DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Penanganan Luka Bakar pada Neonatus, Bayi, dan Anak: Pendekatan Berbasis Evidence-Based Medicine

Penanganan Luka Bakar pada Neonatus, Bayi, dan Anak: Pendekatan Berbasis Evidence-Based Medicine

Menurut American Burn Association (ABA), World Health Organization (WHO), Advanced Trauma Life Support (ATLS), European Burn Association (EBA), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Luka bakar pada anak merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat trauma di seluruh dunia. Anak, terutama usia di bawah lima tahun, memiliki kulit yang lebih tipis, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan berat badan, serta cadangan cairan yang lebih sedikit dibandingkan orang dewasa. Kondisi tersebut menyebabkan luka bakar pada anak lebih mudah berkembang menjadi syok hipovolemik, hipotermia, infeksi, gangguan metabolik, hingga kegagalan multiorgan. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat sejak fase pra-rumah sakit hingga perawatan definitif sangat menentukan angka kelangsungan hidup serta kualitas penyembuhan jangka panjang.

Pedoman terbaru dari American Burn Association (ABA), World Health Organization (WHO), Advanced Trauma Life Support (ATLS), European Burn Association (EBA), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pendekatan sistematis yang meliputi stabilisasi jalan napas, penilaian sirkulasi, resusitasi cairan, pengendalian nyeri, pencegahan hipotermia, tata laksana luka, nutrisi dini, serta rehabilitasi. Artikel ini mengulas secara komprehensif definisi, epidemiologi, faktor risiko, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, penatalaksanaan terkini berbasis bukti, prognosis, pencegahan, dan poin-poin penting dalam penanganan luka bakar pada anak.

Pendahuluan

Luka bakar merupakan kegawatdaruratan medis yang dapat menimbulkan kerusakan lokal maupun sistemik. Pada populasi anak, sebagian besar kasus disebabkan oleh luka bakar air panas (scald burn), disusul api, listrik, bahan kimia, dan kontak dengan benda panas. Selain menyebabkan kerusakan kulit, luka bakar berat memicu respons inflamasi sistemik yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler, kehilangan cairan dan protein, gangguan imun, hipermetabolisme, serta disfungsi multiorgan.

Keberhasilan terapi bergantung pada penanganan dini yang sesuai prinsip ABCDE, resusitasi cairan yang adekuat, kontrol infeksi, serta perawatan luka modern. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, bedah plastik atau bedah umum, intensivis, ahli gizi, rehabilitasi medik, dan psikolog diperlukan untuk mengurangi komplikasi serta memperbaiki luaran fungsional maupun kosmetik.

Definisi

Luka bakar adalah cedera jaringan akibat paparan panas, cairan panas, api, listrik, bahan kimia, radiasi, atau gesekan yang menyebabkan kerusakan kulit dengan atau tanpa keterlibatan jaringan yang lebih dalam.

Epidemiologi

  • Luka bakar merupakan salah satu penyebab utama cedera pada anak.
  • Sebagian besar terjadi pada usia 1–5 tahun.
  • Lebih dari 70% kasus pada anak disebabkan oleh air panas.
  • Sebagian besar kejadian terjadi di rumah.
  • Mortalitas meningkat pada luka bakar luas (>20–30% luas permukaan tubuh), inhalation injury, dan keterlambatan terapi.

Faktor Risiko

  • Usia balita.
  • Kurangnya pengawasan orang tua.
  • Air panas atau makanan panas.
  • Kebakaran rumah.
  • Cedera listrik.
  • Bahan kimia rumah tangga.
  • Epilepsi.
  • Kemiskinan dan lingkungan padat.

Patofisiologi

Luka bakar menyebabkan koagulasi protein dan nekrosis jaringan. Pada luka bakar luas, pelepasan mediator inflamasi meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga cairan berpindah ke ruang interstisial (capillary leak syndrome). Akibatnya terjadi hipovolemia, hemokonsentrasi, penurunan curah jantung, dan syok luka bakar. Selain itu, respons hipermetabolik meningkatkan kebutuhan energi dan protein, sehingga dukungan nutrisi dini menjadi sangat penting.

Manifestasi Klinis

Lokal

  • Nyeri.
  • Eritema.
  • Lepuh (bula).
  • Jaringan putih atau hangus.
  • Penurunan sensasi pada luka bakar derajat penuh.

Sistemik

  • Takikardia.
  • Hipotensi.
  • Syok.
  • Gangguan napas (inhalation injury).
  • Hipotermia.
  • Oliguria.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan:

  • Riwayat trauma.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Kedalaman luka bakar.
  • Luas luka bakar (% Total Body Surface Area/TBSA).
  • Adanya inhalation injury.
  • Pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi (darah lengkap, elektrolit, fungsi ginjal, analisis gas darah).
  • Foto toraks bila dicurigai cedera inhalasi.

Klasifikasi Kedalaman Luka Bakar

Derajat Kedalaman Gambaran Klinis
I Epidermis Merah, nyeri, tanpa bula
II superfisial Epidermis + dermis superfisial Lepuh, sangat nyeri, merah
II dalam Dermis dalam Putih kemerahan, nyeri berkurang
III Seluruh dermis Putih, cokelat, hitam, tidak nyeri
IV Hingga otot/tulang Karbonisasi

TABEL DERAJAT LUKA BAKAR PADA ANAK

Derajat luka bakar Kedalaman jaringan Gambaran klinis Warna kulit Nyeri Penyembuhan
Derajat I (Superfisial) Hanya mengenai epidermis Eritema (kemerahan), kering, tidak ada lepuhan Merah Nyeri, perih Sembuh spontan dalam 3–7 hari, tanpa parut
Derajat II Superfisial (Superficial Partial Thickness) Epidermis + bagian superfisial dermis Lepuhan (bula), permukaan basah, edema, eksudat Merah muda/merah terang, lembap Sangat nyeri karena ujung saraf masih aktif Sembuh sekitar 1–3 minggu, biasanya tanpa parut atau minimal
Derajat II Dalam (Deep Partial Thickness) Epidermis + dermis lebih dalam Bula dapat pecah, permukaan lebih kering, perfusi berkurang Merah pucat, putih bercak, belang Nyeri berkurang dibanding superfisial karena kerusakan saraf sebagian Dapat memerlukan >3 minggu, risiko parut hipertrofik dan kontraktur
Derajat III (Full Thickness) Seluruh epidermis dan dermis rusak, dapat mengenai jaringan subkutan Kulit kering, keras (eskar), tidak elastis Putih, coklat, hitam seperti hangus Biasanya tidak nyeri pada pusat luka karena saraf rusak (nyeri dapat muncul di sekitar luka) Tidak dapat sembuh melalui epitelisasi normal, sering membutuhkan eksisi dan graft kulit
Derajat IV (Deep Burn) Melibatkan jaringan lebih dalam: lemak, otot, tendon, hingga tulang Kerusakan jaringan berat, nekrosis luas Hitam/gosong Tidak nyeri pada area nekrosis Membutuhkan tindakan rekonstruksi kompleks

Klasifikasi Praktis untuk Penatalaksanaan

Kategori Derajat Karakteristik Pendekatan
Superfisial Derajat I Tidak mengenai dermis Perawatan suportif, kontrol nyeri
Partial thickness Derajat II Ada kerusakan dermis dengan potensi penyembuhan Perawatan luka, dressing, kontrol infeksi
Full thickness Derajat III–IV Kehilangan seluruh lapisan kulit Evaluasi bedah, kemungkinan eksisi dan skin graft

Poin Penting Klinis

  • Kedalaman luka bakar dapat berubah (burn wound conversion) akibat edema, infeksi, atau perfusi yang buruk.
  • Luka bakar derajat II dan III merupakan kelompok yang paling penting dalam menentukan kebutuhan rawat inap, rujukan, dan terapi lanjutan.
  • Pada anak, evaluasi serial diperlukan karena gambaran luka dapat berkembang dalam 24–72 jam pertama.
  • Nyeri tidak selalu menunjukkan kedalaman luka: luka yang sangat dalam dapat lebih sedikit nyeri karena kerusakan saraf.

Penatalaksanaan Terkini Luka Bakar pada Neonatus, Bayi, dan Anak

1. Penanganan Pra-Rumah Sakit (First Aid)

Pertolongan pertama yang benar dapat mengurangi kedalaman luka bakar dan memperbaiki luaran klinis

A. Hentikan proses pembakaran

  • Jauhkan anak dari sumber panas.
  • Matikan api dengan teknik Stop, Drop, and Roll bila pakaian terbakar.
  • Lepaskan pakaian, popok, sepatu, jam tangan, cincin, dan perhiasan yang tidak melekat pada luka karena edema akan berkembang cepat

B. Pendinginan luka

  • Siram luka menggunakan air mengalir bersuhu 15–25°C selama 20 menit.
  • Paling efektif bila dilakukan dalam 3 jam pertama setelah cedera.

Jangan menggunakan:

  • Es batu atau air es (meningkatkan vasokonstriksi dan risiko hipotermia).
  • Pasta gigi.
  • Mentega.
  • Minyak.
  • Kecap.
  • Kopi.
  • Bedak.
  • Ramuan tradisional.

C. Tutup luka

  • Gunakan kasa steril atau kain bersih yang lembap.
  • Hindari memecahkan bula.

2. Penilaian Primer (ABCDE)

A — Airway (Jalan Napas)

Segera nilai adanya cedera inhalasi.

Curiga inhalation injury bila terdapat:

  • Luka bakar wajah.
  • Rambut hidung terbakar.
  • Jelaga pada mulut.
  • Suara serak.
  • Stridor.
  • Batuk karbon.
  • Luka bakar di ruang tertutup

Penatalaksanaan

  • Berikan oksigen 100%.
  • Intubasi dini bila terdapat edema jalan napas progresif.

B — Breathing

  • Monitor saturasi oksigen.
  • Auskultasi paru.
  • Nilai gerakan dinding dada.

Luka bakar sirkumferensial dada dapat menghambat ventilasi sehingga mungkin memerlukan eskarotomi

C — Circulation

Pasang dua jalur intravena bila luka bakar >10% TBSA.

Monitor:

  • Denyut jantung.
  • Tekanan darah.
  • Perfusi perifer.
  • Diuresis.

D — Disability

  • Nilai GCS.
  • Periksa glukosa darah.
  • Identifikasi trauma penyerta.

E — Exposure

  • Lepaskan seluruh pakaian.
  • Periksa seluruh permukaan tubuh.
  • Segera cegah hipotermia menggunakan selimut hangat dan ruangan yang hangat.

3. Penilaian Luas Luka Bakar

Pada anak digunakan: Lund and Browder Chart

Merupakan metode paling akurat karena mempertimbangkan perubahan proporsi tubuh sesuai usia.

Alternatif:

  • Rule of Palm:
    • Telapak tangan pasien (termasuk jari) ≈ 1% TBSA.

PENILAIAN LUAS LUKA BAKAR PADA ANAK

Penilaian luas luka bakar merupakan langkah penting dalam menentukan derajat keparahan, kebutuhan resusitasi cairan, rujukan ke pusat luka bakar, serta prognosis pasien. Luas luka bakar dinyatakan sebagai Total Body Surface Area (TBSA) dalam persentase (%). Pada anak, penilaian harus menggunakan metode yang memperhitungkan perbedaan proporsi tubuh karena kepala, ekstremitas, dan badan memiliki perbandingan luas permukaan yang berbeda dibandingkan orang dewasa.

1. Lund and Browder Chart (Metode Utama pada Anak)

Lund and Browder Chart merupakan metode paling akurat untuk menghitung luas luka bakar pada anak karena memperhitungkan perubahan anatomi tubuh sesuai usia.

Pada bayi dan anak kecil:

  • Proporsi kepala lebih besar dibandingkan orang dewasa.
  • Proporsi tungkai lebih kecil dibandingkan orang dewasa.

Seiring pertumbuhan:

  • Persentase luas kepala menurun.
  • Persentase luas ekstremitas meningkat mendekati proporsi dewasa.

Prinsip penggunaan:

  1. Tentukan area tubuh yang mengalami luka bakar.
  2. Tentukan kedalaman luka (hanya luka bakar parsial dan full thickness yang dihitung untuk resusitasi).
  3. Cocokkan dengan tabel Lund and Browder berdasarkan usia anak.
  4. Jumlahkan seluruh area luka bakar untuk mendapatkan persentase TBSA.

Contoh:

  • Anak usia 1 tahun dengan luka bakar pada kepala dan dada tidak dapat dihitung menggunakan persentase dewasa karena luas kepala pada anak jauh lebih besar.
  • Lund and Browder memberikan estimasi yang lebih tepat sehingga perhitungan cairan menjadi lebih akurat.

2. Rule of Palm (Metode Alternatif)

Metode Rule of Palm digunakan sebagai cara cepat untuk memperkirakan luas luka bakar terutama pada kondisi emergensi.

Prinsip:

  • Telapak tangan pasien termasuk jari-jari ≈ 1% TBSA.

Cara penggunaan:

  • Bandingkan luas luka bakar dengan ukuran telapak tangan anak sendiri.
  • Setiap luas yang kira-kira sama dengan satu telapak tangan dihitung sekitar 1% TBSA.

Contoh:

  • Luka bakar seluas 5 kali telapak tangan anak ≈ 5% TBSA.

Kelebihan:

  • Cepat.
  • Mudah dilakukan di lapangan.
  • Tidak membutuhkan alat khusus

Keterbatasan:

  • Kurang akurat pada luka bakar luas.
  • Tidak menggantikan Lund and Browder pada anak dengan luka bakar sedang–berat.

Hal Penting dalam Penilaian TBSA Anak

Yang dihitung:

  • Luka bakar derajat II (partial thickness)
  • Luka bakar derajat III (full thickness)

Yang tidak dihitung:

  • Luka bakar derajat I (hanya kemerahan tanpa kerusakan epidermis penuh)
  • Kesalahan yang Sering Terjadi
  1. Menggunakan Rule of Nine dewasa pada anak kecil → dapat menyebabkan estimasi luas luka yang tidak tepat.
  2. Menghitung seluruh kulit yang merah akibat luka bakar superfisial.
  3. Tidak memperbarui perhitungan setelah edema berkembang.
  4. Tidak menilai kedalaman luka secara berkala karena luka bakar dapat mengalami perubahan progresif.

Poin Klinis Utama

  • Lund and Browder Chart adalah standar terbaik untuk anak.
  • Rule of Palm digunakan sebagai estimasi cepat bila chart tidak tersedia.
  • Akurasi TBSA sangat penting karena menjadi dasar:
    • perhitungan cairan resusitasi,
    • keputusan rujukan,
    • kebutuhan ICU,
    • evaluasi risiko komplikasi.

Referensi utama:
American Burn Association (ABA), Advanced Burn Life Support (ABLS); American College of Surgeons Committee on Trauma, ATLS 11th edition; European Burns Association Practice Guidelines; WHO Burns Management Guidelines.

4. Resusitasi Cairan

Diindikasikan bila:

  • Luka bakar >10% TBSA pada anak.
  • Luka bakar derajat II–III.

Rumus Parkland: 4 mL × BB (kg) × %TBSA

  • Menggunakan cairan: Ringer Lakta
  • Pemberian : 50% dalam 8 jam pertama sejak waktu terjadinya luka bakar. dan 50% sisanya selama 16 jam berikutnya.

Cairan Pemeliharaan

Pada bayi dan anak kecil, selain cairan resusitasi juga diperlukan cairan pemeliharaan yang mengandung glukosa untuk mencegah hipoglikemia.

Target Diuresis

Usia Target
Bayi dan anak 1 mL/kg/jam
Luka bakar listrik 1,5–2 mL/kg/jam

Penatalaksanaan Nyeri

Nyeri harus diatasi sedini mungkin.

Derajat Nyeri Terapi
Ringan Parasetamol
Sedang Ibuprofen (bila tidak ada kontraindikasi)
Berat Morfin IV atau Fentanil IV

Analgesia diberikan sebelum tindakan perawatan luka

Perawatan Luka

Luka superfisial

  • Dibersihkan dengan NaCl steril.
  • Diberi pelembap atau petroleum jelly bila sesuai

Luka derajat II

  • Debridemen jaringan nekrotik seperlunya.
  • Pertahankan bula kecil yang masih utuh; bula besar atau mengganggu dapat dievaluasi untuk debridemen sesuai kondisi klinis.
  • Balutan modern dipilih sesuai karakteristik luka.

Luka derajat III

  • Memerlukan konsultasi bedah.
  • Eksisi dini dan cangkok kulit sering diperlukan

Antibiotik

Tidak diberikan secara profilaksis pada luka bakar bersih.

Antibiotik sistemik hanya diberikan bila terdapat:

  • Selulitis.
  • Sepsis.
  • Pneumonia.
  • Infeksi luka yang terbukti

Profilaksis Tetanus

Evaluasi status imunisasi.

Bila imunisasi tidak lengkap:

  • Berikan vaksin tetanus.
  • Tambahkan tetanus immunoglobulin sesuai indikasi.

Nutrisi

Hipermetabolisme mulai terjadi dalam 24 jam pertama.

Rekomendasi:

  • Nutrisi enteral dimulai sedini mungkin (<24 jam bila memungkinkan).
  • Diet tinggi kalori.
  • Diet tinggi protein.
  • Suplementasi vitamin dan mineral sesuai kebutuhan klinis.

Indikasi Rujukan ke Burn Center

Anak harus dirujuk bila terdapat:

  • Luka bakar >10% TBSA.
  • Luka bakar derajat III.
  • Luka bakar wajah.
  • Luka bakar tangan.
  • Luka bakar kaki.
  • Luka bakar genital.
  • Luka bakar perineum.
  • Luka bakar sendi besar.
  • Luka bakar listrik.
  • Luka bakar kimia.
  • Cedera inhalasi.
  • Trauma multipel.
  • Neonatus dengan luka bakar.

TERAPI MEDIKAMENTOSA LUKA BAKAR PADA ANAK

Tujuan terapi medikamentosa pada luka bakar anak adalah mempertahankan perfusi jaringan, mengurangi nyeri, mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan luka, mempertahankan status nutrisi, dan mencegah komplikasi sistemik.

Prinsip utama adalah resusitasi awal yang tepat, kontrol nyeri, perawatan luka modern, serta pemantauan ketat terhadap infeksi dan gangguan metabolik.

Kelompok terapi Pilihan terapi Indikasi dan prinsip penggunaan
Analgesik Parasetamol, opioid (morfin, fentanyl sesuai kebutuhan), NSAID selektif Nyeri ringan–berat. Nyeri luka bakar sering berat dan membutuhkan analgesia multimodal
Cairan resusitasi Ringer Lactate (RL) berdasarkan formula Parkland atau protokol ABA Luka bakar luas terutama >10–15% TBSA pada anak memerlukan evaluasi resusitasi cairan
Antimikroba topikal Silver sulfadiazine, bacitracin, mupirocin, dressing berbasis silver Pencegahan dan kontrol kolonisasi bakteri pada luka tertentu
Dressing modern Hydrocolloid, foam dressing, silver dressing, biosynthetic dressing Mempertahankan lingkungan lembap, mengurangi nyeri, mempercepat epitelisasi
Antibiotik sistemik Sesuai kultur dan indikasi Tidak diberikan rutin sebagai profilaksis; digunakan bila terdapat infeksi sistemik
Nutrisi Protein tinggi, enteral feeding dini, suplementasi mikronutrien sesuai kebutuhan Luka bakar menyebabkan hipermetabolisme dan peningkatan kebutuhan energi
Pencegahan tetanus Vaksin tetanus ± imunoglobulin Semua luka bakar perlu evaluasi status imunisasi

INDIKASI ESKAROTOMI PADA LUKA BAKAR ANAK

Eskarotomi adalah tindakan insisi pada jaringan eskar yang mengalami pengerasan akibat luka bakar dalam untuk mengurangi tekanan dan memperbaiki perfusi.

Indikasi utama:

  1. Luka bakar sirkumferensial ekstremitas
    • Terdapat tanda gangguan perfusi:
      • ekstremitas dingin
      • penurunan nadi perifer
      • pengisian kapiler memanjang
      • peningkatan tekanan kompartemen
  2. Luka bakar sirkumferensial dada
    • Menyebabkan keterbatasan ekspansi dada
    • Gangguan ventilasi mekanik
  3. Luka bakar leher
    • Risiko kompresi jalan napas
  4. Peningkatan tekanan jaringan
    • Terutama pada luka bakar dalam dengan edema progresif
  5. Gangguan neurovaskular progresif

Eskarotomi biasanya dilakukan dalam 6–24 jam pertama bila tanda klinis menunjukkan gangguan sirkulasi atau ventilasi.

KOMPLIKASI LUKA BAKAR PADA ANAK

1. Komplikasi awal

Komplikasi Mekanisme
Syok hipovolemik Kehilangan cairan plasma akibat peningkatan permeabilitas kapiler
Gangguan elektrolit Kehilangan cairan dan perubahan metabolik
Gangguan jalan napas Cedera inhalasi, edema jalan napas
Hipotermia Kehilangan panas melalui kulit yang rusak
Infeksi luka Kerusakan barrier kulit dan imunosupresi

2. Komplikasi lanjut

Komplikasi Dampak
Hipertrofik scar Gangguan kosmetik dan fungsi
Kontraktur Keterbatasan gerak sendi
Pruritus kronis Gangguan tidur dan kualitas hidup
Gangguan nutrisi Hambatan pertumbuhan anak
Gangguan psikososial Trauma psikologis, kecemasan, gangguan adaptasi
Sepsis Penyebab utama mortalitas pada luka bakar berat

PROGNOSIS LUKA BAKAR ANAK

Prognosis dipengaruhi oleh:

  1. Luas luka bakar (%TBSA)
  2. Kedalaman luka
  3. Usia anak
  4. Adanya cedera inhalasi
  5. Kecepatan dan kualitas resusitasi awal
  6. Infeksi dan komplikasi sistemik

Anak memiliki prognosis lebih baik dibanding dewasa bila mendapatkan:

  • resusitasi cairan tepat waktu,
  • kontrol infeksi optimal,
  • nutrisi adekuat,
  • rehabilitasi dini.

Namun luka bakar berat dapat menyebabkan dampak jangka panjang berupa gangguan fungsi, pertumbuhan, dan kualitas hidup.

PENCEGAHAN LUKA BAKAR PADA ANAK

Pencegahan di rumah

  • Jauhkan anak dari:
    • air panas,
    • kompor,
    • setrika,
    • kabel listrik,
    • bahan kimia rumah tangga.
  • Gunakan pengaman kompor.
  • Jangan membawa minuman panas saat menggendong bayi.
  • Atur suhu air mandi anak.
  • Simpan bahan kimia dalam wadah asli dan jauh dari jangkauan anak.

Edukasi keluarga

Orang tua perlu memahami pertolongan pertama:

Yang harus dilakukan:

  • Dinginkan luka dengan air mengalir suhu normal selama sekitar 20 menit.
  • Lepaskan pakaian atau benda yang melekat sebelum terjadi pembengkakan.
  • Tutup luka dengan kain bersih.

Yang tidak boleh dilakukan:

  • Jangan mengoleskan pasta gigi, mentega, minyak, kopi, atau bahan tradisional.
  • Jangan memecahkan lepuhan.
  • Jangan menggunakan es langsung.

RINGKASAN POIN PENTING

  1. Luka bakar anak adalah kegawatan yang membutuhkan evaluasi sistematis berdasarkan prinsip ABCDE trauma.
  2. Prioritas pertama adalah:
    • airway,
    • breathing,
    • circulation,
    • kontrol nyeri,
    • pencegahan hipotermia.
  3. Estimasi luas luka bakar menggunakan TBSA penting untuk menentukan kebutuhan cairan.
  4. Resusitasi cairan menggunakan kristaloid terutama Ringer Lactate.
  5. Antibiotik sistemik tidak diberikan rutin tanpa bukti infeksi.
  6. Nutrisi enteral dini sangat penting karena anak mengalami keadaan hipermetabolik.
  7. Eskarotomi dipertimbangkan pada luka bakar sirkumferensial dengan gangguan perfusi atau ventilasi.
  8. Pencegahan kontraktur membutuhkan rehabilitasi dan fisioterapi dini.
  9. Perawatan luka modern dan pendekatan multidisiplin meningkatkan survival serta kualitas hidup anak.

DAFTAR PUSTAKA

  • American Burn Association. Advanced Burn Life Support (ABLS) Provider Manual. Chicago, IL: American Burn Association; 2023.
  • American Burn Association. Guidelines for burn patient referral. J Burn Care Res. 2022;43(1):1-10.
  • World Health Organization. Burns: Fact Sheet. Geneva: WHO; 2023.
  • Committee on Trauma, American College of Surgeons. Advanced Trauma Life Support (ATLS): Student Course Manual. 11th ed. Chicago, IL: American College of Surgeons; 2023.
  • European Burns Association. European Practice Guidelines for Burn Care. Vienna: European Burns Association; 2017.
  • Palmieri TL, Greenhalgh DG. Topical treatment of pediatric burns. Burns. 2017;43(5):S1-S15.
  • Greenhalgh DG. Management of burns. N Engl J Med. 2019;380(24):2349-2359.
  • Herndon DN, ed. Total Burn Care. 6th ed. Edinburgh: Elsevier; 2018.
  • Wasiak J, Cleland H, Campbell F, Spinks A. Dressings for superficial and partial thickness burns. Cochrane Database Syst Rev. 2013;(3):CD002106.
  • Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia: Luka Bakar pada Anak. Jakarta: IDAI; edisi terbaru.
  • Jeschke MG, van Baar ME, Choudhry MA, Chung KK, Gibran NS, Logsetty S. Burn injury. Nat Rev Dis Primers. 2020;6:11.
  • Atiyeh BS, Costagliola M, Hayek SN. Burn prevention mechanisms and outcomes. Ann Burns Fire Disasters. 2009;22(1):3-11.
  • American Burn Association (ABA). Advanced Burn Life Support (ABLS) Provider Manual. 2023.
  • American College of Surgeons Committee on Trauma. ATLS Student Course Manual. 11th ed. 2023.
  • European Burns Association. European Practice Guidelines for Burn Care. 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *