Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang pada Anak. Apa Kata Penelitian Klinis Berbasis IgE?
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Infeksi saluran napas berulang merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering menyebabkan anak dibawa ke dokter, terutama pada usia balita. Sebagian besar kasus memang disebabkan oleh infeksi virus, seperti rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV), influenza, parainfluenza, dan adenovirus. Namun, pada sebagian anak infeksi terjadi jauh lebih sering dibandingkan anak seusianya, disertai batuk pilek yang berkepanjangan, gangguan makan, berat badan sulit naik, hingga berkembang menjadi asma atau gangguan telinga, hidung, dan tenggorok (THT). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa infeksi berulang tidak selalu hanya disebabkan oleh paparan virus. Berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa penyakit alergi, termasuk alergi makanan, dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kerentanan seorang anak terhadap infeksi saluran napas berulang. Salah satu penelitian penting yang mengangkat isu ini dipublikasikan oleh Woicka-Kolejwa dan kolega dalam jurnal Postępy Dermatologii i Alergologii pada tahun 2016.
Penelitian tersebut bertujuan mengetahui apakah alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) berhubungan dengan meningkatnya risiko infeksi saluran napas berulang dan asma pada anak. Selama ini hubungan tersebut masih menjadi perdebatan karena sebagian besar manifestasi alergi makanan lebih dikenal berupa kelainan kulit, gangguan saluran cerna, atau reaksi anafilaksis. Peneliti ingin mengetahui apakah proses alergi yang berlangsung di dalam tubuh juga dapat memengaruhi kesehatan saluran napas. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dilakukan penelitian retrospektif terhadap seluruh anak berusia kurang dari 10 tahun yang didiagnosis mengalami alergi makanan IgE-mediated dan menjalani pemantauan di klinik alergi selama periode 2012 hingga 2013. Seluruh pasien diikuti selama 18 bulan, kemudian dianalisis karakteristik demografi, status antropometri, jenis sensitisasi alergen makanan, serta kejadian infeksi saluran napas berulang, asma, dan keluhan saluran cerna.
Sebanyak 280 anak memenuhi kriteria penelitian dan dimasukkan ke dalam analisis akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran napas berulang merupakan manifestasi klinis yang paling sering ditemukan, yaitu pada 153 anak atau sekitar 54,6% dari seluruh peserta penelitian. Selain itu, sebanyak 96 anak atau 34,3% telah mengalami asma, sedangkan 39 anak atau 13,9% mengalami gangguan saluran cerna. Frekuensi infeksi saluran napas maupun asma menunjukkan kecenderungan meningkat pada kelompok usia yang lebih besar. Temuan ini memperlihatkan bahwa gangguan saluran napas merupakan komorbiditas yang sangat sering menyertai anak dengan alergi makanan. Dengan kata lain, pada populasi anak yang memiliki alergi makanan, dokter tidak cukup hanya memperhatikan gejala pada kulit atau saluran cerna, tetapi juga perlu mengevaluasi kesehatan saluran napas secara menyeluruh.
Temuan yang paling menarik muncul ketika peneliti membandingkan hasil berdasarkan kelompok usia. Pada anak usia 1 hingga 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin, salah satu protein utama dalam susu sapi, berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat dibandingkan anak yang tidak mengalami sensitisasi terhadap protein tersebut (OR 3,91; IK95% 1,03-14,87). Hasil ini menunjukkan bahwa pada masa awal kehidupan, alergi terhadap protein susu sapi mungkin berperan sebagai salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas. Peneliti menduga hal tersebut berkaitan dengan sistem imun bayi yang masih berkembang, inflamasi alergi yang masih aktif, serta tingginya paparan protein susu sapi pada kelompok usia tersebut. Temuan ini juga mendukung konsep bahwa inflamasi alergi sejak dini dapat memengaruhi perjalanan penyakit saluran napas pada masa kanak-kanak.
Sebaliknya, pada anak usia di atas tiga tahun ditemukan pola yang berbeda. Sensitisasi terhadap alergen makanan selain susu dan telur justru berkaitan dengan penurunan risiko infeksi saluran napas berulang (OR 0,25; IK95% 0,10-0,62). Selain itu, sensitisasi terhadap telur berhubungan dengan risiko diagnosis asma yang lebih rendah (OR 0,09; IK95% 0,01-0,75). Penelitian ini juga tidak menemukan adanya alergen makanan tertentu yang secara konsisten meningkatkan risiko munculnya keluhan saluran cerna pada seluruh kelompok usia. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara sensitisasi makanan dan manifestasi klinis tidak bersifat sederhana. Respons imun terhadap makanan berubah seiring bertambahnya usia karena perkembangan toleransi imun, maturasi sistem kekebalan tubuh, perubahan pola makan, dan faktor lingkungan. Oleh sebab itu, hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas tidak dapat digeneralisasi pada seluruh anak.
Penelitian ini juga memberikan penjelasan mengenai mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan tersebut. Pada anak dengan predisposisi atopik, paparan protein makanan tertentu dapat merangsang pembentukan IgE spesifik. Antibodi ini kemudian berikatan dengan sel mast dan basofil. Ketika terjadi pajanan ulang terhadap alergen yang sama, sel-sel tersebut melepaskan berbagai mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, serta sitokin tipe 2, termasuk IL-4, IL-5, dan IL-13. Inflamasi kronis yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu integritas sawar mukosa saluran cerna maupun saluran napas sehingga pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme menjadi kurang optimal. Selain itu, alergi makanan juga dapat menyebabkan gangguan makan, muntah, diare, enteropati, dan gangguan penyerapan nutrisi yang berujung pada kekurangan energi, protein, maupun mikronutrien penting. Kombinasi inflamasi kronis dan gangguan status gizi tersebut diduga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas, terutama pada bayi dan balita yang sistem imunnya belum matang.
Meskipun demikian, peneliti menekankan bahwa hasil penelitian ini tidak boleh diartikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama infeksi saluran napas berulang. Temuan yang diperoleh hanya menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi pada kelompok anak tertentu. Pemeriksaan IgE spesifik juga tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal untuk menegakkan diagnosis alergi makanan karena hasil positif hanya menunjukkan adanya sensitisasi imunologis, bukan bukti bahwa makanan tersebut benar-benar menimbulkan gejala klinis. Diagnosis alergi makanan harus selalu mempertimbangkan riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan, pemeriksaan fisik, dan bila diperlukan dikonfirmasi melalui Open Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis. Pendekatan ini penting agar anak tidak menjalani eliminasi makanan yang sebenarnya tidak diperlukan, karena pembatasan diet tanpa dasar yang kuat justru dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan kekurangan gizi.
Secara keseluruhan, penelitian Woicka-Kolejwa dan kolega memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang pada anak. Bukti yang diperoleh menunjukkan bahwa alergi makanan, terutama sensitisasi terhadap β-laktoglobulin pada usia dini, dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang. Namun, hubungan tersebut dipengaruhi oleh usia, jenis alergen, perkembangan sistem imun, serta faktor klinis lainnya sehingga tidak berlaku pada semua anak. Bagi praktik klinis, temuan ini menegaskan bahwa evaluasi alergi makanan sebaiknya dilakukan secara selektif pada anak dengan infeksi saluran napas berulang yang disertai riwayat reaksi terhadap makanan, dermatitis atopik, asma, gangguan pertumbuhan, atau keluhan saluran cerna. Pendekatan berbasis evidence-based medicine tetap menjadi prinsip utama agar diagnosis lebih akurat, terapi lebih tepat sasaran, dan pembatasan makanan yang tidak diperlukan dapat dihindari.
Referensi
- Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016 Apr;33(2):109-13. doi: 10.5114/ada.2016.59151. Epub 2016 May 16. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.







Leave a Reply