Irritable Bowel Syndrome pada Anak dan Hubungannya dengan Alergi Makanan: Tinjauan Literatur Berbasis Bukti

Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan salah satu gangguan fungsional saluran cerna yang sering ditemukan pada anak dan remaja. Penyakit ini ditandai oleh nyeri perut berulang yang disertai perubahan pola buang air besar tanpa adanya kelainan struktural atau biokimia yang dapat menjelaskan gejala. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap peran makanan dalam patogenesis IBS semakin meningkat, terutama hubungan antara intoleransi makanan, alergi makanan, aktivasi imun mukosa, perubahan mikrobiota usus, dan gangguan gut-brain axis. Walaupun alergi makanan bukan penyebab utama IBS, bukti ilmiah menunjukkan bahwa pada sebagian pasien, terutama anak dengan riwayat penyakit atopi, alergi makanan dapat memperberat gejala gastrointestinal. Diagnosis harus dilakukan secara komprehensif melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, evaluasi pola feses menggunakan Bristol Stool Scale, serta pemeriksaan alergi sesuai indikasi. Artikel ini membahas hubungan IBS pada anak dengan alergi makanan berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Kata kunci: Irritable Bowel Syndrome, anak, alergi makanan, Bristol Stool Scale, gastrointestinal, gut-brain axis.
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan interaksi otak dan usus (disorder of gut-brain interaction) yang banyak dijumpai pada populasi anak. Keluhan utama berupa nyeri perut kronis atau berulang yang berkaitan dengan perubahan frekuensi maupun konsistensi buang air besar. Meskipun tidak menyebabkan kerusakan organ saluran cerna, IBS dapat mengganggu aktivitas belajar, kualitas hidup, pola tidur, status gizi, dan kondisi psikososial anak. Diagnosis ditegakkan berdasarkan Kriteria Rome IV setelah penyebab organik disingkirkan.
Peran makanan dalam IBS masih menjadi topik penelitian yang berkembang. Sebagian besar pasien melaporkan gejala memburuk setelah mengonsumsi makanan tertentu, namun tidak semua disebabkan oleh alergi makanan. Reaksi terhadap makanan dapat berupa intoleransi karbohidrat, hipersensitivitas viseral, perubahan mikrobiota usus, maupun alergi makanan yang dimediasi imun. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pada sebagian anak dengan IBS dan riwayat penyakit atopi, alergi makanan dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap timbulnya gejala gastrointestinal. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan perlu dipertimbangkan secara selektif pada pasien dengan indikasi klinis yang sesuai.
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang paling sering dijumpai, dengan prevalensi sekitar 12% hingga 30% pada populasi umum. Sebagian besar pasien melaporkan bahwa gejala seperti nyeri perut, kembung, diare, atau konstipasi dipicu oleh makanan tertentu. Tinjauan sistematis oleh Mansueto dkk. yang menganalisis 73 publikasi ilmiah menunjukkan bahwa faktor diet memiliki peran penting dalam patogenesis dan tata laksana IBS. Hubungan antara IBS dengan atopi, alergi makanan, intoleransi makanan, serta sensitivitas gandum non-celiac (non-celiac wheat sensitivity) semakin banyak dilaporkan, meskipun mekanisme yang mendasarinya masih belum sepenuhnya dipahami.
Berdasarkan bukti yang tersedia, penulis menyimpulkan bahwa alergi makanan belum dapat dianggap sebagai penyebab utama IBS, tetapi perlu dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang berkontribusi pada sebagian pasien, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit atopi atau gejala yang konsisten setelah mengonsumsi makanan tertentu. Oleh karena itu, pendekatan diet, termasuk eliminasi makanan secara selektif, dapat menjadi bagian dari tata laksana klinis setelah dilakukan evaluasi yang tepat. Diagnosis alergi makanan tidak boleh hanya didasarkan pada keluhan atau hasil pemeriksaan laboratorium semata, tetapi harus dikonfirmasi melalui pendekatan klinis yang komprehensif, termasuk diet eliminasi terarah dan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan timbulnya gejala.
Definisi Irritable Bowel Syndrome pada Anak
Irritable Bowel Syndrome (IBS) pada anak merupakan gangguan interaksi otak dan usus (disorder of gut-brain interaction) yang ditandai oleh nyeri perut berulang yang berhubungan dengan proses buang air besar, disertai perubahan frekuensi atau konsistensi feses tanpa ditemukan kelainan anatomi, inflamasi, infeksi, maupun kelainan biokimia yang dapat menjelaskan gejala. Menurut Kriteria Rome IV, diagnosis IBS pada anak ditegakkan apabila gejala muncul minimal satu hari per minggu selama sedikitnya dua bulan terakhir dan berkaitan dengan defekasi atau perubahan pola buang air besar.
IBS merupakan salah satu gangguan gastrointestinal fungsional tersering pada anak usia sekolah dan remaja. Walaupun tidak meningkatkan risiko kanker maupun penyakit radang usus, IBS dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup, penurunan prestasi belajar, absensi sekolah, gangguan tidur, kecemasan, serta meningkatnya penggunaan pelayanan kesehatan.
Epidemiologi
Prevalensi IBS pada anak di berbagai negara berkisar antara 5 hingga 14%, tergantung populasi, usia, dan kriteria diagnosis yang digunakan. Rome IV menunjukkan prevalensi yang sedikit lebih rendah dibandingkan Rome III karena menggunakan kriteria diagnosis yang lebih spesifik. IBS lebih sering ditemukan pada anak usia sekolah dan remaja dibandingkan balita. Pada masa remaja, angka kejadian sedikit lebih tinggi pada perempuan.
Faktor risiko yang berhubungan dengan IBS meliputi riwayat infeksi saluran cerna, stres psikososial, kecemasan, gangguan tidur, riwayat keluarga dengan IBS, perubahan mikrobiota usus, obesitas, serta penyakit alergi seperti dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dengan penyakit atopi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan gastrointestinal fungsional dibandingkan populasi umum.
Patofisiologi IBS
Patofisiologi IBS bersifat kompleks dan melibatkan interaksi berbagai mekanisme biologis. Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kasus IBS.
Mekanisme yang paling banyak diteliti meliputi:
- • Gangguan motilitas usus sehingga waktu transit kolon menjadi lebih lambat atau lebih cepat.
- • Hipersensitivitas viseral yang menyebabkan rangsangan normal pada usus dirasakan sebagai nyeri.
- • Gangguan komunikasi gut-brain axis sehingga sistem saraf pusat dan sistem saraf enterik memberikan respons yang berlebihan terhadap rangsangan saluran cerna.
- • Perubahan mikrobiota usus yang menyebabkan gangguan fermentasi makanan, peningkatan produksi gas, dan perubahan metabolit usus.
- • Aktivasi sistem imun mukosa derajat ringan yang ditandai peningkatan sel mast, eosinofil, limfosit, dan mediator inflamasi pada sebagian pasien.
- • Peningkatan permeabilitas mukosa usus sehingga antigen makanan lebih mudah menembus lapisan epitel.
- • Faktor psikologis seperti stres kronis, kecemasan, dan depresi yang dapat memperburuk gejala melalui jalur neuroimun.
Hubungan Gut-Brain Axis, Mikrobiota, dan Sistem Imun
- Usus memiliki sistem saraf enterik yang berkomunikasi secara terus-menerus dengan otak melalui gut-brain axis. Gangguan komunikasi ini menyebabkan perubahan motilitas usus, peningkatan sensitivitas nyeri, serta perubahan respons imun.
- Disbiosis mikrobiota usus dapat mengubah produksi asam lemak rantai pendek, neurotransmiter, dan metabolit lain yang memengaruhi fungsi epitel usus. Kondisi ini dapat meningkatkan permeabilitas mukosa sehingga antigen makanan lebih mudah mengaktifkan sistem imun.
- Pada sebagian pasien IBS ditemukan peningkatan jumlah sel mast di mukosa usus. Sel mast melepaskan histamin, triptase, prostaglandin, dan sitokin yang dapat meningkatkan permeabilitas usus, merangsang saraf sensorik, dan menimbulkan nyeri perut serta perubahan motilitas usus. Mekanisme ini diduga menjadi salah satu penghubung antara alergi makanan dan gejala IBS pada sebagian anak.
Alergi Makanan dan IBS pada Anak
Konsep bahwa alergi atau reaksi terhadap makanan berperan dalam Irritable Bowel Syndrome (IBS) telah lama menjadi perhatian, namun mekanismenya masih belum sepenuhnya dipahami. Isolauri, Rautava, dan Kalliomäki menyatakan bahwa semakin banyak bukti menunjukkan makanan tertentu dapat memicu atau memperberat gejala IBS pada sebagian pasien. Beberapa penelitian melaporkan bahwa diet eliminasi yang disusun berdasarkan makanan yang diduga sebagai pemicu dapat menurunkan derajat keparahan gejala IBS, sehingga menunjukkan bahwa faktor makanan memiliki peran pada kelompok pasien tertentu. Namun, hubungan tersebut tidak berlaku pada seluruh penderita IBS karena penyakit ini memiliki mekanisme yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor.
Penelitian tersebut juga melaporkan bahwa perbaikan gejala ditemukan pada pasien yang menjalani diet eliminasi berdasarkan hasil peningkatan antibodi IgG terhadap makanan tertentu. Meskipun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa antibodi IgG merupakan penanda alergi makanan atau dapat digunakan sebagai dasar diagnosis IBS maupun alergi makanan. IgG lebih banyak mencerminkan paparan terhadap makanan daripada reaksi alergi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami mekanisme pembentukan IgG terhadap antigen makanan dan kemungkinan perannya dalam patogenesis IBS. Saat ini, pemeriksaan IgG makanan belum direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin, sedangkan diagnosis alergi makanan tetap harus didasarkan pada riwayat klinis yang sesuai dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge sebagai baku emas.
Sebagian besar anak dengan IBS tidak mengalami alergi makanan yang sebenarnya. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sebagian pasien IBS memiliki penyakit atopi atau menunjukkan respons imun terhadap makanan tertentu yang dapat memperberat gejala gastrointestinal.
Gejala yang sering dikaitkan dengan makanan meliputi nyeri perut, kembung, diare, konstipasi, mual, muntah, rasa cepat kenyang, serta perubahan konsistensi feses. Mekanisme tersebut dapat disebabkan oleh alergi makanan yang dimediasi IgE, alergi non-IgE, intoleransi makanan, maupun hipersensitivitas terhadap komponen makanan tertentu.
Tinjauan sistematis oleh Pasta dkk. (2024) menyimpulkan bahwa hubungan antara alergi makanan dan IBS masih menunjukkan hasil yang beragam. Bukti yang tersedia belum mendukung pemeriksaan alergi secara rutin pada seluruh pasien IBS. Evaluasi alergi makanan sebaiknya dilakukan pada pasien dengan riwayat penyakit atopi, gejala yang muncul secara konsisten setelah mengonsumsi makanan tertentu, atau adanya manifestasi alergi lain seperti dermatitis atopik, urtikaria, rinitis alergi, atau asma. Pada kondisi tersebut, pendekatan diagnosis yang terarah dapat membantu mengidentifikasi pasien yang benar-benar memperoleh manfaat dari eliminasi makanan atau Oral Food Challenge (OFC). Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperjelas hubungan kausal antara alergi makanan dan IBS pada anak.
Hubungan Intoleransi Makanan dengan Irritable Bowel Syndrome
Sebuah penelitian observasional di Amerika Serikat mengevaluasi hubungan antara intoleransi makanan, Irritable Bowel Syndrome (IBS), kualitas hidup, serta gangguan psikologis pada orang dewasa. Penelitian melibatkan 470 peserta, terdiri atas 197 individu dengan intoleransi makanan dan 273 kelompok kontrol tanpa intoleransi. Kelompok intoleransi dibagi menjadi intoleransi laktosa, intoleransi makanan nonlaktosa, serta kombinasi intoleransi laktosa dan makanan lainnya. Makanan yang paling sering memicu gejala adalah laktosa, gandum, dan telur. Keluhan gastrointestinal yang paling banyak dilaporkan meliputi perut bergas atau kembung (54,2%), nyeri perut (40,2%), dan diare (37,3%). Lebih dari separuh peserta, yaitu 57,8%, memilih menghindari makanan yang dicurigai sebagai pemicu gejala.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok dengan intoleransi makanan memiliki risiko IBS yang lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa intoleransi. Kelompok dengan kombinasi intoleransi laktosa dan makanan lain menunjukkan angka IBS tertinggi, disertai tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi serta kualitas hidup yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa intoleransi makanan tidak hanya berkaitan dengan keluhan saluran cerna, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan psikologis dan kualitas hidup. Meskipun demikian, intoleransi makanan berbeda dengan alergi makanan karena tidak melibatkan mekanisme imun. Oleh karena itu, evaluasi pasien dengan dugaan IBS memerlukan pendekatan yang komprehensif untuk membedakan intoleransi makanan, alergi makanan, dan gangguan gastrointestinal lainnya sehingga terapi yang diberikan lebih tepat sasaran.
Sekitar 80% pasien dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS) melaporkan bahwa gejalanya muncul atau memburuk setelah mengonsumsi makanan tertentu. Gluten, gandum, protein gandum seperti amylase-trypsin inhibitors (ATI), serta karbohidrat fermentabel atau FODMAP merupakan pemicu yang paling sering dilaporkan, meskipun komponen penyebab yang sebenarnya masih belum dapat dipastikan. Selain penyakit celiac dan alergi gandum, dikenal pula kondisi non-celiac gluten sensitivity (NCGS), yaitu munculnya gejala setelah konsumsi gluten tanpa bukti penyakit celiac maupun alergi gandum. Hingga saat ini, batas antara IBS, NCGS, penyakit celiac, dan alergi gandum masih sulit dibedakan karena gejalanya saling tumpang tindih, mekanisme penyakitnya belum sepenuhnya dipahami, serta belum tersedia baku emas untuk diagnosis NCGS. Oleh karena itu, pemahaman mengenai hubungan antara IBS, intoleransi makanan, alergi makanan, serta sensitivitas terhadap gluten, gandum, dan FODMAP sangat penting untuk menentukan pendekatan diet dan tata laksana yang tepat pada pasien IBS.
Mekanisme Inflamasi Mukosa dan Aktivasi Sel Mast pada IBS
Meskipun IBS termasuk gangguan fungsional saluran cerna, berbagai penelitian menunjukkan adanya inflamasi mukosa derajat ringan pada sebagian pasien. Peningkatan jumlah sel mast, eosinofil, limfosit, dan mediator inflamasi ditemukan pada mukosa usus, terutama pada pasien dengan IBS yang disertai penyakit atopi atau keluhan yang dipicu makanan. Sel mast yang teraktivasi melepaskan histamin, triptase, prostaglandin, dan sitokin proinflamasi yang meningkatkan permeabilitas mukosa usus, merangsang saraf sensorik, serta mengubah motilitas saluran cerna. Mekanisme ini menyebabkan nyeri perut, kembung, diare, maupun konstipasi. Namun, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa aktivasi imun tersebut hanya ditemukan pada sebagian pasien dan belum dapat menjelaskan seluruh kasus IBS.
Peran Bristol Stool Scale dalam Evaluasi Pola Feses
Bristol Stool Scale (BSS) merupakan alat sederhana yang mengklasifikasikan bentuk feses menjadi tujuh tipe berdasarkan konsistensi. Skala ini digunakan untuk memperkirakan waktu transit kolon, membantu klasifikasi IBS, serta memantau respons terapi. Tipe 1 hingga 2 menunjukkan konstipasi, tipe 3 hingga 4 merupakan pola feses normal, sedangkan tipe 6 hingga 7 menunjukkan diare. Pada pasien dengan IBS, pencatatan pola feses menggunakan BSS memudahkan identifikasi subtipe IBS-C, IBS-D, IBS-M, maupun IBS-U. Selain itu, perubahan pola feses menuju tipe 3 atau 4 dapat digunakan sebagai indikator perbaikan klinis selama pengobatan.
Pendekatan Diagnosis IBS dengan Dugaan Alergi Makanan
Diagnosis Irritable Bowel Syndrome (IBS) tetap didasarkan pada Kriteria Rome IV setelah penyebab organik, seperti penyakit celiac, penyakit radang usus, infeksi saluran cerna, maupun kelainan anatomis berhasil disingkirkan. Evaluasi alergi makanan tidak direkomendasikan secara rutin pada seluruh pasien IBS, tetapi perlu dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat penyakit atopi, seperti dermatitis atopik, asma, atau rinitis alergi, gejala yang muncul secara konsisten setelah mengonsumsi makanan tertentu, atau keluhan gastrointestinal yang menetap. Pendekatan diagnosis meliputi anamnesis yang rinci, pencatatan buku harian makanan dan gejala, pemeriksaan fisik, evaluasi pola feses menggunakan Bristol Stool Scale, serta pemeriksaan IgE spesifik atau uji tusuk kulit bila terdapat dugaan alergi makanan yang dimediasi IgE. Sebaliknya, pemeriksaan IgG makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan karena belum didukung bukti ilmiah yang memadai.
Apabila hasil anamnesis menunjukkan hubungan yang kuat antara konsumsi makanan tertentu dan timbulnya gejala, dapat dilakukan diet eliminasi secara terarah dalam waktu terbatas dengan pemantauan klinis yang ketat. Namun, perbaikan gejala selama eliminasi belum dapat memastikan adanya alergi makanan karena dapat dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk efek plasebo atau perubahan komposisi diet. Oleh karena itu, Oral Food Challenge (OFC), terutama uji tantang makanan terbuka atau double-blind placebo-controlled food challenge (DBPCFC) pada kondisi tertentu, tetap merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. OFC dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman karena berisiko menimbulkan reaksi alergi. Pada pasien IBS, OFC membantu membedakan alergi makanan yang sebenarnya dari intoleransi makanan atau hipersensitivitas terhadap makanan, sehingga pembatasan diet yang tidak perlu dapat dihindari dan tata laksana menjadi lebih tepat sasaran.
Eliminasi makanan dilakukan apabila terdapat dugaan kuat bahwa makanan tertentu memicu gejala. Diet eliminasi harus bersifat terarah, berdasarkan riwayat klinis, dan dilakukan dalam waktu terbatas agar tidak menimbulkan kekurangan gizi. Bila gejala membaik selama eliminasi, diagnosis alergi makanan tidak dapat langsung ditegakkan karena perbaikan juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, termasuk efek plasebo. Oleh karena itu, Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan gejala. Pada pasien IBS, OFC hanya dilakukan bila terdapat indikasi klinis yang kuat dan setelah evaluasi menyeluruh oleh dokter.
Tata Laksana Berbasis Bukti
Penatalaksanaan IBS pada anak bersifat individual sesuai gejala yang dominan. Edukasi pasien dan keluarga merupakan langkah pertama untuk menjelaskan bahwa IBS adalah gangguan fungsional yang tidak menyebabkan kerusakan usus. Modifikasi pola makan, termasuk pengaturan asupan serat, cairan, dan identifikasi makanan pemicu, dapat memberikan manfaat pada sebagian pasien. Diet rendah FODMAP dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu dengan pendampingan ahli gizi. Probiotik tertentu terbukti dapat membantu mengurangi gejala pada sebagian anak, meskipun efektivitasnya berbeda menurut jenis strain. Terapi farmakologis diberikan sesuai gejala, seperti laksatif untuk konstipasi atau antidiare untuk diare. Pendekatan psikologis, termasuk cognitive behavioral therapy dan teknik relaksasi, juga dapat membantu pada pasien dengan stres atau kecemasan yang memperberat gejala. Eliminasi makanan hanya dianjurkan bila terdapat indikasi yang jelas dan tidak dilakukan secara sembarangan.
Kesimpulan
IBS pada anak merupakan gangguan interaksi otak dan usus dengan penyebab yang kompleks dan melibatkan faktor biologis, psikologis, mikrobiota, serta lingkungan. Sebagian pasien melaporkan gejala yang berkaitan dengan makanan, tetapi alergi makanan hanya berperan pada kelompok tertentu dan bukan merupakan penyebab utama IBS. Bristol Stool Scale merupakan alat yang sederhana, valid, dan bermanfaat untuk mengevaluasi pola feses, menentukan subtipe IBS, serta memantau respons terapi. Pendekatan diagnosis harus dilakukan secara komprehensif dengan membedakan IBS, intoleransi makanan, dan alergi makanan. Diet eliminasi perlu dilakukan secara selektif dan Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk mengonfirmasi alergi makanan. Pendekatan berbasis bukti yang menggabungkan edukasi, modifikasi gaya hidup, terapi nutrisi, serta intervensi farmakologis dan psikologis sesuai indikasi memberikan hasil terbaik dalam tata laksana IBS pada anak.
Daftar Pustaka
- Pasta A, Formisano E, Calabrese F, Plaz Torres MC, Bodini G, Marabotto E, Pisciotta L, Giannini EG, Furnari M. Food Intolerances, Food Allergies and IBS: Lights and Shadows. Nutrients. 2024;16(2):265. doi:10.3390/nu16020265.
- Isolauri E, Rautava S, Kalliomäki M. Food allergy in irritable bowel syndrome: new facts and old fallacies. Gut. 2004 Oct;53(10):1391-3. doi: 10.1136/gut.2004.044990. PMID: 15361481; PMCID: PMC1774228.
- Mansueto P, D’Alcamo A, Seidita A, Carroccio A. Food allergy in irritable bowel syndrome: The case of non-celiac wheat sensitivity. World J Gastroenterol. 2015 Jun 21;21(23):7089-109. doi: 10.3748/wjg.v21.i23.7089. PMID: 26109796; PMCID: PMC4476871.
- Jansson-Knodell CL, White M, Lockett C, Xu H, Shin A. Associations of Food Intolerance with Irritable Bowel Syndrome, Psychological Symptoms, and Quality of Life. Clin Gastroenterol Hepatol. 2022 Sep;20(9):2121-2131.e3. doi: 10.1016/j.cgh.2021.12.021. Epub 2021 Dec 21. PMID: 34952206; PMCID: PMC9209586.
- Soares RLS. IRRITABLE BOWEL SYNDROME, FOOD INTOLERANCE AND NON- CELIAC GLUTEN SENSITIVITY. A NEW CLINICAL CHALLENGE. Arq Gastroenterol. 2018 Oct-Dec;55(4):417-422. doi: 10.1590/S0004-2803.201800000-88. PMID: 30785529.
- Hyams JS, Di Lorenzo C, Saps M, Shulman RJ, Staiano A, Van Tilburg MAL. Functional Disorders: Children and Adolescents. Gastroenterology. 2016. doi:10.1053/j.gastro.2016.02.015.
- Drossman DA, Hasler WL. Rome IV Functional Gastrointestinal Disorders: Disorders of Gut-Brain Interaction. Gastroenterology. 2016;150:1257-1261.
- Lacy BE, Mearin F, Chang L, et al. Bowel Disorders. Gastroenterology. 2016;150:1393-1407.
- Nowak-Wegrzyn A, Katz Y, Mehr SS, Koletzko S. Non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2015;135(5):1114-1124.
- Shulman RJ, et al. The Role of Diet in Functional Abdominal Pain Disorders in Children. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2022.
- Koppen IJN, Benninga MA, Tabbers MM. Is There a Role for Food Allergy in Functional Gastrointestinal Disorders? Current Gastroenterology Reports. 2016;18:23.







Leave a Reply