DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Anemia, Infeksi Berulang, Penyakit Kronis, dan Alergi Makanan pada Anak. Peran Alergi Saluran Cerna, Gangguan Sistem Imun, dan Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penanganan

Anemia, Infeksi Berulang, Penyakit Kronis, dan Alergi Makanan pada Anak. Peran Alergi Saluran Cerna, Gangguan Sistem Imun, dan Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penanganan

Abstrak

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering ditemukan pada anak dengan infeksi berulang dan penyakit kronis. Selain defisiensi besi, anemia dapat terjadi akibat inflamasi kronis yang dikenal sebagai anemia of chronic disease (ACD). Pada anak, salah satu penyebab inflamasi kronis yang sering tidak dikenali adalah alergi makanan, terutama yang mengenai saluran cerna. Peradangan mukosa usus yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu penyerapan zat besi dan mikronutrien, meningkatkan produksi sitokin proinflamasi, serta memengaruhi regulasi hepcidin sehingga pembentukan sel darah merah menjadi tidak optimal. Kondisi tersebut juga dapat disertai gangguan pertumbuhan, weight faltering, dan infeksi saluran napas berulang. Diagnosis memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup riwayat klinis, pemeriksaan laboratorium, evaluasi status gizi, serta Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas untuk memastikan alergi makanan. Penanganan yang tepat terhadap penyebab dasar dapat memperbaiki inflamasi, meningkatkan status gizi, mengurangi infeksi berulang, dan memperbaiki anemia.

Pendahuluan

Anemia pada anak sering dianggap hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi. Padahal, berbagai penyakit kronis yang menimbulkan inflamasi berkepanjangan juga dapat menyebabkan gangguan pembentukan sel darah merah. Kondisi ini dikenal sebagai anemia of chronic disease atau anemia akibat penyakit kronis. Mekanisme utamanya melibatkan peningkatan sitokin inflamasi, terutama interleukin-6, yang merangsang produksi hepcidin di hati. Hepcidin menghambat pelepasan besi dari makrofag dan mengurangi penyerapan besi di usus sehingga besi tersedia dalam jumlah yang lebih sedikit untuk pembentukan hemoglobin.

Pada anak, penyebab inflamasi kronis tidak hanya berasal dari infeksi kronis, penyakit autoimun, atau penyakit ginjal. Alergi makanan, khususnya yang mengenai saluran cerna, juga dapat menimbulkan inflamasi persisten dengan manifestasi yang sering tidak dikenali. Anak dapat datang dengan keluhan sulit makan, konstipasi, diare, muntah, refluks, berat badan sulit naik, anemia, serta infeksi saluran napas berulang. Oleh karena itu, hubungan antara alergi makanan, gangguan saluran cerna, sistem imun, anemia, dan infeksi berulang perlu dipahami agar diagnosis dan penanganan menjadi lebih tepat.

Definisi

Anemia adalah keadaan ketika kadar hemoglobin lebih rendah daripada nilai normal menurut usia dan jenis kelamin sehingga kemampuan darah mengangkut oksigen menurun.

Anemia of chronic disease adalah anemia yang terjadi akibat inflamasi kronis. Pada kondisi ini cadangan besi tubuh sering masih cukup atau bahkan meningkat, tetapi besi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena peningkatan hepcidin dan aktivasi sistem imun.

Infeksi berulang adalah kejadian infeksi yang muncul lebih sering dibandingkan anak seusianya, misalnya infeksi saluran napas atas, otitis media, sinusitis, bronkitis, atau pneumonia yang berulang.

Alergi makanan adalah reaksi sistem imun terhadap protein makanan tertentu yang dimediasi oleh mekanisme IgE, non-IgE, atau kombinasi keduanya. Pada sebagian anak, manifestasi utama terjadi pada saluran cerna tanpa disertai gejala kulit.

Hubungan Alergi Makanan, Alergi Saluran Cerna, dan Anemia

Peradangan kronis pada mukosa usus akibat alergi makanan menyebabkan gangguan penyerapan zat besi, folat, vitamin B12, protein, dan berbagai mikronutrien. Selain itu, sitokin inflamasi meningkatkan produksi hepcidin sehingga besi tidak dapat dimanfaatkan secara efektif untuk eritropoiesis. Akibatnya, anak dapat mengalami anemia meskipun asupan besinya cukup.

Gangguan saluran cerna juga menyebabkan nafsu makan menurun, rasa cepat kenyang, muntah, konstipasi, atau diare kronis. Kondisi tersebut memperburuk kekurangan nutrisi dan menyebabkan weight faltering. Bila berlangsung lama, pertumbuhan tinggi badan juga dapat ikut terhambat.

Pada beberapa anak dapat terjadi kehilangan darah mikroskopik melalui saluran cerna akibat inflamasi mukosa. Kehilangan darah yang berlangsung kronis akan memperberat defisiensi besi dan menambah beratnya anemia.

Inflamasi kronis akibat alergi makanan juga meningkatkan kebutuhan energi tubuh. Energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan dialihkan untuk mempertahankan proses inflamasi sehingga anak tampak sulit naik berat badan dan mudah mengalami kekurangan gizi.

Hubungan Alergi Makanan dan Infeksi Berulang

Mukosa saluran cerna merupakan komponen penting sistem imun. Sebagian besar sel imun tubuh berada pada jaringan limfoid saluran cerna. Peradangan kronis dapat mengganggu fungsi sawar usus, keseimbangan mikrobiota, dan respons imun lokal sehingga daya tahan tubuh terhadap infeksi menjadi kurang optimal.

Penelitian Woicka-Kolejwa dan kolega yang melibatkan 280 anak menunjukkan bahwa infeksi saluran napas berulang ditemukan pada lebih dari setengah anak dengan alergi makanan. Pada anak usia 1 sampai 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat dibandingkan kelompok tanpa sensitisasi.

Infeksi yang sering terjadi meningkatkan produksi sitokin inflamasi sehingga memperberat anemia of chronic disease. Terbentuklah suatu lingkaran yang saling memperburuk antara inflamasi, anemia, infeksi berulang, gangguan nutrisi, dan pertumbuhan.

Tidak semua anak dengan alergi makanan mengalami penurunan kekebalan tubuh secara langsung. Namun, pada sebagian anak dengan alergi saluran cerna yang menetap, inflamasi kronis, gangguan nutrisi, dan weight faltering dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.

Analisis

Pertama, anemia pada anak dengan infeksi berulang tidak boleh langsung dianggap sebagai defisiensi besi sederhana. Dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya inflamasi kronis, terutama bila ferritin normal atau meningkat dan terdapat tanda penyakit kronis.

Kedua, alergi makanan sering hanya menimbulkan gejala saluran cerna sehingga diagnosis mudah terlewat. Anak lebih sering datang dengan konstipasi, refluks, muntah, sulit makan, anemia, atau pertumbuhan yang melambat dibandingkan dengan keluhan kulit.

Ketiga, pembatasan makanan tanpa diagnosis yang tepat dapat memperburuk anemia dan gangguan pertumbuhan. Eliminasi makanan yang tidak perlu dapat menyebabkan kekurangan protein, zat besi, vitamin B12, kalsium, dan berbagai mikronutrien penting.

Keempat, pendekatan yang berfokus pada penyebab utama memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan hanya memberikan suplemen zat besi, antibiotik berulang, atau vitamin penambah nafsu makan tanpa mencari sumber inflamasi yang mendasari.

Penanganan dan Peran Oral Food Challenge

Penanganan dimulai dengan evaluasi menyeluruh terhadap penyebab anemia, infeksi berulang, dan gangguan pertumbuhan. Pemeriksaan meliputi darah lengkap, indeks eritrosit, retikulosit, feritin, saturasi transferin, C-reactive protein, laju endap darah, serta pemeriksaan lain sesuai indikasi klinis.

Bila terdapat kecurigaan alergi makanan berdasarkan riwayat dan gejala, evaluasi dilakukan menggunakan pendekatan klinis yang sistematis. Skin prick test dan IgE spesifik dapat membantu pada alergi yang dimediasi IgE, tetapi hasilnya tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis tunggal karena hanya menunjukkan sensitisasi.

Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan reaksi alergi. Pemeriksaan ini membantu menghindari overdiagnosis dan mencegah eliminasi makanan yang tidak diperlukan. Dengan mengetahui makanan penyebab secara pasti, diet eliminasi dapat dilakukan secara terarah sehingga kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.

Setelah penyebab inflamasi diatasi, dilakukan terapi nutrisi yang adekuat, koreksi defisiensi zat besi bila ada, serta pemantauan kurva pertumbuhan WHO secara berkala. Pada anemia of chronic disease, perbaikan penyakit yang mendasari merupakan terapi utama. Suplementasi zat besi, eritropoietin, atau terapi lain diberikan sesuai indikasi dan penyebab yang ditemukan.

Kesimpulan

Anemia, infeksi berulang, dan weight faltering pada anak sering saling berkaitan melalui mekanisme inflamasi kronis. Selain infeksi dan penyakit sistemik, alergi makanan yang mengenai saluran cerna merupakan salah satu penyebab penting yang sering tidak dikenali. Peradangan usus dapat mengganggu penyerapan zat gizi, meningkatkan produksi hepcidin, menimbulkan anemia, serta berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan dan infeksi berulang. Diagnosis yang tepat memerlukan evaluasi klinis yang komprehensif dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas untuk konfirmasi alergi makanan. Penanganan yang berfokus pada penyebab dasar, disertai terapi nutrisi yang tepat dan pemantauan pertumbuhan, memberikan peluang terbaik untuk memperbaiki anemia, menurunkan frekuensi infeksi, dan mengembalikan pertumbuhan anak ke jalur yang optimal.

Daftar Pustaka

  1. Abbotts K, Sriskandarajah P. Anemia of Chronic Disease: Pathophysiology, Diagnosis and Management. Hematology Reports. 2026;18(4):48. doi:10.3390/hematolrep18040048.
  2. Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatologii i Alergologii. 2016;33(2):109-113. doi:10.5114/ada.2016.59151.
  3. Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an Oral Food Challenge: An Update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.
  4. Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and Management of Food Allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429.
  5. Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy: A Review. New England Journal of Medicine. 2018;379(13):1252-1261. doi:10.1056/NEJMra1716608.
  6. World Health Organization. WHO Child Growth Standards: Length/Height-for-Age, Weight-for-Age, Weight-for-Length, Weight-for-Height and Body Mass Index-for-Age. Geneva: World Health Organization; 2006.
  7. National Institute for Health and Care Excellence. Faltering Growth: Recognition and Management of Faltering Growth in Children. NICE Guideline NG75. London: NICE; 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *