
Hubungan Henoch–Schönlein Purpura (IgA Vasculitis), Alergi Makanan, dan Infeksi Berulang pada Anak: Tinjauan Patofisiologi dan Bukti Ilmiah
Henoch–Schönlein Purpura (HSP), yang saat ini dikenal sebagai IgA vasculitis (IgAV), merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil yang ditandai oleh deposisi kompleks imun yang mengandung imunoglobulin A (IgA). Penyakit ini umumnya mengenai kulit, saluran cerna, sendi, dan ginjal. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa infeksi berulang dan penyakit alergi, termasuk alergi makanan, berperan sebagai faktor pencetus pada sebagian pasien. Aktivasi sistem imun mukosa akibat infeksi maupun paparan alergen dapat meningkatkan produksi IgA abnormal, pembentukan kompleks imun, aktivasi komplemen, dan akhirnya menyebabkan inflamasi pembuluh darah kecil. Artikel ini mengulas hubungan ketiga kondisi tersebut berdasarkan mekanisme imunologi serta hasil penelitian klinis dan epidemiologi terbaru.
Henoch–Schönlein Purpura merupakan vaskulitis sistemik tersering pada anak dengan insidensi sekitar 10–20 kasus per 100.000 anak setiap tahun, dan lebih dari 90% kasus terjadi pada usia di bawah 10 tahun. Manifestasi klinis khas meliputi purpura non-trombositopenik, artritis atau artralgia, nyeri perut, serta keterlibatan ginjal berupa nefritis IgA. Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini muncul akibat interaksi antara predisposisi genetik dan paparan lingkungan yang memicu respons imun abnormal. Dua faktor yang paling sering dikaitkan dengan timbulnya IgA vasculitis adalah infeksi, terutama infeksi saluran napas atas, dan penyakit alergi, termasuk alergi makanan.
Hubungan Alergi Makanan dengan IgA Vasculitis
Alergi makanan merupakan salah satu bentuk gangguan regulasi sistem imun mukosa usus. Pada individu yang rentan, paparan alergen makanan dapat memicu aktivasi sel dendritik, limfosit T helper, mastosit, eosinofil, dan limfosit B sehingga terjadi pelepasan berbagai sitokin inflamasi. Aktivasi imun yang berlangsung berulang menyebabkan peningkatan permeabilitas mukosa usus dan stimulasi produksi IgA mukosa. Pada sebagian individu, respons imun tersebut diduga berkontribusi terhadap terbentuknya IgA1 yang mengalami glikosilasi abnormal (galactose-deficient IgA1), yang merupakan komponen penting dalam patogenesis IgA vasculitis.
Hubungan tersebut didukung oleh laporan kasus Díaz dkk. (2018) yang menunjukkan bahwa IgA vasculitis dapat dipicu oleh makanan tertentu. Pada pasien tersebut, gejala menghilang setelah eliminasi makanan penyebab dan kambuh kembali setelah dilakukan paparan ulang, sehingga menunjukkan hubungan temporal yang kuat. Selain itu, Karmacharya dkk. (2023) melaporkan seorang anak usia empat tahun dengan riwayat penyakit alergi sebelum mengalami Henoch–Schönlein Purpura, yang semakin memperkuat dugaan bahwa disregulasi imun pada penyakit alergi dapat meningkatkan kerentanan terhadap IgA vasculitis.
Hubungan Infeksi Berulang dengan IgA Vasculitis
Infeksi merupakan faktor pencetus yang paling sering ditemukan pada IgA vasculitis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50–75% pasien mengalami infeksi beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum timbulnya gejala. Infeksi saluran napas atas akibat Streptococcus pyogenes, Mycoplasma pneumoniae, adenovirus, influenza, respiratory syncytial virus (RSV), maupun virus Epstein–Barr merupakan mikroorganisme yang paling sering dikaitkan dengan penyakit ini.
Infeksi berulang menyebabkan aktivasi sistem imun mukosa yang berlebihan sehingga meningkatkan proliferasi limfosit B dan produksi IgA. Pada individu dengan predisposisi tertentu, IgA yang dihasilkan mengalami perubahan glikosilasi sehingga mudah membentuk kompleks imun. Kompleks imun tersebut kemudian mengendap pada pembuluh darah kecil dan mengaktifkan sistem komplemen sehingga memicu proses vaskulitis. Penelitian Wang dkk. (2020) mendukung mekanisme ini dengan menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara berbagai infeksi saluran napas dengan kejadian Henoch–Schönlein Purpura pada anak.
Hubungan Alergi Makanan dan Infeksi Berulang
Alergi makanan dan infeksi berulang tidak berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi melalui mekanisme imun mukosa. Inflamasi kronis akibat alergi khusuanya alergi pencernaan dapat mengganggu integritas sawar mukosa usus, mengubah komposisi mikrobiota, serta menyebabkan disregulasi respons imun lokal. Keadaan ini diduga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas maupun saluran cerna. Sebaliknya, infeksi berulang juga memperkuat aktivasi sistem imun sehingga memperberat inflamasi alergi. Interaksi kedua proses tersebut dapat meningkatkan produksi IgA abnormal dan memperbesar kemungkinan terbentuknya kompleks imun yang berperan dalam patogenesis IgA vasculitis
Patofisiologi
Patogenesis IgA vasculitis diawali oleh paparan antigen yang berasal dari infeksi atau alergen makanan pada individu yang memiliki kerentanan genetik. Paparan tersebut mengaktifkan sistem imun mukosa sehingga meningkatkan produksi galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1). Molekul IgA abnormal ini dikenali sebagai antigen oleh sistem imun sehingga terbentuk autoantibodi IgG maupun IgA terhadap Gd-IgA1. Interaksi keduanya menghasilkan kompleks imun berukuran besar yang sulit dibersihkan dari sirkulasi.
Kompleks imun tersebut kemudian mengendap pada dinding pembuluh darah kecil di kulit, saluran cerna, sendi, dan ginjal. Deposisi ini mengaktifkan jalur komplemen alternatif dan lektin sehingga menghasilkan berbagai mediator inflamasi seperti C3a, C5a, interleukin-6, interleukin-8, dan tumor necrosis factor-α (TNF-α). Aktivasi neutrofil dan kerusakan endotel pembuluh darah selanjutnya menyebabkan vaskulitis leukositoklastik yang secara klinis bermanifestasi sebagai purpura, nyeri sendi, nyeri perut, perdarahan saluran cerna, dan nefritis IgA.
Bukti Epidemiologi
Hubungan antara penyakit alergi dan IgA vasculitis juga didukung oleh penelitian epidemiologi berskala besar. Chen dkk. (2016) melalui studi berbasis populasi menemukan bahwa anak dengan penyakit alergi, seperti rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, dan konjungtivitis alergi, memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami Henoch–Schönlein Purpura maupun nefritis akibat HSP dibandingkan anak tanpa penyakit alergi. Risiko tersebut meningkat seiring bertambahnya jumlah penyakit alergi yang dimiliki seorang anak, sehingga menunjukkan adanya hubungan biologis yang konsisten antara disregulasi imun alergi dan IgA vasculitis.
Bukti epidemiologi yang kuat menunjukkan bahwa penyakit alergi berhubungan dengan peningkatan risiko IgA vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura/HSP) pada anak. Dalam studi kohort berbasis populasi nasional di Taiwan yang melibatkan puluhan ribu anak, Chen dkk. (2016) menemukan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko yang secara bermakna lebih tinggi mengalami HSP dibandingkan anak tanpa penyakit alergi. Risiko tersebut ditemukan pada berbagai penyakit alergi, termasuk rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, dan konjungtivitis alergi. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivasi sistem imun pada penyakit alergi kemungkinan berperan dalam patogenesis IgA vasculitis.
Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan dosis-respons (dose-response relationship). Semakin banyak penyakit alergi yang dimiliki seorang anak (allergic multimorbidity), semakin tinggi pula risiko terjadinya HSP maupun HSP nefritis. Anak yang memiliki dua, tiga, atau lebih penyakit alergi menunjukkan risiko yang lebih besar dibandingkan anak yang hanya memiliki satu penyakit alergi. Pola ini merupakan salah satu indikator epidemiologi yang memperkuat dugaan adanya hubungan biologis, bukan sekadar hubungan kebetulan, antara disregulasi imun alergi dengan timbulnya IgA vasculitis.
Temuan epidemiologi tersebut konsisten dengan berbagai laporan klinis dan penelitian lain yang menunjukkan bahwa rinitis alergi, alergi makanan, dan infeksi saluran napas berulang sering mendahului timbulnya IgA vasculitis pada anak. Laporan kasus oleh Karmacharya dkk. (2023) menggambarkan HSP pada anak dengan riwayat penyakit alergi, sedangkan Díaz dkk. (2018) melaporkan kasus IgA vasculitis yang dipicu oleh alergi makanan. Selain itu, penelitian Wang dkk. (2020) menunjukkan bahwa sebagian besar kasus HSP didahului oleh infeksi saluran napas atas. Keseluruhan bukti tersebut mendukung hipotesis bahwa aktivasi sistem imun mukosa akibat penyakit alergi dan infeksi berulang dapat meningkatkan produksi IgA abnormal, pembentukan kompleks imun, dan akhirnya memicu terjadinya IgA vasculitis pada anak yang memiliki predisposisi genetik.
Implikasi Klinis
Pada anak dengan IgA vasculitis yang disertai nyeri perut kronis, muntah, sembelit, diare, gangguan pertumbuhan, rinitis alergi, riwayat penyakit alergi, atau infeksi saluran napas berulang, dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya alergi makanan sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap aktivasi sistem imun mukosa. Hal ini terutama penting bila keluhan saluran cerna berlangsung lama, berulang, atau tidak membaik dengan terapi konvensional. Meskipun demikian, tidak semua kasus IgA vasculitis berkaitan dengan alergi makanan, sehingga evaluasi harus dilakukan secara individual berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, dan faktor risiko masing-masing pasien.
Diagnosis alergi makanan tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan IgE spesifik, atau skin prick test, karena ketiga hal tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu membuktikan hubungan sebab-akibat. Bila terdapat kecurigaan klinis yang kuat, evaluasi dilakukan secara bertahap melalui anamnesis, pemeriksaan klinis, eliminasi makanan yang terarah, dan bila diindikasikan dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas diagnosis alergi makanan. Pendekatan berbasis bukti ini membantu mengidentifikasi makanan yang benar-benar menjadi pencetus, mencegah pembatasan makanan yang tidak perlu, serta mendukung tata laksana yang lebih tepat untuk memperbaiki gejala saluran cerna, status gizi, dan kualitas hidup pasien.
Kesimpulan
Henoch–Schönlein Purpura merupakan penyakit imun kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa infeksi berulang dan penyakit alergi, termasuk alergi makanan, dapat menjadi faktor pencetus melalui aktivasi sistem imun mukosa, peningkatan produksi IgA abnormal, pembentukan kompleks imun, dan aktivasi sistem komplemen. Meskipun demikian, hubungan tersebut tidak berarti semua kasus IgA vasculitis disebabkan oleh alergi makanan. Oleh karena itu, evaluasi setiap pasien harus dilakukan secara individual dengan pendekatan berbasis bukti agar diagnosis dan tata laksana dapat dilakukan secara tepat.
Daftar Pustaka
- Karmacharya S, Adhikari N, Joshi S, Pandey S, Adhikari Y, Bista S. Henoch–Schönlein purpura with antecedent allergic diseases in a 4-year-old child: a case report. Ann Med Surg (Lond). 2023;85(6):3066–3069. doi:10.1097/MS9.0000000000000782.
- Díaz JM, González AM, Alonso REB, Bruñén JMG, Repiso GA. Food-induced IgA vasculitis (Henoch-Schönlein purpura). Eur J Case Rep Intern Med. 2018;5(2):000774. doi:10.12890/2017_000774.
- Chen AC, Lin CL, Shen TC, et al. Association between allergic diseases and risks of Henoch–Schönlein purpura and Henoch–Schönlein purpura nephritis: a population-based study. Pediatr Res. 2016;79(4):559–564. doi:10.1038/pr.2015.271.
- Wang JJ, Xu Y, Liu FF, Wu Y, Samadli S, Wu YF, Luo HH, Zhang DD, Hu P. Association of the infectious triggers with childhood Henoch–Schönlein purpura in Anhui Province, China. J Infect Public Health. 2020;13(1):110–117.







Leave a Reply