Mitos: Demam Tinggi Pasti Harus Dikompres Air Es
Pertanyaan
“Bayi saya demam hingga 39,5°C. Keluarga menyarankan agar tubuh bayi dikompres dengan air es atau alkohol supaya panasnya cepat turun. Apakah cara tersebut aman? Bagaimana penanganan demam pada bayi yang benar menurut penelitian ilmiah, kapan perlu memberikan obat penurun demam, dan kapan bayi harus segera dibawa ke dokter atau IGD?”
Jawaban
Demam bukanlah penyakit, melainkan respons alami tubuh terhadap infeksi virus, bakteri, atau penyebab lainnya. Saat terjadi infeksi, otak melalui hipotalamus menaikkan “set point” suhu tubuh sehingga suhu meningkat untuk membantu sistem kekebalan melawan kuman. Karena itu, tujuan utama penanganan demam bukan menormalkan angka suhu tubuh, tetapi membuat bayi lebih nyaman, mencegah dehidrasi, dan mencari penyebab demam. American Academy of Pediatrics (AAP), World Health Organization (WHO), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa penanganan demam harus berfokus pada kondisi klinis bayi, bukan semata-mata pada angka termometer.
Mengompres bayi dengan air es atau air yang sangat dingin tidak dianjurkan. Air es menyebabkan pembuluh darah kulit menyempit sehingga pelepasan panas dari tubuh justru berkurang. Selain itu, paparan dingin dapat menimbulkan menggigil. Menggigil meningkatkan aktivitas otot sehingga produksi panas tubuh bertambah dan suhu inti tubuh dapat meningkat kembali. Penggunaan alkohol untuk mengompres juga berbahaya karena dapat diserap melalui kulit atau terhirup oleh bayi sehingga berisiko menyebabkan keracunan. Penelitian menunjukkan bahwa kompres dengan air hangat suam-suam kuku jauh lebih nyaman dibandingkan air dingin, meskipun efeknya terhadap penurunan suhu relatif kecil dibandingkan obat penurun demam.
Penanganan demam di rumah dimulai dengan memastikan bayi tetap mendapatkan cairan yang cukup agar tidak mengalami dehidrasi. Bayi yang masih menyusu sebaiknya lebih sering diberikan ASI atau susu sesuai kebutuhannya. Gunakan pakaian yang tipis dan nyaman serta hindari membungkus bayi dengan selimut tebal karena dapat menghambat pelepasan panas. Suhu ruangan sebaiknya dibuat sejuk dan nyaman, bukan terlalu dingin. Obat penurun demam seperti parasetamol dapat diberikan bila bayi tampak rewel, sulit tidur, tidak nyaman, atau nyeri. Pada bayi berusia di atas enam bulan, ibuprofen dapat menjadi pilihan bila tidak terdapat kontraindikasi. Dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan, bukan usia.
Sebagai contoh, seorang bayi berusia sembilan bulan mengalami demam 39°C akibat infeksi virus saluran napas atas. Bayi masih mau menyusu meskipun lebih rewel dari biasanya. Orang tua memberikan ASI lebih sering, mengenakan pakaian tipis, menjaga suhu ruangan tetap nyaman, dan memberikan parasetamol sesuai dosis berat badan. Dua jam kemudian bayi tampak lebih nyaman dan kembali aktif meskipun suhu tubuh belum sepenuhnya normal. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan terapi diukur dari membaiknya kenyamanan dan aktivitas bayi, bukan dari turunnya suhu hingga 36 atau 37°C.
Meskipun sebagian besar demam pada bayi disebabkan oleh infeksi virus yang ringan, beberapa kondisi memerlukan pemeriksaan segera. Bayi harus segera dibawa ke dokter atau IGD bila berusia kurang dari tiga bulan dengan suhu tubuh 38°C atau lebih, mengalami kejang, tampak sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak mau menyusu, sesak napas, muntah terus-menerus, dehidrasi, muncul ruam ungu yang tidak hilang saat ditekan, atau demam berlangsung lebih dari tiga hari tanpa penyebab yang jelas. Demam bukan satu-satunya penentu berat ringannya penyakit. Bayi dengan suhu 38,5°C dapat mengalami infeksi serius, sedangkan bayi dengan suhu 40°C dapat mengalami infeksi virus ringan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tinggi rendahnya suhu tubuh tidak selalu berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit. Demam hingga 40°C tidak menyebabkan kerusakan otak pada anak yang sebelumnya sehat. Kerusakan otak akibat suhu tubuh umumnya baru terjadi pada hipertermia berat, seperti heat stroke, ketika suhu inti tubuh melebihi sekitar 41,5°C akibat paparan panas lingkungan, bukan karena demam akibat infeksi. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak panik terhadap angka suhu semata, tetapi lebih memperhatikan kondisi umum bayi, mengenali tanda bahaya, memberikan penanganan yang tepat di rumah, dan segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala yang mengkhawatirkan.









Leave a Reply