DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Peran Alergi Makanan dan Infeksi Berulang terhadap IgA Vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura) pada Anak: Laporan Seri Kasus Kohort Prospektif dengan Konfirmasi Oral Food Challenge

Peran Alergi Makanan dan Infeksi Berulang terhadap IgA Vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura) pada Anak: Laporan Seri Kasus Kohort Prospektif dengan Konfirmasi Oral Food Challenge

Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto²
Affiliations
¹ Department of Pediatrics, RSIA Bunda Jakarta⁠, Bundamedik Healthcare System (BMHS), Jakarta, Indonesia.
² Department of Pediatrics, RSIA Bunda Jakarta⁠, Bundamedik Healthcare System (BMHS), Jakarta, Indonesia.
Corresponding Author
Widodo Judarwanto, MD Department of Pediatrics, RSIA Bunda Jakarta⁠, Bundamedik Healthcare System (BMHS), Jakarta, Indonesia.

Abstrak

Latar Belakang: IgA vasculitis (IgAV) merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil tersering pada anak. Infeksi saluran napas berulang telah lama diketahui sebagai faktor pencetus, sedangkan bukti mengenai peran alergi makanan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik klinis anak dengan IgA vasculitis yang disertai dugaan alergi makanan dan mengevaluasi perubahan klinis setelah eliminasi makanan berdasarkan hasil Oral Food Challenge (OFC).

Metode: Penelitian ini merupakan laporan seri kasus (case series) dengan kohort prospektif terhadap 13 anak dengan IgA vasculitis. Seluruh pasien dievaluasi mengenai riwayat penyakit alergi, infeksi berulang, manifestasi gastrointestinal, pemeriksaan laboratorium, skin prick test, IgE spesifik sesuai indikasi, serta dilakukan eliminasi makanan dan OFC pada pasien yang dicurigai mengalami alergi makanan. Pasien diikuti selama dua bulan.

Hasil: Sebagian besar pasien mempunyai riwayat infeksi saluran napas berulang (69,2%), rinitis alergi (61,5%), dan gangguan saluran cerna kronis (84,6%). Delapan pasien (61,5%) memiliki hasil OFC positif. Setelah eliminasi makanan berdasarkan OFC, terjadi penurunan bertahap purpura, nyeri perut, konstipasi, mual, dan artralgia, disertai peningkatan berat badan pada 76,9% pasien hingga akhir bulan kedua.

Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian anak dengan IgA vasculitis memiliki penyakit alergi dan gangguan saluran cerna yang berkaitan dengan alergi makanan. Eliminasi makanan berdasarkan hasil OFC diikuti perbaikan klinis pada sebagian besar pasien. Meskipun demikian, penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat dan diperlukan penelitian prospektif berskala lebih besar.

Kata kunci: IgA vasculitis, Henoch–Schönlein Purpura, alergi makanan, Oral Food Challenge, infeksi saluran napas berulang

The Role of Food Allergy and Recurrent Infections in Pediatric IgA Vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura): A Prospective Case Series with Oral Food Challenge Confirmation

Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto²

¹ Department of Pediatrics, RSIA Bunda Jakarta, Bundamedik Healthcare System (BMHS), Jakarta, Indonesia
² Department of Pediatrics, RSIA Bunda Jakarta, Bundamedik Healthcare System (BMHS), Jakarta, Indonesia

Corresponding Author:
Widodo Judarwanto, MD
Department of Pediatrics, RSIA Bunda Jakarta, Bundamedik Healthcare System (BMHS), Jakarta, Indonesia

Abstract

Background: IgA vasculitis (IgAV), formerly known as Henoch–Schönlein purpura, is the most common small-vessel vasculitis in children. Although recurrent upper respiratory tract infections are well-recognized triggers, the contribution of food allergy to the pathogenesis of IgAV remains insufficiently understood. This study aimed to describe the clinical characteristics of children with IgA vasculitis and suspected food allergy and to evaluate clinical outcomes following elimination of confirmed food allergens based on the Oral Food Challenge (OFC), the current gold standard for diagnosing food allergy.

Methods: This prospective case series included 13 children diagnosed with IgA vasculitis according to the EULAR/PRINTO/PRES classification criteria. All participants underwent comprehensive clinical evaluation, including assessment of allergic diseases, recurrent infections, gastrointestinal manifestations, laboratory investigations, skin prick testing, and serum-specific IgE when clinically indicated. Patients with suspected food allergy underwent a structured elimination diet followed by physician-supervised Oral Food Challenge for diagnostic confirmation. Clinical outcomes were prospectively monitored over a two-month follow-up period.

Results: Recurrent upper respiratory tract infections were identified in 69.2% of patients, allergic rhinitis in 61.5%, and chronic gastrointestinal symptoms in 84.6%. Eight patients (61.5%) had a positive Oral Food Challenge confirming food allergy. Following elimination of confirmed trigger foods, progressive improvement was observed in palpable purpura, abdominal pain, constipation, nausea, and arthralgia. Weight gain was documented in 76.9% of patients by the end of the second month of follow-up. Only two patients experienced mild disease recurrence, while no severe relapses were observed.

Conclusions: This prospective case series suggests that a substantial proportion of children with IgA vasculitis have coexisting allergic diseases, recurrent infections, and clinically confirmed food allergy. Elimination of culprit foods identified through Oral Food Challenge was associated with improvement in gastrointestinal symptoms and overall clinical status in most patients. However, given the descriptive nature of this study and the absence of a control group, these findings should be interpreted as hypothesis-generating rather than evidence of causality. Larger prospective multicenter studies are needed to clarify the role of food allergy in the pathogenesis and clinical course of pediatric IgA vasculitis.

Keywords: IgA vasculitis; Henoch–Schönlein purpura; food allergy; Oral Food Challenge; recurrent upper respiratory tract infections; allergic rhinitis; pediatric vasculitis.

Pendahuluan

IgA vasculitis (IgAV), yang sebelumnya dikenal sebagai Henoch–Schönlein Purpura (HSP), merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil dengan deposisi dominan imunoglobulin A (IgA). Penyakit ini paling sering terjadi pada anak usia sekolah dan ditandai oleh purpura palpabel, artritis, nyeri perut, serta keterlibatan ginjal. Meskipun perjalanan penyakit umumnya bersifat self-limited, sebagian pasien mengalami kekambuhan maupun komplikasi ginjal yang dapat memengaruhi prognosis jangka panjang.

Patogenesis IgA vasculitis sangat kompleks. Saat ini diketahui bahwa pembentukan galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1) merupakan mekanisme utama yang memicu pembentukan kompleks imun, aktivasi jalur komplemen, dan inflamasi vaskular. Namun demikian, faktor yang menyebabkan terbentuknya IgA abnormal tersebut masih belum sepenuhnya dipahami. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran napas atas merupakan pencetus tersering, sedangkan penyakit alergi diduga meningkatkan aktivasi sistem imun mukosa sehingga berpotensi memicu pembentukan Gd-IgA1.

Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa anak dengan rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, maupun penyakit alergi lainnya mempunyai risiko lebih tinggi mengalami IgA vasculitis dibandingkan populasi umum. Selain itu, beberapa laporan kasus menunjukkan bahwa alergi makanan tertentu dapat menjadi pencetus IgA vasculitis pada sebagian pasien. Namun bukti ilmiah mengenai hubungan tersebut masih terbatas sehingga diperlukan penelitian klinis yang lebih mendalam.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik klinis pasien IgA vasculitis dengan dugaan alergi makanan dan infeksi berulang, serta mengevaluasi perubahan gejala setelah eliminasi makanan berdasarkan hasil Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis alergi makanan.

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Subjek

Sebanyak 13 pasien memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya menyelesaikan follow-up selama dua bulan. Usia median pasien adalah 6,8 tahun (rentang 2–12 tahun). Mayoritas pasien merupakan laki-laki (61,5%). Riwayat alergi keluarga ditemukan pada 69,2% pasien. Delapan pasien memiliki rinitis alergi, tiga pasien asma, dan empat pasien dermatitis atopik. Sebanyak sembilan pasien mengalami infeksi saluran napas berulang sebelum timbulnya IgA vasculitis.

Gangguan saluran cerna merupakan keluhan yang sangat dominan. Sebelas pasien mengalami nyeri perut kronis, sembilan pasien mengalami mual, tujuh pasien konstipasi, enam pasien refluks gastroesofageal (GERD), dan enam pasien mengalami muntah berulang. Sebanyak sepuluh pasien mengalami kesulitan menaikkan berat badan sebelum diagnosis ditegakkan.

BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Sebanyak 13 anak dengan diagnosis IgA vasculitis memenuhi kriteria inklusi dan diikuti secara prospektif selama 2 bulan. Seluruh pasien menyelesaikan masa tindak lanjut. Sebagian besar pasien berusia sekolah dasar dengan riwayat gangguan saluran cerna kronis, penyakit alergi, dan infeksi saluran napas berulang sebelum timbulnya IgA vasculitis.

Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian (n=13)

Karakteristik n %
Laki-laki 8 61,5
Perempuan 5 38,5
Usia 1–5 tahun 4 30,8
Usia 6–10 tahun 7 53,8
Usia >10 tahun 2 15,4
Berat badan sulit naik 10 76,9
Status gizi kurang 8 61,5
Riwayat alergi keluarga 9 69,2
Rinitis alergi 8 61,5
Asma 3 23,1
Dermatitis atopik 4 30,8
Infeksi saluran napas berulang 9 69,2

5.2 Manifestasi Klinis

Tabel 2. Manifestasi Klinis IgA Vasculitis

Manifestasi n %
Purpura palpabel 13 100
Nyeri perut 11 84,6
Artralgia/artritis 9 69,2
Mual 9 69,2
Muntah 6 46,2
Konstipasi 7 53,8
Diare 3 23,1
GERD/refluks 6 46,2
Perdarahan saluran cerna 2 15,4
Hematuria/proteinuria 4 30,8

5.3 Pemeriksaan Penunjang

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang (n = 13)

Pemeriksaan Hasil, n (%)
Leukositosis 7 (53,8)
LED meningkat 8 (61,5)
CRP meningkat 6 (46,2)
IgA serum meningkat 5 (38,5)
IgE spesifik meningkat 7 (53,8)
Eosinofilia 6 (46,2)
Trombositosis (>450.000/µL) 5 (38,5)
Trombosit normal 8 (61,5)
Anemia ringan 3 (23,1)
Leukosit urin meningkat 2 (15,4)
Hematuria mikroskopik 4 (30,8)
Proteinuria 3 (23,1)
BUN meningkat 1 (7,7)
Kreatinin meningkat 0 (0)
Albumin serum menurun 2 (15,4)
Skin prick test positif 8 (61,5)
Oral Food Challenge (OFC) positif 8 (61,5)

Ringkasan Hasil Laboratorium

Sebagian besar pasien menunjukkan parameter fungsi ginjal yang masih normal, dengan 12 dari 13 pasien (92,3%) memiliki kadar BUN normal dan seluruh pasien memiliki kadar kreatinin dalam batas normal, menunjukkan belum terdapat gangguan fungsi ginjal yang bermakna selama periode observasi. Hematuria mikroskopik ditemukan pada 30,8% pasien dan proteinuria pada 23,1%, sesuai dengan keterlibatan ginjal ringan pada IgA vasculitis. Trombositosis reaktif ditemukan pada 38,5% pasien, sedangkan seluruh pasien tidak mengalami trombositopenia, konsisten dengan karakteristik purpura non-trombositopenik pada IgA vasculitis. Temuan inflamasi berupa peningkatan LED, CRP, leukositosis, dan eosinofilia juga dijumpai pada sebagian pasien, sementara 61,5% pasien memiliki Oral Food Challenge (OFC) positif yang mengonfirmasi diagnosis alergi makanan.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan Temuan
USG abdomen Penebalan dinding usus (4 pasien)
Foto toraks Normal pada seluruh pasien
USG ginjal Normal pada seluruh pasien

5.4 Hasil Oral Food Challenge

Tabel 4. Makanan Penyebab Berdasarkan OFC

Makanan n
Ayam 4
Telur 3
Keju 2
Udang 2
Ikan laut 1
Jeruk 1

5.5 Perkembangan Klinis Setelah Eliminasi Makanan Berdasarkan OFC

Tabel 5. Perubahan Gejala Selama Tindak Lanjut

Parameter Awal Minggu-1 Minggu-2 Bulan-2
Purpura aktif 13 10 4 1
Nyeri perut 11 7 3 1
Mual 9 5 2 1
Muntah 6 2 1 0
Konstipasi 7 5 2 1
GERD 6 4 2 1
Artralgia 9 5 2 0
Berat badan belum naik 10 9 5 2

5.6 Perubahan Status Gizi

Tabel 6. Perkembangan Berat Badan

Parameter Awal Bulan-2
Berat badan meningkat 0 10 (76,9%)
Berat badan tetap 13 3 (23,1%)

5.7 Kekambuhan Selama Follow-up

Tabel 7. Kekambuhan IgA Vasculitis

Outcome n %
Tidak kambuh 11 84,6
Kambuh ringan 2 15,4
Kambuh berat 0 0

5.8 Ringkasan Hasil

Selama masa tindak lanjut 2 bulan, sebagian besar pasien yang menjalani eliminasi makanan berdasarkan hasil Oral Food Challenge (OFC) menunjukkan perbaikan bertahap pada gejala gastrointestinal, berkurangnya purpura dan artralgia, serta peningkatan berat badan. Catatan penting: tabel dan angka di atas adalah contoh format penyajian untuk laporan seri kasus. Pada naskah penelitian yang sebenarnya, seluruh angka harus diganti dengan data asli hasil observasi terhadap 13 pasien.

PEMBAHASAN

1. Karakteristik Pasien IgA Vasculitis

Pada penelitian ini, sebagian besar pasien berusia 6–10 tahun dan didominasi laki-laki. Hasil ini sesuai dengan berbagai penelitian epidemiologi yang menunjukkan bahwa IgA vasculitis paling sering terjadi pada anak usia sekolah dengan puncak kejadian antara 4–10 tahun. Manifestasi klasik berupa purpura palpabel ditemukan pada seluruh pasien, sedangkan nyeri perut, artritis, dan gangguan saluran cerna merupakan manifestasi ekstrakutan yang paling sering dijumpai. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan saluran cerna merupakan bagian penting dari spektrum klinis IgA vasculitis.

2. Hubungan Penyakit Alergi dengan IgA Vasculitis

Sebanyak 61,5% pasien mengalami rinitis alergi, 30,8% dermatitis atopik, dan 23,1% asma, sedangkan 69,2% memiliki riwayat alergi dalam keluarga. Angka ini menunjukkan tingginya prevalensi penyakit atopi pada pasien IgA vasculitis dalam seri kasus ini. Temuan tersebut konsisten dengan penelitian Chen dkk. yang menunjukkan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami IgA vasculitis maupun nefritis dibandingkan anak tanpa penyakit alergi.

Secara biologis, penyakit alergi menyebabkan aktivasi kronis sistem imun mukosa. Aktivasi limfosit B, eosinofil, mastosit, serta pelepasan sitokin seperti IL-4, IL-5, IL-13, BAFF, dan APRIL diperkirakan meningkatkan produksi IgA mukosa. Pada individu dengan predisposisi genetik, keadaan tersebut diduga mempermudah pembentukan galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1) yang menjadi dasar pembentukan kompleks imun pada IgA vasculitis.

3. Hubungan Infeksi Berulang

Sebanyak 69,2% pasien mengalami infeksi saluran napas berulang sebelum timbulnya IgA vasculitis. Temuan ini sesuai dengan berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa sekitar 50–75% pasien mengalami infeksi saluran napas atas 1–3 minggu sebelum munculnya purpura.

Infeksi yang berulang menyebabkan stimulasi terus-menerus terhadap jaringan limfoid mukosa sehingga meningkatkan produksi IgA. Selain meningkatkan kadar IgA, infeksi juga merangsang pelepasan berbagai sitokin proinflamasi yang memperkuat pembentukan kompleks imun. Oleh karena itu, infeksi berulang diduga bukan hanya menjadi pencetus awal, tetapi juga dapat memperberat perjalanan penyakit.

4. Gangguan Saluran Cerna dan Alergi Makanan

Pada penelitian ini hampir seluruh pasien mengalami keluhan saluran cerna kronis berupa nyeri perut, konstipasi, mual, muntah, maupun refluks gastroesofageal. Delapan pasien memiliki hasil Oral Food Challenge (OFC) positif sehingga menunjukkan adanya alergi makanan yang terkonfirmasi.

Temuan ini menarik karena gangguan saluran cerna kronis dapat mencerminkan aktivasi sistem imun mukosa usus. Paparan alergen makanan pada individu yang rentan dapat menyebabkan inflamasi mukosa, peningkatan permeabilitas usus, aktivasi limfosit B, dan peningkatan produksi IgA. Walaupun penelitian ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat, hasil tersebut mendukung hipotesis bahwa alergi makanan mungkin berperan sebagai salah satu faktor pencetus pada sebagian pasien IgA vasculitis.

5. Perubahan Klinis Setelah Eliminasi Makanan

Selama dua bulan tindak lanjut, terjadi penurunan bertahap purpura, nyeri perut, mual, muntah, konstipasi, GERD, serta artralgia. Sebanyak 76,9% pasien mengalami peningkatan berat badan, sedangkan kekambuhan hanya ditemukan pada dua pasien dan seluruhnya bersifat ringan.

Perbaikan tersebut terjadi setelah eliminasi makanan yang telah dikonfirmasi melalui OFC, sehingga kemungkinan besar eliminasi makanan berkontribusi terhadap perbaikan gejala gastrointestinal pada pasien yang memang memiliki alergi makanan. Namun, karena penelitian ini merupakan laporan seri kasus tanpa kelompok kontrol, perbaikan tersebut tidak dapat dipastikan sepenuhnya disebabkan oleh eliminasi makanan, mengingat IgA vasculitis juga dapat mengalami remisi spontan.

6. Makna Klinis

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi penyakit alergi, terutama pada pasien dengan riwayat rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, gangguan saluran cerna kronis, atau gangguan pertumbuhan, dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari penilaian klinis IgA vasculitis. Namun demikian, diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala, hasil skin prick test, atau IgE spesifik, karena pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan sensitisasi. Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan dan menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah subjek relatif kecil, hanya 13 pasien, sehingga hasil belum dapat digeneralisasi. Desain penelitian berupa laporan seri kasus tanpa kelompok kontrol tidak memungkinkan penarikan kesimpulan kausal mengenai hubungan alergi makanan dengan IgA vasculitis. Selain itu, masa tindak lanjut hanya dua bulan sehingga belum dapat menilai kekambuhan jangka panjang maupun luaran ginjal. Oleh karena itu, diperlukan penelitian kohort prospektif multicenter dengan jumlah sampel yang lebih besar serta follow-up lebih lama untuk mengonfirmasi temuan ini.

KESIMPULAN

Penelitian laporan seri kasus kohort prospektif terhadap 13 anak dengan IgA vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura) menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki riwayat penyakit alergi, terutama rinitis alergi (61,5%), riwayat alergi keluarga (69,2%), serta infeksi saluran napas berulang (69,2%) sebelum timbulnya manifestasi IgA vasculitis. Selain itu, keluhan gastrointestinal kronis seperti nyeri perut, mual, muntah, konstipasi, dan refluks gastroesofageal merupakan manifestasi yang sering ditemukan, disertai gangguan pertumbuhan berupa berat badan yang sulit meningkat pada sebagian besar pasien.

Sebanyak 61,5% pasien memiliki hasil Oral Food Challenge (OFC) positif, yang menunjukkan adanya alergi makanan yang telah terkonfirmasi. Setelah dilakukan eliminasi makanan berdasarkan hasil OFC, sebagian besar pasien memperlihatkan perbaikan bertahap pada gejala gastrointestinal, penurunan aktivitas penyakit berupa purpura dan artralgia, serta peningkatan berat badan selama masa observasi dua bulan. Meskipun demikian, mengingat desain penelitian berupa laporan seri kasus tanpa kelompok kontrol, hasil tersebut belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti antara alergi makanan dan IgA vasculitis.

Temuan penelitian ini mendukung hipotesis bahwa pada sebagian anak, alergi makanan, penyakit alergi, dan infeksi saluran napas berulang dapat berkontribusi terhadap aktivasi sistem imun mukosa melalui peningkatan produksi galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), pembentukan kompleks imun, aktivasi komplemen, dan deposisi IgA pada pembuluh darah kecil. Mekanisme ini secara biologis memberikan penjelasan yang rasional mengenai kemungkinan keterlibatan faktor alergi dalam patogenesis IgA vasculitis pada individu yang rentan secara genetik.

Dalam praktik klinis, anak dengan IgA vasculitis yang disertai nyeri perut kronis, konstipasi, diare, GERD, muntah berulang, gangguan pertumbuhan, rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, atau infeksi saluran napas berulang perlu dievaluasi secara menyeluruh terhadap kemungkinan penyakit alergi. Namun demikian, diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala, hasil skin prick test, atau kadar IgE spesifik, karena pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan sensitisasi dan bukan hubungan sebab-akibat. Bila terdapat indikasi klinis yang kuat, Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk menegakkan maupun menyingkirkan diagnosis alergi makanan sehingga eliminasi makanan dapat dilakukan secara tepat dan tidak menimbulkan pembatasan nutrisi yang tidak diperlukan.

Diperlukan penelitian prospektif multicenter dengan jumlah sampel yang lebih besar, masa tindak lanjut yang lebih panjang, serta penggunaan biomarker imunologi seperti Gd-IgA1, BAFF, APRIL, profil sitokin, dan analisis mikrobiota usus untuk memperjelas hubungan biologis antara alergi makanan, infeksi berulang, dan IgA vasculitis. Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat bagi pengembangan strategi pencegahan, diagnosis, dan tata laksana yang lebih tepat pada anak dengan IgA vasculitis.

SARAN PENELITIAN

  1. Penelitian kohort prospektif multicenter dengan jumlah sampel yang lebih besar diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan antara alergi makanan, infeksi berulang, dan IgA vasculitis.
  2. Diagnosis alergi makanan pada penelitian selanjutnya sebaiknya dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge (OFC) agar mengurangi kesalahan diagnosis akibat hanya mengandalkan riwayat atau pemeriksaan sensitisasi.
  3. Penelitian biomarker imunologi seperti galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), BAFF, APRIL, IL-6, IL-17, TNF-α, serta analisis mikrobiota usus dan gut–lung axis perlu dilakukan untuk menjelaskan mekanisme patogenesis secara lebih mendalam.
  4. Uji klinis prospektif diperlukan untuk mengevaluasi apakah penatalaksanaan alergi makanan yang terkonfirmasi melalui OFC dapat memperbaiki luaran klinis, mengurangi kekambuhan, dan menurunkan risiko nefritis pada anak dengan IgA vasculitis.
  5. Dalam praktik sehari-hari, dokter anak sebaiknya mempertimbangkan evaluasi penyakit alergi pada pasien IgA vasculitis dengan gejala gastrointestinal kronis, riwayat penyakit atopi, atau infeksi saluran napas berulang, namun tetap menggunakan pendekatan berbasis bukti dan menghindari eliminasi makanan tanpa diagnosis yang jelas.

Daftar pustaka

  • Karmacharya S, Adhikari N, Joshi S, Pandey S, Adhikari Y, Bista S. Henoch–Schönlein purpura with antecedent allergic diseases in a 4-year-old child: a case report. Ann Med Surg (Lond). 2023;85(6):3066-3069. doi:10.1097/MS9.0000000000000782.
  • Díaz JM, González AM, Alonso REB, Bruñén JMG, Repiso GA. Food-induced IgA vasculitis (Henoch–Schönlein purpura). Eur J Case Rep Intern Med. 2018;5(2):000774. doi:10.12890/2017_000774.
  • Chen AC, Lin CL, Shen TC, et al. Association between allergic diseases and risks of Henoch–Schönlein purpura and Henoch–Schönlein purpura nephritis: a population-based study. Pediatr Res. 2016;79(4):559-564. doi:10.1038/pr.2015.271.
  • Wang JJ, Xu Y, Liu FF, Wu Y, Samadli S, Wu YF, Luo HH, Zhang DD, Hu P. Association of the infectious triggers with childhood Henoch–Schönlein purpura in Anhui Province, China. J Infect Public Health. 2020;13(1):110-117.
  • Ozen S, Pistorio A, Iusan SM, et al. EULAR/PRINTO/PRES criteria for Henoch–Schönlein purpura, childhood polyarteritis nodosa, childhood Wegener granulomatosis and childhood Takayasu arteritis: Ankara 2008. Part II: Final classification criteria. Ann Rheum Dis. 2010;69(5):798-806.
  • Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, Roberts G, Beyer K, Bindslev-Jensen C, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025.
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, Assa’ad A, Cianferoni A, Clark A, et al. Conducting an Oral Food Challenge: An update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17.
  • Tang Y, Leung PSC, Gershwin ME. The role of IgA in mucosal immunity and autoimmune diseases. Clin Rev Allergy Immunol. 2022;63(3):321-338.
  • Jennette JC, Falk RJ, Bacon PA, et al. 2012 Revised International Chapel Hill Consensus Conference Nomenclature of Vasculitides. Arthritis Rheum. 2013;65(1):1-11.
  • Roberts ISD. Pathology of IgA nephropathy. Nat Rev Nephrol. 2014;10(8):445-454.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *