DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

KONSULTASI PEDIATRI: Payudara Saya Kecil. Benarkah ASI Pasti Sedikit?

Payudara Saya Kecil. Benarkah ASI Pasti Sedikit?

Pertanyaan

“Dok, saya khawatir karena banyak orang mengatakan bahwa ibu yang memiliki payudara kecil pasti menghasilkan ASI lebih sedikit dibandingkan ibu yang payudaranya besar. Bahkan ada yang menyarankan agar sejak awal saya menyiapkan susu formula karena takut ASI tidak akan mencukupi kebutuhan bayi. Benarkah pendapat tersebut? Bagaimana penjelasan ilmiahnya yang benar? Apakah ukuran payudara memang menentukan banyaknya produksi ASI dan keberhasilan menyusui?”

Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Anggapan bahwa payudara kecil menghasilkan ASI lebih sedikit merupakan salah satu mitos yang paling sering ditemui. Hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ukuran payudara menentukan banyaknya produksi ASI. Besar atau kecilnya payudara lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah jaringan lemak, sedangkan produksi ASI ditentukan oleh banyaknya jaringan kelenjar penghasil ASI yang pada sebagian besar perempuan jumlahnya relatif sama. Oleh karena itu, ibu dengan payudara kecil memiliki peluang yang sama untuk menyusui secara eksklusif seperti ibu dengan payudara yang lebih besar.

Produksi ASI diatur oleh hormon prolaktin dan oksitosin. Setelah bayi lahir, setiap kali bayi menyusu, rangsangan pada puting akan mengirim sinyal ke otak untuk meningkatkan pelepasan kedua hormon tersebut. Prolaktin merangsang pembentukan ASI baru, sedangkan oksitosin membantu mengeluarkan ASI dari payudara. Mekanisme ini berlangsung secara otomatis dan tidak dipengaruhi oleh ukuran payudara. Selama jaringan kelenjar berfungsi dengan baik dan bayi menyusu secara efektif, produksi ASI umumnya akan mencukupi kebutuhan bayi.

Produksi ASI mengikuti prinsip supply and demand atau sesuai kebutuhan. Semakin sering payudara dikosongkan melalui proses menyusui atau pemerahan, semakin banyak ASI yang akan diproduksi. Sebaliknya, bila bayi jarang menyusu atau terlalu cepat diberikan susu formula tanpa indikasi medis, payudara menjadi lebih jarang dikosongkan sehingga tubuh menganggap kebutuhan ASI berkurang. Akibatnya produksi ASI ikut menurun. Inilah alasan mengapa pemberian susu formula pada minggu-minggu pertama kehidupan harus dipertimbangkan secara hati-hati.

Bayi yang sering menyusu bukan berarti ASI ibunya sedikit. Lambung bayi baru lahir masih sangat kecil sehingga ASI lebih cepat dicerna dibandingkan susu formula. Akibatnya bayi memang akan menyusu lebih sering, bahkan dapat mencapai delapan hingga dua belas kali atau lebih dalam 24 jam. Pada usia tertentu juga terjadi fase growth spurt, yaitu masa ketika bayi menyusu lebih sering untuk meningkatkan produksi ASI sesuai kebutuhan pertumbuhannya. Kondisi ini merupakan proses fisiologis yang normal dan bukan tanda bahwa ibu mengalami kekurangan ASI.

Cara terbaik untuk menilai kecukupan ASI bukan berdasarkan ukuran payudara atau frekuensi bayi menangis, melainkan melalui kenaikan berat badan sesuai kurva pertumbuhan, jumlah buang air kecil yang cukup, bayi tampak aktif setelah menyusu, serta proses menyusu yang efektif. Bila berat badan meningkat dengan baik dan bayi tampak sehat, maka produksi ASI umumnya sudah mencukupi meskipun payudara tampak kecil atau tidak terasa penuh sepanjang waktu.

Apabila ibu merasa produksi ASI berkurang, langkah pertama yang dianjurkan adalah memperbaiki teknik pelekatan, meningkatkan frekuensi menyusui, memastikan payudara dikosongkan secara optimal, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi bila diperlukan. Sebagian besar masalah produksi ASI dapat diatasi tanpa harus menghentikan pemberian ASI. Dengan dukungan yang tepat dan pemahaman yang benar, sebagian besar ibu, termasuk yang memiliki payudara kecil, mampu memberikan ASI eksklusif dan memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya.

Daftar Pustaka

  1. Riordan J, Wambach K. Breastfeeding and Human Lactation. 6th ed. Jones & Bartlett Learning; 2022.
  2. World Health Organization. Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding in Facilities Providing Maternity and Newborn Services: Guideline. Geneva: World Health Organization; 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *