Penelitian Terkini:
Prevalensi Gangguan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE: Tinjauan Sistematis Terbaru dan Implikasinya terhadap Praktik Pediatri
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Gangguan makan atau feeding difficulties merupakan salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan orang tua saat membawa anak ke dokter. Selama ini, perhatian lebih banyak tertuju pada alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE), sedangkan alergi makanan non-IgE sering terlewat karena gejalanya tidak khas dan hasil pemeriksaan alergi konvensional umumnya negatif. Research Letter yang diterbitkan dalam Clinical & Experimental Allergy pada Juni 2026 memberikan bukti ilmiah terbaru bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki prevalensi gangguan makan yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Temuan ini memperkuat konsep bahwa feeding difficulties bukan hanya masalah perilaku, tetapi pada sebagian anak merupakan manifestasi penyakit organik yang memerlukan evaluasi menyeluruh.
Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Marianne Louise Tomlin dan kolega sesuai pedoman PRISMA 2020 serta telah diregistrasi di PROSPERO dengan nomor CRD42023458648. Peneliti melakukan pencarian literatur pada empat basis data utama, yaitu Medline, Embase, Emcare, dan Scopus hingga September 2025. Dari 10.681 publikasi yang berhasil diidentifikasi, hanya 17 penelitian yang memenuhi kriteria inklusi setelah melalui proses seleksi yang ketat. Seluruh penelitian melibatkan anak usia 0 hingga 18 tahun dengan ukuran sampel bervariasi antara 26 sampai 4.230 peserta. Pendekatan metodologis yang sistematis ini memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan laporan kasus atau penelitian observasional tunggal karena menyintesis bukti dari berbagai populasi dan pusat layanan kesehatan.
Fokus utama penelitian adalah mengevaluasi hubungan antara alergi makanan non-IgE dengan kejadian feeding difficulties. Kelompok alergi yang dianalisis meliputi food protein-induced allergic proctocolitis (FPIAP), food protein-induced enteropathy (FPE), food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), serta eosinophilic esophagitis (EoE), yang saat ini diklasifikasikan sebagai penyakit dengan mekanisme imun campuran IgE dan non-IgE. Dibandingkan bentuk alergi IgE yang biasanya menimbulkan urtikaria atau anafilaksis segera setelah konsumsi makanan, alergi non-IgE lebih sering menimbulkan keluhan kronis berupa muntah berulang, nyeri perut, refluks, diare, konstipasi, sulit makan, gangguan pertumbuhan, hingga penurunan kualitas hidup. Kondisi inilah yang menyebabkan diagnosis sering terlambat karena gejalanya menyerupai gangguan pencernaan fungsional.
Hasil kajian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE, terutama EoE, memiliki prevalensi feeding difficulties yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan populasi anak tanpa alergi. Pada anak usia di bawah lima tahun, EoE sering bermanifestasi sebagai penolakan makan, kesulitan mengunyah, makan sangat lambat, muntah berulang, dan gagal tumbuh. Sebaliknya, pada anak usia sekolah dan remaja, gejala lebih sering berupa disfagia, sensasi makanan tersangkut di kerongkongan, hingga impaksi makanan. Penelitian yang dikutip dalam review ini juga menunjukkan bahwa gejala EoE dapat berlangsung lebih dari enam tahun sebelum diagnosis ditegakkan, menggambarkan masih rendahnya kewaspadaan terhadap penyakit ini di praktik klinis sehari-hari.
Penulis juga menyoroti bahwa kualitas bukti yang tersedia masih memiliki keterbatasan. Definisi feeding difficulties yang digunakan pada masing-masing penelitian sangat bervariasi, demikian pula instrumen skrining yang dipakai untuk menilai gangguan makan. Sebagian penelitian menggunakan kuesioner yang telah divalidasi, sedangkan penelitian lain hanya mengandalkan laporan orang tua atau penilaian klinis. Heterogenitas tersebut menyebabkan angka prevalensi belum dapat digabungkan menjadi satu estimasi yang benar-benar akurat. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pengembangan instrumen skrining yang tervalidasi dan seragam agar gangguan makan pada anak dengan alergi makanan dapat diidentifikasi lebih dini.
Dari sudut pandang patofisiologi, hubungan antara alergi makanan non-IgE dan feeding difficulties sangat masuk akal. Inflamasi kronis pada mukosa saluran cerna dapat menimbulkan nyeri saat makan, disfagia, rasa cepat kenyang, mual, muntah, atau sensasi tidak nyaman setelah makan. Pengalaman makan yang berulang kali menimbulkan rasa tidak nyaman menyebabkan anak membangun asosiasi negatif terhadap makanan sehingga muncul perilaku menghindari makan, hanya menerima makanan tertentu, atau menolak tekstur tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi Pediatric Feeding Disorder (PFD), gangguan pertumbuhan, defisiensi mikronutrien, bahkan masalah psikososial pada anak dan keluarganya.
Implikasi klinis penelitian ini sangat penting bagi dokter anak, dokter alergi-imunologi, gastroenterolog pediatrik, ahli gizi, terapis makan, dan tenaga kesehatan lainnya. Anak yang mengalami feeding difficulties kronis, terutama bila disertai muntah berulang, konstipasi atau diare kronis, gagal tumbuh, berat badan sulit naik, disfagia, atau hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, perlu dievaluasi terhadap kemungkinan alergi makanan non-IgE. Penelitian ini juga mengingatkan bahwa hasil skin prick test maupun pemeriksaan IgE spesifik yang negatif tidak dapat menyingkirkan alergi makanan non-IgE. Diagnosis tetap harus didasarkan pada evaluasi klinis yang komprehensif, eliminasi dan provokasi makanan yang terarah, serta pemeriksaan endoskopi dan biopsi pada kasus yang dicurigai sebagai EoE.
Secara keseluruhan, tinjauan sistematis ini memperkuat bukti bahwa feeding difficulties merupakan manifestasi klinis yang penting pada anak dengan alergi makanan non-IgE dan bukan sekadar masalah perilaku makan. Walaupun bukti yang tersedia masih heterogen, arah seluruh penelitian menunjukkan hubungan yang konsisten antara kedua kondisi tersebut. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan definisi feeding difficulties yang seragam, instrumen penilaian yang tervalidasi, serta desain prospektif dengan kualitas metodologi yang lebih baik. Hingga bukti tersebut tersedia, hasil penelitian ini sudah cukup kuat untuk mendorong deteksi dini dan pendekatan multidisiplin pada anak dengan gangguan makan kronis, sehingga diagnosis penyebab yang mendasari dapat ditegakkan lebih cepat dan kualitas hidup anak dapat ditingkatkan.
Referensi
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026; First published June 25, 2026. doi:10.1111/cea.70367.









Leave a Reply