DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Alergi Makanan dan Rinitis Alergi: Interaksi Imunologis antara Saluran Cerna dan Mukosa Hidung dalam Perspektif Diagnosis dan Tata Laksana Berbasis Bukti

Alergi Makanan dan Rinitis Alergi: Interaksi Imunologis antara Saluran Cerna dan Mukosa Hidung dalam Perspektif Diagnosis dan Tata Laksana Berbasis Bukti

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Alergi makanan dan rinitis alergi merupakan dua kondisi inflamasi yang memiliki dasar imunologis serupa, terutama melalui aktivasi jalur imun tipe 2, produksi imunoglobulin E (IgE), aktivasi sel mast, dan infiltrasi eosinofil. Rinitis alergi terutama disebabkan oleh sensitisasi terhadap aeroalergen seperti tungau debu rumah, serbuk sari, dan bulu hewan. Namun, pada sebagian pasien, makanan dapat berperan dalam memicu atau memperberat gejala hidung melalui mekanisme alergi makanan, sindrom alergi oral, reaksi silang antara makanan dan aeroalergen, maupun food rhinitis.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa sensitisasi terhadap makanan dapat ditemukan pada sebagian pasien dengan rinitis alergi, terutama pada individu dengan kecenderungan atopi atau penyakit alergi multipel. Studi Sikdar et al. tahun 2023 pada 218 pasien rinitis alergi dewasa menunjukkan adanya sensitisasi terhadap berbagai alergen makanan berdasarkan pemeriksaan skin prick test, meskipun hasil sensitisasi tidak selalu menunjukkan hubungan sebab akibat dengan gejala klinis. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa food rhinitis merupakan kondisi yang relatif jarang dan sering berhubungan dengan penyakit alergi atau gangguan hidung lainnya.

Diagnosis harus dilakukan secara sistematis berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan alergi yang sesuai indikasi. Skin prick test dan serum specific IgE dapat membantu mendeteksi sensitisasi, tetapi tidak dapat digunakan secara tunggal untuk menetapkan diagnosis alergi makanan. Oral food challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan hubungan antara makanan tertentu dengan munculnya gejala. Pemahaman yang tepat mengenai hubungan alergi makanan dan rinitis alergi diperlukan untuk mencegah overdiagnosis, pembatasan makanan yang tidak diperlukan, serta memastikan pasien memperoleh terapi yang sesuai.

 

Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis pada mukosa hidung yang terjadi akibat respons imun berlebihan terhadap alergen tertentu. Penyakit ini menjadi salah satu gangguan alergi yang paling sering ditemukan dengan gejala utama berupa bersin berulang, rasa gatal pada hidung, rinore, dan hidung tersumbat. Mekanisme utama rinitis alergi melibatkan sensitisasi terhadap aeroalergen seperti tungau debu rumah, serbuk sari, jamur, dan epitel hewan yang kemudian menyebabkan aktivasi respons imun tipe 2.

Dalam beberapa dekade terakhir, perhatian terhadap hubungan antara makanan dan gangguan hidung semakin meningkat. Makanan dapat menyebabkan gejala hidung melalui berbagai mekanisme, tetapi tidak semua keluhan setelah makan menunjukkan adanya alergi makanan. Sebagian besar pasien dengan rinitis alergi memiliki pencetus utama berupa aeroalergen, sedangkan makanan hanya berperan pada kelompok tertentu. Oleh karena itu, evaluasi hubungan alergi makanan dan rinitis harus dilakukan secara hati-hati untuk membedakan alergi makanan sejati, sindrom alergi oral, food rhinitis, serta reaksi nonalergi terhadap makanan.

Penelitian Sikdar et al. tahun 2023 memberikan gambaran mengenai keberadaan sensitisasi makanan pada pasien rinitis alergi dewasa. Studi selama empat tahun tersebut melibatkan 218 pasien dengan rinitis alergi di India Tengah yang menjalani pemeriksaan skin prick test terhadap 125 alergen makanan dan 75 aeroalergen. Penelitian menemukan adanya sensitivitas terhadap berbagai alergen makanan, dengan pola yang berbeda sesuai karakteristik populasi. Namun, hasil positif pada pemeriksaan menunjukkan sensitisasi imun dan tidak selalu membuktikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab gejala rinitis secara klinis.

Imunopatofisiologi Alergi Makanan dan Rinitis Alergi

Alergi makanan dan rinitis alergi memiliki dasar imunopatologi yang sama berupa dominasi respons imun tipe 2. Pada individu dengan predisposisi alergi, paparan antigen makanan maupun aeroalergen menyebabkan aktivasi sel penyaji antigen, terutama sel dendritik, yang kemudian mempresentasikan antigen kepada limfosit T naive. Proses ini menyebabkan diferensiasi menjadi limfosit T helper 2 (Th2) yang menghasilkan berbagai sitokin proalergi seperti interleukin-4 (IL-4), interleukin-5 (IL-5), dan interleukin-13 (IL-13).

Pada alergi makanan yang diperantarai IgE, IL-4 dan IL-13 merangsang sel B untuk melakukan perubahan kelas imunoglobulin dan menghasilkan IgE spesifik terhadap protein makanan tertentu. IgE tersebut kemudian berikatan dengan reseptor FcεRI pada permukaan sel mast dan basofil. Ketika individu kembali mengonsumsi makanan yang sama, alergen akan berikatan dengan IgE tersebut dan menyebabkan aktivasi sel mast. Proses degranulasi menghasilkan pelepasan histamin, triptase, leukotrien, prostaglandin, dan berbagai mediator inflamasi lainnya.

Mediator inflamasi tersebut menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, kontraksi otot polos, stimulasi saraf sensorik, serta peningkatan produksi mukus. Pada alergi makanan, proses ini dapat menyebabkan gejala seperti gatal rongga mulut, edema bibir, urtikaria, gangguan pencernaan, bronkospasme, hingga anafilaksis. Pada beberapa pasien, respons inflamasi juga dapat memengaruhi daerah kepala dan leher seperti tenggorok dan laring.

Pada rinitis alergi, proses imun yang serupa terjadi terutama pada mukosa hidung. Pajanan aeroalergen menyebabkan aktivasi sel dendritik dan pembentukan IgE spesifik terhadap alergen inhalan. IgE yang melekat pada sel mast mukosa hidung akan memicu pelepasan mediator inflamasi saat terjadi pajanan ulang. Fase awal menyebabkan bersin, gatal, dan rinore akibat pelepasan histamin. Beberapa jam kemudian terjadi fase lambat yang ditandai infiltrasi eosinofil, limfosit Th2, dan sel inflamasi lainnya sehingga menyebabkan inflamasi mukosa yang menetap dan hidung tersumbat kronis.

Hubungan antara alergi makanan dan rinitis alergi dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Pertama, pasien dengan rinitis alergi memiliki kecenderungan atopi sehingga lebih mudah mengalami sensitisasi terhadap berbagai antigen. Kedua, terdapat kemungkinan reaksi silang antara protein makanan dan aeroalergen melalui mekanisme pollen food allergy syndrome. Ketiga, inflamasi tipe 2 sistemik dapat meningkatkan sensitivitas berbagai permukaan mukosa, termasuk saluran cerna dan saluran napas atas.

Mekanisme Hubungan Alergi Makanan dengan Rinitis Alergi

Mekanisme Penjelasan Manifestasi
Alergi makanan IgE Aktivasi sel mast akibat IgE spesifik makanan Rinore, hidung tersumbat, gejala sistemik
Sindrom alergi oral Reaksi silang protein makanan dengan aeroalergen Gatal mulut, bibir bengkak, gejala hidung
Food rhinitis Gejala hidung setelah konsumsi makanan Bersin, rinore setelah makan
Inflamasi tipe 2 Aktivasi eosinofil dan sitokin alergi Inflamasi mukosa kronis
Refleks gustatori Aktivasi saraf sensorik oleh makanan Rinore setelah makanan pedas

Sensitisasi Makanan pada Pasien Rinitis Alergi

  • Pasien dengan rinitis alergi memiliki sistem imun yang lebih mudah bereaksi terhadap berbagai antigen. Kondisi atopi menyebabkan peningkatan aktivitas jalur Th2, produksi IgE, serta infiltrasi eosinofil pada jaringan. Pada kelompok pasien tertentu, sensitisasi terhadap makanan dapat ditemukan terutama bila terdapat riwayat alergi multipel seperti dermatitis atopik, asma, atau alergi makanan sebelumnya.
  • Namun, sensitisasi makanan tidak selalu berarti adanya alergi makanan klinis. Pemeriksaan skin prick test atau serum specific IgE hanya menunjukkan bahwa sistem imun mengenali protein tertentu. Diagnosis alergi makanan membutuhkan hubungan yang jelas antara konsumsi makanan dan munculnya gejala.
  • Studi Sikdar et al. tahun 2023 menunjukkan bahwa pasien rinitis alergi dapat memiliki sensitivitas terhadap berbagai alergen makanan. Penelitian tersebut menemukan variasi pola alergen berdasarkan wilayah geografis dan karakteristik populasi. Hasil ini mendukung bahwa makanan dapat berperan pada sebagian pasien, tetapi evaluasi harus dilakukan secara individual berdasarkan riwayat klinis.

Food Rhinitis

  • Food rhinitis adalah kondisi ketika konsumsi makanan menyebabkan gejala hidung seperti rinore, bersin, atau rasa tidak nyaman pada hidung. Kondisi ini berbeda dengan rinitis alergi klasik karena pencetus utamanya bukan selalu aeroalergen dan mekanismenya tidak selalu melibatkan IgE.
  • Menurut Ciprandi et al. tahun 2024, makanan dapat menyebabkan rinitis melalui beberapa jalur, yaitu mekanisme IgE, inflamasi tipe 2 non-IgE, hiperreaktivitas mukosa, dan respons saraf terhadap rangsangan makanan. Contohnya, makanan pedas dapat menyebabkan rinore melalui stimulasi saraf sensorik tanpa adanya reaksi alergi.
  • Food rhinitis sebagai penyakit tunggal relatif jarang ditemukan. Sebagian besar pasien memiliki kondisi lain seperti rinitis alergi, rinitis nonalergi, atau penyakit alergi sistemik. Oleh karena itu, evaluasi pasien harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan penyebab sebelum menetapkan diagnosis.

Diagnosis

  • Diagnosis alergi makanan pada pasien dengan rinitis alergi harus dimulai dengan anamnesis yang rinci. Informasi penting meliputi hubungan waktu antara konsumsi makanan dan munculnya gejala, jumlah makanan yang menyebabkan reaksi, konsistensi keluhan, serta adanya gejala alergi lain seperti dermatitis atopik, asma, atau gangguan saluran cerna.
  • Skin prick test dan serum specific IgE dapat digunakan untuk mendukung diagnosis pada pasien dengan dugaan alergi makanan tertentu. Namun, hasil positif harus diinterpretasikan bersama gejala klinis karena sensitisasi tidak selalu menunjukkan penyakit alergi.
  • Pada kasus tertentu, oral food challenge diperlukan untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala. Pemeriksaan alternatif seperti IgG makanan tidak direkomendasikan karena tidak dapat membedakan toleransi normal terhadap makanan dengan alergi.

Penatalaksanaan

  • Terapi harus disesuaikan dengan mekanisme penyakit yang mendasari. Pada rinitis alergi akibat aeroalergen, terapi meliputi penghindaran pencetus, kortikosteroid intranasal, antihistamin, dan imunoterapi alergi bila memenuhi indikasi.
  • Pada alergi makanan yang telah terbukti, penghindaran makanan pencetus dilakukan secara individual. Diet eliminasi tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium tanpa bukti klinis karena dapat menyebabkan pembatasan makanan yang tidak diperlukan dan meningkatkan risiko gangguan nutrisi.

Kesimpulan

Alergi makanan dan rinitis alergi memiliki hubungan melalui mekanisme imun tipe 2, aktivasi IgE, sel mast, dan eosinofil. Makanan dapat menyebabkan gejala hidung pada sebagian pasien melalui alergi makanan, sindrom alergi oral, atau food rhinitis. Namun, sebagian besar rinitis alergi tetap disebabkan oleh aeroalergen.

Diagnosis harus dilakukan berdasarkan korelasi klinis dengan pemeriksaan alergi yang sesuai indikasi. Pemahaman mengenai hubungan alergi makanan dan rinitis alergi diperlukan untuk menghindari overdiagnosis, mencegah eliminasi makanan yang tidak perlu, dan memberikan terapi yang tepat.


Daftar Pustaka

  • Sikdar A, Suda A, Phatak S, Nivsarkar S, Agarwal R. Pattern of Food Allergen Sensitivity Amongst Adult Allergic Rhinitis Patients: A Four Year Central Indian Study. Indian J Otolaryngol Head Neck Surg. 2023;75(Suppl 1):994-1002. doi:10.1007/s12070-023-03544-4.
  • Ciprandi G, Martelli AG, Tosca MA. Do Foods Cause Rhinitis? J Allergy Clin Immunol Pract. 2024;12(6):1484-1486.
  • Hawk LJ. Food and Allergic Rhinitis. In: Scadding GK. Immunology of ENT Disorders. Springer; 1994.
  • Wise SK, Orlandi RR, Alt JA, et al. International Consensus Statement on Allergy and Rhinology: Allergic Rhinitis. Int Forum Allergy Rhinol. 2023;13(Suppl 1):S1-S126.
  • Brożek JL, Bousquet J, Agache I, et al. Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) guidelines. J Allergy Clin Immunol. 2020.
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *