DOKTERPEDIATRI

Advancing Children's Health Through Science

Sinusitis pada Anak dan Remaja

Sinusitis pada Anak dan Remaja

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Sinusitis atau rinosinusitis adalah peradangan pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang menyebabkan gangguan drainase sekret, sumbatan ostium sinus, serta penumpukan lendir di dalam rongga sinus. Pada anak, sinusitis hampir selalu diawali oleh infeksi saluran napas atas akibat virus. Sebagian besar kasus akan membaik secara spontan dalam 7 hingga 10 hari. Namun, pada sebagian kecil anak, inflamasi menetap sehingga mempermudah terjadinya infeksi bakteri sekunder. Oleh karena itu, tidak semua pilek yang berlangsung lama merupakan sinusitis bakteri dan tidak semua sinusitis memerlukan antibiotik.

Epidemiologi

Sinusitis merupakan salah satu komplikasi tersering infeksi saluran napas atas pada anak. Diperkirakan sekitar 5 hingga 10% infeksi virus saluran napas atas berkembang menjadi sinusitis bakteri akut. Risiko lebih tinggi ditemukan pada anak usia prasekolah, terutama yang sering mengalami infeksi virus, bersekolah di tempat penitipan anak, memiliki rhinitis alergi, hipertrofi adenoid, paparan asap rokok, atau kelainan anatomi hidung.

Penyebab dan Faktor Risiko

Sebagian besar sinusitis diawali oleh infeksi virus seperti rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV), influenza, parainfluenza, adenovirus, dan coronavirus. Infeksi virus menyebabkan pembengkakan mukosa, gangguan fungsi silia, dan penyumbatan ostium sinus sehingga sekret sulit keluar. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri.

Bila terjadi infeksi bakteri sekunder, kuman yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae non-typeable, dan Moraxella catarrhalis. Pada sinusitis kronis, flora bakteri lebih beragam dan dapat melibatkan bakteri anaerob.

Beberapa kondisi meningkatkan risiko sinusitis berulang, antara lain:

  • Rhinitis alergi.
  • Hipertrofi adenoid.
  • Infeksi virus berulang.
  • Paparan asap rokok dan polusi udara.
  • Asma.
  • Gangguan fungsi silia primer.
  • Fibrosis kistik.
  • Defisiensi imun.
  • Kelainan anatomi hidung.

Patofisiologi

Infeksi virus menyebabkan edema mukosa hidung dan sinus sehingga saluran penghubung sinus tersumbat. Gangguan tersebut menghambat ventilasi sinus dan mengganggu pembersihan mukosiliar. Sekret menjadi tertahan di dalam sinus sehingga tekanan meningkat dan bakteri lebih mudah berkembang. Inflamasi yang berlangsung lama menyebabkan produksi mukus meningkat, infiltrasi sel inflamasi, serta memperberat sumbatan sehingga terbentuk lingkaran inflamasi yang terus berlanjut.

Manifestasi Klinis

Gejala sinusitis akut pada anak sering kali menyerupai pilek biasa, tetapi berlangsung lebih lama atau menjadi lebih berat. Manifestasi yang paling sering meliputi:

  • Hidung tersumbat.
  • Sekret hidung kental berwarna kuning atau hijau.
  • Batuk, terutama pada malam hari.
  • Nyeri atau tekanan pada wajah.
  • Sakit kepala.
  • Demam.
  • Napas berbau.
  • Penurunan penciuman.
  • Mudah lelah.
  • Nafsu makan menurun.

Pada anak kecil, keluhan nyeri wajah sering tidak jelas sehingga batuk kronis dan pilek berkepanjangan menjadi petunjuk utama.

Diagnosis

Diagnosis sinusitis akut pada anak terutama ditegakkan berdasarkan gambaran klinis. Pedoman American Academy of Pediatrics (AAP) dan Infectious Diseases Society of America (IDSA) menetapkan tiga pola klinis yang mengarah pada sinusitis bakteri akut, yaitu:

  • Gejala menetap lebih dari 10 hari tanpa perbaikan.
  • Gejala berat berupa demam ≥39°C disertai sekret hidung purulen selama sedikitnya tiga hari berturut-turut.
  • Gejala memburuk kembali setelah sempat membaik, dikenal sebagai double worsening atau double sickening.

Pemeriksaan laboratorium umumnya tidak diperlukan pada kasus tanpa komplikasi. Foto polos sinus tidak direkomendasikan karena sensitivitas dan spesifisitasnya rendah. CT scan atau MRI hanya dilakukan bila dicurigai komplikasi orbita, komplikasi intrakranial, atau sinusitis kronis yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Penatalaksanaan

  • Sebagian besar sinusitis akibat virus tidak memerlukan antibiotik. Tata laksana utama meliputi istirahat yang cukup, hidrasi, irigasi hidung menggunakan larutan saline, serta obat penurun demam atau nyeri bila diperlukan.
  • Antibiotik hanya diberikan bila anak memenuhi kriteria sinusitis bakteri akut. Pilihan lini pertama adalah amoksisilin atau amoksisilin-klavulanat sesuai pedoman. Lama terapi umumnya 10 hingga 14 hari atau setidaknya tujuh hari setelah gejala membaik. Pada pasien dengan risiko resistensi bakteri atau penyakit berat dapat digunakan dosis yang lebih tinggi sesuai rekomendasi pedoman.
  • Dekongestan dan antihistamin rutin tidak dianjurkan pada sinusitis akut karena manfaatnya terbatas. Kortikosteroid intranasal dapat dipertimbangkan terutama bila sinusitis disertai rhinitis alergi.

Komplikasi

Walaupun jarang, sinusitis dapat menimbulkan komplikasi serius akibat penyebaran infeksi ke jaringan sekitar. Komplikasi tersebut meliputi:

  • Selulitis orbita.
  • Abses subperiosteal orbita.
  • Abses orbita.
  • Meningitis.
  • Abses otak.
  • Trombosis sinus kavernosus.
  • Osteomielitis tulang frontal.

Komplikasi lebih sering terjadi pada sinusitis etmoid dan frontal sehingga memerlukan penanganan segera oleh dokter spesialis THT dan tim multidisiplin.

Pencegahan

Pencegahan sinusitis dilakukan dengan mengurangi faktor risiko yang menyebabkan inflamasi saluran napas, antara lain melalui imunisasi lengkap, mencuci tangan, menghindari paparan asap rokok dan polusi udara, mengendalikan rhinitis alergi, serta mengobati hipertrofi adenoid bila menjadi penyebab sumbatan hidung kronis. Penanganan infeksi virus secara tepat juga membantu mencegah berkembangnya sinusitis bakteri.

Kesimpulan

Sinusitis pada anak dan remaja umumnya merupakan komplikasi infeksi virus saluran napas atas yang menyebabkan gangguan drainase sinus dan inflamasi mukosa. Gejala utama berupa hidung tersumbat, sekret hidung kental, batuk berkepanjangan, dan nyeri wajah. Diagnosis terutama didasarkan pada kriteria klinis, sedangkan pemeriksaan pencitraan hanya diperlukan pada kasus tertentu. Antibiotik tidak diberikan secara rutin, tetapi hanya pada anak yang memenuhi kriteria sinusitis bakteri akut. Pendekatan berbasis bukti membantu mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu sekaligus mencegah komplikasi serius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *