- Bulan Imunisasi Kejar Oktober 2026: Pentingnya Melengkapi Imunisasi Bayi dan Anak yang Terlewat
- dr Audi Yudhasmara, dr Widodo Judarwanto, pedatrician
Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang efektif untuk mencegah penyakit menular berbahaya pada bayi dan anak. Namun, sebagian anak belum memperoleh imunisasi sesuai jadwal karena berbagai kendala, seperti sakit saat jadwal imunisasi, keterbatasan akses pelayanan kesehatan, kekhawatiran orang tua, atau kurangnya informasi. Imunisasi kejar merupakan upaya untuk melengkapi dosis vaksin yang belum diberikan agar anak memperoleh perlindungan sesuai usia dan riwayat imunisasinya. Pada Oktober 2026, masyarakat menerima imbauan untuk memeriksa kembali Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta mengunjungi Posyandu atau Puskesmas guna mengevaluasi status imunisasi anak. Artikel ini membahas konsep imunisasi kejar, kelompok usia yang perlu diperiksa, prinsip penentuan dosis, keamanan vaksin, serta peran keluarga dan tenaga kesehatan dalam meningkatkan cakupan imunisasi. Orang tua perlu memahami bahwa keterlambatan imunisasi umumnya bukan alasan untuk mengulang seluruh rangkaian dari awal. Jadwal lanjutan ditentukan berdasarkan jenis vaksin, usia anak, dosis yang telah diterima, dan ketentuan program imunisasi nasional.
Imunisasi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan kuman penyebab penyakit sebelum anak mengalami infeksi yang berat. Bayi dan anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap dapat memiliki kerentanan terhadap penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, seperti tuberkulosis berat pada anak, hepatitis B, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak, rubela, serta infeksi tertentu akibat Haemophilus influenzae tipe b dan pneumokokus, sesuai jenis vaksin yang digunakan. Oleh karena itu, imunisasi perlu diberikan secara tepat waktu dan dilengkapi apabila ada dosis yang terlewat. Imunisasi kejar bukan sekadar kegiatan administratif untuk memperbarui catatan kesehatan, melainkan bagian penting dari upaya melindungi anak, mengurangi risiko komplikasi penyakit, dan menjaga kekebalan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, orang tua dianjurkan memeriksa Buku KIA dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan di Posyandu atau Puskesmas untuk menentukan vaksin yang masih diperlukan.
Apa yang dimaksud dengan Bulan Imunisasi Kejar?
- Bulan Imunisasi Kejar adalah kegiatan untuk menemukan dan melengkapi imunisasi anak yang belum mendapatkan dosis sesuai jadwal. Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan program ini pada 1–31 Oktober 2026 sebagai upaya meningkatkan perlindungan anak terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
- Imunisasi kejar dapat dilakukan melalui pelayanan imunisasi rutin di fasilitas kesehatan maupun kegiatan khusus sesuai kebijakan program. Sasaran yang perlu diperiksa mencakup bayi usia 0–11 bulan, balita, serta anak usia sekolah yang mungkin belum memperoleh imunisasi sesuai ketentuan. Namun, jenis vaksin dan kelayakan pemberiannya bergantung pada usia, riwayat imunisasi, serta jadwal nasional yang berlaku.
Mengapa imunisasi yang terlewat perlu dilengkapi?
- Imunisasi yang tidak lengkap dapat menyebabkan perlindungan terhadap penyakit tertentu belum optimal. Bayi, khususnya, memerlukan perlindungan sejak dini karena beberapa infeksi dapat menimbulkan komplikasi serius.
- Manfaat melengkapi imunisasi meliputi:
- Membantu melindungi anak dari penyakit menular yang dapat dicegah dengan vaksin.
- Mengurangi risiko penyakit berat, kecacatan, dan kematian akibat infeksi tertentu.
- Mendukung upaya pengendalian kejadian luar biasa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
- Membantu menjaga perlindungan masyarakat, terutama bagi kelompok yang rentan.
- WHO menempatkan imunisasi kejar sebagai strategi penting untuk menjangkau anak yang kehilangan kesempatan mendapatkan vaksinasi, termasuk setelah pelayanan kesehatan mengalami gangguan.
Kelompok usia yang perlu diperiksa
- Orang tua tidak perlu menunggu anak sakit atau menunggu program khusus berikutnya untuk memeriksa status imunisasi. Pemeriksaan dapat dilakukan kapan saja melalui Buku KIA atau catatan imunisasi dari fasilitas kesehatan.
| Kelompok usia | Hal yang perlu diperiksa |
|---|---|
| Bayi usia 0–11 bulan | Imunisasi hepatitis B saat lahir, BCG, polio, DPT-HB-Hib, PCV, rotavirus, IPV, serta campak-rubela sesuai usia dan jadwal. |
| Balita usia 12–59 bulan | Dosis dasar atau lanjutan yang belum lengkap, termasuk imunisasi yang masih memenuhi syarat berdasarkan usia. |
| Anak usia sekolah | Riwayat imunisasi program sekolah, termasuk campak-rubela, difteri-tetanus, tetanus-difteri, dan HPV sesuai sasaran program. |
| Anak dengan catatan imunisasi tidak lengkap atau tidak diketahui | Penilaian oleh petugas kesehatan untuk menentukan dosis yang diperlukan dan interval pemberiannya. |
Jenis dan jadwal tersebut merujuk pada informasi imunisasi rutin Kementerian Kesehatan serta ketentuan program imunisasi yang berlaku. Tidak semua vaksin dapat diberikan pada semua usia, sehingga penentuan dosis perlu dilakukan oleh petugas kesehatan.
Bagaimana menentukan imunisasi kejar?
- Penentuan imunisasi kejar tidak cukup hanya berdasarkan usia anak. Petugas kesehatan perlu memeriksa jenis vaksin yang pernah diterima, jumlah dosis, tanggal pemberian, interval antardosis, serta batas usia untuk vaksin tertentu.
- Secara umum, prosesnya meliputi:
- Memeriksa Buku KIA atau catatan imunisasi sebelumnya.
- Mencocokkan vaksin yang telah diberikan dengan jadwal imunisasi nasional.
- Menentukan dosis yang masih diperlukan dan interval minimal antardosis.
- Memberikan vaksin yang memenuhi syarat dan menyusun jadwal lanjutan bila diperlukan.
- Mencatat imunisasi terbaru agar riwayat anak tetap terdokumentasi.
- Prinsip penting dalam imunisasi kejar adalah bahwa keterlambatan tidak selalu berarti seluruh rangkaian harus diulang. Dalam banyak seri vaksin, dosis yang sudah diberikan tetap diperhitungkan dan rangkaian dilanjutkan sesuai pedoman. Akan tetapi, ketentuan spesifik dapat berbeda menurut vaksin dan usia anak.
Apakah beberapa vaksin boleh diberikan bersamaan?
- Dalam banyak keadaan, beberapa vaksin dapat diberikan pada kunjungan yang sama sesuai pedoman imunisasi. Hal ini dapat mengurangi jumlah kunjungan dan membantu anak menyelesaikan imunisasi tepat waktu. Namun, keputusan tetap mempertimbangkan jenis vaksin, usia, kondisi klinis, kontraindikasi, serta ketentuan program.
- Orang tua sebaiknya tidak menentukan sendiri kombinasi vaksin atau jarak pemberian. Jika anak memiliki riwayat reaksi berat setelah vaksinasi, gangguan kekebalan tertentu, atau sedang menjalani pengobatan khusus, informasikan hal tersebut kepada petugas sebelum imunisasi.
Keamanan imunisasi dan kejadian ikutan pascaimunisasi
- Vaksin yang digunakan dalam program nasional melalui proses evaluasi dan pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku. Seperti intervensi medis lainnya, imunisasi dapat menimbulkan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), tetapi kejadian setelah vaksinasi tidak otomatis berarti vaksin merupakan penyebabnya. Hubungan sebab-akibat perlu dinilai berdasarkan informasi klinis dan hasil kajian yang sesuai.
- Reaksi ringan yang dapat terjadi antara lain nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan, demam ringan, dan anak menjadi lebih rewel. Orang tua dapat meminta petunjuk tenaga kesehatan mengenai perawatan setelah vaksinasi.
- Segera cari pertolongan medis apabila anak mengalami kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, kejang, penurunan kesadaran, atau gejala berat lainnya setelah imunisasi. Reaksi berat memerlukan penanganan segera.
Jika anak sedang sakit, apakah imunisasi harus ditunda?
- Tidak semua penyakit ringan menjadi alasan untuk menunda imunisasi. Keputusan bergantung pada kondisi anak, tingkat keparahan penyakit, jenis vaksin, dan penilaian tenaga kesehatan. Karena itu, sampaikan gejala yang sedang dialami anak saat datang ke Posyandu atau Puskesmas. Petugas akan menentukan apakah imunisasi dapat diberikan saat itu atau perlu dijadwalkan kembali.
- Orang tua juga perlu memberi tahu petugas jika anak memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin atau pernah mengalami reaksi serius setelah dosis sebelumnya.
Peran orang tua dalam Bulan Imunisasi Kejar
- Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga pada keterlibatan keluarga. Orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana:
- Memeriksa Buku KIA dan mencari catatan vaksin yang belum diberikan
- Membawa Buku KIA atau catatan imunisasi saat berkunjung ke Posyandu atau Puskesmas.
- Menyampaikan riwayat penyakit, alergi berat, dan reaksi setelah imunisasi sebelumnya.
- Mengikuti jadwal lanjutan yang diberikan petugas kesehatan.
- Menyimpan bukti setiap vaksinasi agar status imunisasi anak mudah dipantau.
- Jika Buku KIA hilang atau riwayat imunisasi tidak jelas, jangan langsung menganggap anak harus mengulang semua vaksin. Mintalah petugas kesehatan menilai catatan yang tersedia dan menentukan langkah yang tepat.
Kesimpulan
- Bulan Imunisasi Kejar pada 1–31 Oktober 2026 merupakan kesempatan untuk mengevaluasi dan melengkapi status imunisasi bayi, balita, dan anak usia sekolah yang masih memiliki dosis terlewat. Orang tua dianjurkan memeriksa Buku KIA dan mendatangi Posyandu atau Puskesmas untuk memperoleh penilaian sesuai usia serta riwayat imunisasi anak.
- Imunisasi yang terlambat masih dapat dilengkapi selama anak memenuhi persyaratan pemberian vaksin. Tidak semua rangkaian harus diulang dari awal, tetapi jadwal lanjutan perlu ditentukan berdasarkan pedoman untuk masing-masing vaksin.
Pesan penting:
Jangan menunda pemeriksaan status imunisasi hanya karena jadwal sebelumnya terlewat. Bawa Buku KIA ke fasilitas kesehatan agar anak mendapatkan perlindungan yang sesuai.
Daftar pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/35/2025 tentang Perubahan atas Ketentuan Jenis dan Jadwal Imunisasi Program. Dokumen resmi JDIH Kemenkes.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Seputar Imunisasi: Jadwal Pemberian Imunisasi Rutin Lengkap. Ayo Sehat Kemenkes.
- World Health Organization. Essential Programme on Immunization: Catch-up Vaccination. WHO.
- World Health Organization. Recommendations for Routine Immunization: Summary Tables. WHO immunization summary table.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes Pastikan Imunisasi Tetap Dilanjutkan Usai Kajian KIPI di Kampar. 6 Oktober 2026. Berita resmi Kemenkes.













Leave a Reply