lain, lebih dari delapan dari sepuluh anak dengan sulit makan dan berat badan kurang tidak memperoleh manfaat tambahan dari pemeriksaan darah pada kunjungan pertama. Pendekatan berbasis bukti ini bertujuan meningkatkan akurasi diagnosis, menghindari pemeriksaan yang tidak perlu, mengurangi biaya kesehatan, serta memungkinkan intervensi nutrisi dilakukan lebih cepat.

Sulit Makan Merupakan Masalah yang Sangat Umum

  • Sulit makan bukanlah diagnosis penyakit tunggal, melainkan sekumpulan perilaku makan yang dapat muncul pada berbagai kondisi. Pada usia 1 sampai 5 tahun, fase memilih makanan merupakan bagian dari perkembangan normal. Penelitian menunjukkan sekitar 20 hingga 50 persen anak sehat pernah mengalami fase picky eating, sedangkan pada kelompok anak dengan gangguan perkembangan angkanya dapat mencapai lebih dari 70 persen
  • Pada sebagian besar kasus, anak tetap tumbuh sesuai potensi genetiknya meskipun orang tua merasa asupan makannya sangat sedikit. Hal ini terjadi karena kebutuhan energi anak usia batita memang mulai menurun dibandingkan masa bayi, sehingga nafsu makan menjadi lebih bervariasi dari hari ke hari. Karena itu, satu kali makan yang sedikit bukan berarti anak mengalami kekurangan gizi.
  • Masalah muncul ketika berat badan mulai menyimpang dari pola pertumbuhan sebelumnya atau muncul gejala lain yang mengarah pada penyakit organik.

Mengapa Pemeriksaan Laboratorium Tidak Dianjurkan Sebagai Langkah Pertama?

Selama bertahun-tahun, banyak dokter maupun orang tua menggunakan pemeriksaan laboratorium sebagai “langkah aman” ketika menghadapi anak yang sulit makan. Pendekatan tersebut kini mulai ditinggalkan karena penelitian menunjukkan bahwa riwayat makan dan pemeriksaan fisik memiliki nilai diagnostik yang jauh lebih tinggi dibandingkan skrining laboratorium tanpa indikasi.

Pedoman AAP 2026 menyatakan bahwa pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya tidak dilakukan pada anak yang tampak sehat, aktif, dan tidak memiliki tanda bahaya. Alasannya cukup kuat.

  • Sebagian besar hasil laboratorium tetap normal.
  • Hasil abnormal ringan sering tidak berhubungan dengan penyebab utama sulit makan.
  • Pemeriksaan tambahan dapat menimbulkan kecemasan keluarga.
  • Biaya pelayanan kesehatan meningkat tanpa manfaat klinis yang jelas.

Kajian yang digunakan dalam penyusunan pedoman tersebut menemukan bahwa pemeriksaan laboratorium rutin hanya mengidentifikasi penyebab medis pada sekitar 0,8 sampai 6,8 persen kasus dalam beberapa studi, sedangkan angka tertinggi sekitar 14 persen ditemukan pada kelompok pasien yang memang sudah dipilih berdasarkan indikasi klinis tertentu.

Langkah Pertama Adalah Menilai Kurva Pertumbuhan

Salah satu perubahan terbesar dalam pedoman terbaru adalah penekanan pada penggunaan kurva pertumbuhan WHO sebagai alat utama dalam pengambilan keputusan.

Dokter tidak hanya melihat angka berat badan saat ini, tetapi membandingkannya dengan pola pertumbuhan sebelumnya.

Beberapa parameter yang dinilai meliputi:

  • berat badan menurut umur,
  • panjang atau tinggi badan menurut umur,
  • berat badan menurut panjang badan,
  • BMI menurut umur,
  • serta z-score WHO.

Pendekatan ini jauh lebih akurat dibandingkan hanya mengatakan “berat badan kurang”.

Tabel Evaluasi Awal Sebelum Laboratorium

Komponen

Tujuan Penilaian

Riwayat makan

Frekuensi makan, porsi, tekstur, penolakan makanan

Kurva pertumbuhan

Berat, tinggi, BMI, z-score WHO

Pemeriksaan fisik

Pucat, edema, ruam, pembesaran organ

Perkembangan

Motorik, bahasa, sosial

Riwayat keluarga

Tinggi badan orang tua, penyakit genetik

Riwayat penyakit

Diare kronis, muntah, infeksi berulang

Bila seluruh komponen tersebut menunjukkan kondisi stabil dan pertumbuhan masih mengikuti kurva, pemeriksaan laboratorium umumnya belum diperlukan.

Kapan Berat Badan Menjadi Mengkhawatirkan?

Istilah lama failure to thrive kini diganti menjadi faltering weight. Pergantian istilah ini penting karena fokusnya bukan lagi memberi label “gagal tumbuh”, tetapi mengenali perubahan pola pertumbuhan sedini mungkin.

Menurut pedoman AAP dan NASPGHAN, evaluasi lebih lanjut perlu dipertimbangkan bila ditemukan salah satu kondisi berikut.

  • Berat badan menurut panjang badan atau BMI berada di bawah z-score -1,65.
  • Berat badan turun sekitar satu z-score atau lebih dari pola sebelumnya.
  • Kecepatan kenaikan berat badan jauh lebih lambat dibandingkan yang diharapkan.
  • Terjadi penurunan dua garis persentil pada kurva pertumbuhan.
  • Yang paling penting bukan satu angka berat badan, tetapi arah kurva pertumbuhan selama beberapa bulan.

Kapan Pemeriksaan Laboratorium Memang Diperlukan?

Laboratorium menjadi penting ketika terdapat dugaan penyakit tertentu berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus sebagai paket lengkap.

Tabel Indikasi Pemeriksaan Laboratorium

Kondisi Klinis

Pemeriksaan

Anak tampak pucat

Darah lengkap

Curiga defisiensi besi

Ferritin, CRP

Diare kronis

Serologi celiac, pemeriksaan feses

Muntah terus-menerus

Elektrolit

Haus dan sering buang air kecil

Gula darah

Berat badan terus turun

Pemeriksaan bertahap sesuai gejala

Demam lama

Evaluasi infeksi

Pembesaran hati atau limpa

Fungsi hati

Gagal tumbuh berat

Pemeriksaan terarah

Pendekatan selektif ini terbukti memiliki nilai diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan skrining laboratorium menyeluruh.

Analisis Pemeriksaan Darah yang Paling Sering Dilakukan

Darah Lengkap (Complete Blood Count)

Pemeriksaan darah lengkap merupakan tes yang paling sering diminta orang tua. Tes ini memberikan informasi mengenai sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit.

Tabel Interpretasi Darah Lengkap

Parameter

Hasil

Interpretasi

Hemoglobin

Normal

Tidak mendukung anemia

Hemoglobin

Rendah

Curiga anemia

MCV

Rendah

Defisiensi besi lebih mungkin

MCV

Tinggi

Curiga defisiensi B12 atau folat

Leukosit

Tinggi

Infeksi atau inflamasi

Trombosit

Sangat tinggi

Reaksi inflamasi mungkin terjadi

Hemoglobin

  • Hemoglobin sering dianggap sebagai penyebab utama sulit makan. Faktanya, hubungan tersebut tidak sesederhana itu.
  • Anemia defisiensi besi memang dapat menurunkan nafsu makan melalui gangguan metabolisme energi dan fungsi neurotransmiter. Namun sebagian besar anak yang datang dengan keluhan sulit makan tetap memiliki kadar hemoglobin normal.
  • Bila hemoglobin rendah disertai pucat, cepat lelah, dan pertumbuhan terganggu, dokter akan mengevaluasi kemungkinan kekurangan zat besi.

MCV Membantu Menentukan Jenis Anemia

MCV menunjukkan ukuran rata-rata sel darah merah.

  • MCV rendah lebih sering ditemukan pada defisiensi besi.
  • MCV normal memerlukan interpretasi bersama parameter lain.
  • MCV tinggi dapat mengarah pada kekurangan vitamin B12 atau folat.

MCV tidak boleh ditafsirkan secara terpisah dari hemoglobin.

Ferritin Adalah Pemeriksaan Terbaik untuk Cadangan Besi

Ferritin merupakan protein penyimpan besi dan menjadi indikator terbaik untuk menilai cadangan besi tubuh.

Tabel Interpretasi Ferritin

Hasil

Makna

Rendah

Defisiensi besi

Normal

Cadangan besi cukup

Normal dengan CRP tinggi

Dapat dipengaruhi inflamasi

Ferritin merupakan pemeriksaan yang jauh lebih sensitif dibandingkan hanya melihat hemoglobin.

CRP Membantu Membaca Ferritin

CRP digunakan untuk mengetahui apakah ferritin meningkat karena peradangan. Bila CRP tinggi, ferritin dapat tampak normal atau meningkat meskipun cadangan besi sebenarnya rendah.

Pemeriksaan Tiroid Tidak Dilakukan Rutin

Pemeriksaan TSH dan FT4 hanya dipertimbangkan bila terdapat tanda yang mengarah pada hipotiroidisme.

  • tinggi badan ikut melambat,

  • konstipasi berat,

  • kulit kering,

  • mudah lelah,

  • gondok.

Pemeriksaan Penyakit Celiac

Penyakit celiac dapat menyebabkan gagal tumbuh akibat gangguan penyerapan nutrisi.

Pemeriksaan dipertimbangkan bila terdapat:

  • diare kronis,

  • perut membuncit,

  • anemia menetap,

  • riwayat keluarga celiac,

  • berat badan sulit naik tanpa penyebab yang jelas.

Albumin Bukan Penanda Gizi Rutin

Albumin sering diminta sebagai pemeriksaan status gizi, padahal penggunaannya terbatas.

Tabel Interpretasi Albumin

Hasil

Makna

Normal

Tidak otomatis berarti asupan makan cukup

Rendah

Pertimbangkan penyakit hati, ginjal, inflamasi, atau malnutrisi berat

Albumin baru menurun pada kondisi yang sudah cukup berat sehingga tidak cocok sebagai pemeriksaan skrining.

Pemeriksaan Vitamin dan Mineral

Vitamin D

  • Tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin. Pemeriksaan dilakukan bila terdapat rakitis, nyeri tulang, atau faktor risiko tertentu.

Seng

  • Banyak iklan menghubungkan seng dengan nafsu makan. Namun kadar seng darah bukan indikator yang baik untuk menilai status seng tubuh sehingga tidak direkomendasikan sebagai skrining rutin.

Vitamin B12 dan Folat

  • Pemeriksaan dilakukan bila terdapat anemia makrositik atau gangguan neurologis.

Pemeriksaan yang Justru Tidak Dianjurkan

  • Beberapa pemeriksaan masih sering diminta meskipun belum memiliki manfaat sebagai skrining pada anak sulit makan.
  • Tabel Pemeriksaan yang Tidak Direkomendasikan Rutin

Pemeriksaan

Rekomendasi

IgG makanan

Tidak dianjurkan

Panel alergi tanpa indikasi

Tidak rutin

Vitamin lengkap

Tidak rutin

Albumin saja

Bukan skrining gizi

Seng rutin

Tidak dianjurkan

Endoskopi

Bukan evaluasi awal

Panel alergi hanya dilakukan bila terdapat riwayat klinis yang konsisten dengan alergi makanan, bukan sekadar karena anak sulit makan.

Algoritma Praktis Pendekatan Anak Sulit Makan

Langkah berbasis bukti

Evaluasi anak sulit makan dimulai dari klinis, bukan laboratorium

  • Langkah 1
    • Riwayat makan dan pemeriksaan fisik
  • Langkah 2
    • Plot berat, tinggi, BMI, dan z-score WHO
  • Langkah 3
    • Mulai intervensi nutrisi dan terapi makan
  • Ada tanda bahaya atau berat badan terus menurun?

    • Lakukan pemeriksaan laboratorium secara bertahap sesuai dugaan penyakit.
    • Tanda Bahaya yang Memerlukan Evaluasi Lebih Cepat

Orang tua perlu segera berkonsultasi kembali bila muncul salah satu tanda berikut.

  • Berat badan terus turun.
  • Penurunan dua garis persentil.
  • Diare kronis.
  • Muntah berulang.
  • Darah pada tinja.
  • Demam lama.
  • Sesak napas.
  • Edema.
  • Keterlambatan perkembangan.
  • Pembesaran hati atau limpa.
  • Pada kondisi seperti ini, pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dari proses diagnostik.

Bukti Ilmiah di Balik Perubahan Pedoman

  • Pedoman AAP dan NASPGHAN tahun 2026 disusun menggunakan metodologi GRADE, yaitu sistem penilaian kualitas bukti yang banyak digunakan dalam penyusunan pedoman klinis internasional. Pendekatan ini menekankan bahwa pemeriksaan laboratorium harus dilakukan berdasarkan probabilitas penyakit, bukan sebagai skrining rutin.
  • Rekomendasi tersebut juga konsisten dengan pedoman konsensus UCSF serta tinjauan dalam StatPearls yang menyatakan bahwa penyebab tersering berat badan sulit naik adalah asupan kalori yang tidak mencukupi atau masalah perilaku makan, bukan penyakit organik yang dapat ditemukan melalui pemeriksaan darah rutin.

Kesimpulan Klinis

  • Sebagian besar anak yang sulit makan dan berat badannya kurang tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium pada kunjungan pertama. Evaluasi berbasis bukti menunjukkan bahwa riwayat makan yang rinci, pemeriksaan fisik menyeluruh, serta analisis kurva pertumbuhan WHO memiliki nilai diagnostik yang jauh lebih tinggi dibandingkan pemeriksaan darah tanpa indikasi. Pemeriksaan laboratorium sebaiknya dilakukan secara selektif ketika terdapat tanda bahaya, penurunan berat badan yang berlanjut, atau gejala yang mengarah pada penyakit tertentu. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan ketepatan diagnosis, tetapi juga mengurangi pemeriksaan yang tidak perlu, menekan biaya kesehatan, serta mempercepat intervensi nutrisi yang terbukti lebih bermanfaat bagi pertumbuhan anak.

Daftar Pustaka

  • Kersten HB, American Academy of Pediatrics, North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026.
  • North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. Joint Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. NASPGHAN. 2026.
  • American Academy of Pediatrics. AAP Releases New Guidance on Faltering Weight in Children. HealthyChildren.org. 2026.
  • Smith AE, Johnson K. Failure to Thrive. StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. 2023.
  • University of California San Francisco Benioff Children’s Hospitals. Consensus Guidelines for Inadequate Growth (Previously Failure to Thrive). UCSF Benioff Children’s Hospitals. 2023.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *