DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Peran Alergi Makanan dan Infeksi Berulang dalam Patogenesis IgA Vasculitis pada Anak: Tinjauan Literatur Sistematis

Peran Alergi Makanan dan Infeksi Berulang dalam Patogenesis IgA Vasculitis pada Anak: Tinjauan Literatur Sistemati

Abstrak

Latar Belakang: IgA vasculitis (IgAV), sebelumnya dikenal sebagai Henoch–Schönlein Purpura (HSP), merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil yang paling sering terjadi pada anak. Meskipun etiologinya belum sepenuhnya dipahami, berbagai penelitian menunjukkan bahwa infeksi berulang dan penyakit alergi, termasuk alergi makanan, berperan sebagai faktor pencetus melalui aktivasi sistem imun mukosa. Bukti epidemiologi juga menunjukkan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami IgA vasculitis dan nefritis dibandingkan populasi umum.

Tujuan: Menelaah secara sistematis bukti ilmiah mengenai hubungan alergi makanan dan infeksi berulang dengan patogenesis IgA vasculitis pada anak, termasuk mekanisme imunologi, bukti epidemiologi, serta implikasi klinisnya.

Metode: Artikel ini merupakan tinjauan literatur sistematis yang menelaah publikasi dari PubMed, Scopus, dan jurnal internasional bereputasi mengenai IgA vasculitis, alergi makanan, penyakit alergi, rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, dan patofisiologi imunologi. Literatur dipilih berdasarkan relevansi, kualitas metodologi, dan kesesuaian dengan tujuan penelitian.

Hasil: Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran napas atas merupakan pencetus tersering IgA vasculitis. Selain itu, beberapa studi epidemiologi dan laporan kasus menunjukkan hubungan bermakna antara penyakit alergi, termasuk alergi makanan, dengan meningkatnya risiko IgA vasculitis. Mekanisme yang diduga mendasari hubungan tersebut melibatkan aktivasi sistem imun mukosa, peningkatan produksi galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), pembentukan kompleks imun, aktivasi jalur komplemen, dan deposisi IgA pada pembuluh darah kecil.

Kesimpulan: Bukti ilmiah menunjukkan bahwa alergi makanan dan infeksi berulang berpotensi berkontribusi terhadap patogenesis IgA vasculitis pada sebagian anak melalui mekanisme imunologis yang saling berkaitan. Meskipun demikian, hubungan tersebut belum membuktikan kausalitas pada semua kasus, sehingga diperlukan evaluasi klinis yang komprehensif dan penelitian prospektif lebih lanjut untuk memperjelas hubungan sebab-akibat serta implikasi terapeutiknya.

Kata kunci: IgA vasculitis, Henoch–Schönlein Purpura, alergi makanan, rinitis alergi, infeksi berulang, galactose-deficient IgA1, vaskulitis anak.

Pendahuluan

IgA vasculitis (IgAV), yang sebelumnya dikenal sebagai Henoch–Schönlein Purpura (HSP), merupakan vaskulitis sistemik pembuluh darah kecil dengan deposisi dominan imunoglobulin A (IgA) pada dinding pembuluh darah. Berdasarkan klasifikasi 2012 Revised International Chapel Hill Consensus Conference, istilah IgA vasculitis menggantikan Henoch–Schönlein Purpura karena lebih mencerminkan mekanisme patogenesis penyakit. IgA vasculitis merupakan vaskulitis tersering pada anak dengan insidensi sekitar 10–20 kasus per 100.000 anak per tahun dan lebih dari 90% kasus terjadi pada usia di bawah 10 tahun. Manifestasi klinis utama meliputi purpura non-trombositopenik, artritis atau artralgia, nyeri perut, perdarahan saluran cerna, dan nefritis, yang menjadi penentu utama prognosis jangka panjang.

Patogenesis IgA vasculitis merupakan proses yang kompleks dan melibatkan interaksi antara predisposisi genetik, faktor lingkungan, serta disregulasi sistem imun. Saat ini diketahui bahwa pembentukan galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1) merupakan salah satu mekanisme sentral yang menyebabkan terbentuknya kompleks imun, aktivasi sistem komplemen, dan kerusakan pembuluh darah kecil. Namun, faktor yang memicu pembentukan IgA abnormal tersebut masih terus diteliti. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa infeksi, terutama infeksi saluran napas atas, merupakan pencetus tersering. Di sisi lain, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa penyakit alergi, termasuk alergi makanan, rinitis alergi, dermatitis atopik, dan asma, juga berhubungan dengan peningkatan risiko IgA vasculitis.

Konsep common mucosal immune system menjelaskan bahwa mukosa saluran napas dan saluran cerna merupakan bagian dari jaringan imun yang saling berhubungan. Paparan alergen makanan maupun infeksi saluran napas dapat mengaktivasi respons imun mukosa, meningkatkan produksi IgA, serta memicu inflamasi sistemik pada individu yang memiliki kerentanan genetik. Studi berbasis populasi oleh Chen dkk. menunjukkan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami IgA vasculitis, sedangkan laporan kasus oleh Díaz dkk. dan Karmacharya dkk. menggambarkan kemungkinan keterlibatan alergi makanan sebagai faktor pencetus pada sebagian pasien. Selain itu, penelitian Wang dkk. menunjukkan bahwa sebagian besar kasus IgA vasculitis didahului oleh infeksi saluran napas atas.

Meskipun hubungan antara alergi makanan, infeksi berulang, dan IgA vasculitis semakin banyak dilaporkan, bukti yang tersedia masih tersebar dalam berbagai penelitian epidemiologi, laporan kasus, dan kajian patofisiologi. Oleh karena itu, diperlukan sintesis bukti secara sistematis untuk mengevaluasi kekuatan hubungan tersebut, memahami mekanisme biologis yang mendasarinya, serta menilai implikasinya terhadap diagnosis dan tata laksana klinis. Artikel ini bertujuan meninjau secara sistematis literatur yang membahas peran alergi makanan dan infeksi berulang dalam patogenesis IgA vasculitis pada anak, dengan fokus pada mekanisme imunologi, bukti epidemiologi, dan implikasi klinis.

Metode

Artikel ini merupakan tinjauan literatur sistematis (systematic literature review) yang bertujuan mengevaluasi bukti ilmiah mengenai hubungan alergi makanan dan infeksi berulang dengan patogenesis IgA vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura) pada anak. Pencarian literatur dilakukan pada basis data PubMed, Scopus, Google Scholar, dan CrossRef menggunakan kombinasi kata kunci: IgA vasculitis, Henoch–Schönlein Purpura, food allergy, allergic diseases, allergic rhinitis, recurrent infection, upper respiratory tract infection, children, pathogenesis, IgA nephritis, dan mucosal immunity. Artikel yang dipilih meliputi studi kohort, studi kasus-kontrol, penelitian epidemiologi, laporan kasus, tinjauan sistematis, dan artikel dasar mengenai imunologi yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris.

Kriteria inklusi meliputi penelitian yang membahas hubungan penyakit alergi, alergi makanan, infeksi saluran napas berulang, atau mekanisme imunologi dengan IgA vasculitis pada populasi anak. Artikel dengan metodologi yang tidak jelas, data yang tidak lengkap, atau tidak relevan dengan tujuan penelitian dikeluarkan dari analisis. Data yang diekstraksi meliputi karakteristik penelitian, jumlah subjek, faktor pencetus, mekanisme patofisiologi, serta temuan klinis utama. Sintesis dilakukan secara naratif karena heterogenitas desain penelitian dan luaran yang dilaporkan tidak memungkinkan dilakukan meta-analisis

Hasil dan Pembahasan

1. IgA Vasculitis sebagai Penyakit Imun Kompleks

IgA vasculitis merupakan vaskulitis leukositoklastik yang ditandai oleh deposisi kompleks imun IgA pada pembuluh darah kecil. Penyakit ini terutama mengenai kulit, saluran cerna, sendi, dan ginjal. Saat ini diketahui bahwa molekul galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1) merupakan komponen utama dalam patogenesis penyakit. Gd-IgA1 mempunyai struktur glikosilasi abnormal sehingga dikenali sebagai antigen oleh sistem imun. Akibatnya terbentuk autoantibodi IgG maupun IgA terhadap Gd-IgA1 yang menghasilkan kompleks imun berukuran besar. Kompleks imun tersebut kemudian mengendap pada endotel pembuluh darah kecil, mengaktifkan jalur komplemen alternatif dan lektin, merekrut neutrofil, serta menimbulkan inflamasi vaskular.

Manifestasi klinis yang muncul bergantung pada lokasi deposisi kompleks imun. Deposisi pada kulit menyebabkan purpura palpabel, pada saluran cerna menyebabkan nyeri perut, perdarahan, muntah, dan intususepsi, sedangkan pada ginjal menyebabkan nefritis IgA. Karena proses ini dipicu oleh aktivasi sistem imun, berbagai faktor yang meningkatkan stimulasi imun mukosa diduga dapat berperan sebagai pencetus penyakit.

2. Peran Infeksi Berulang dalam Patogenesis IgA Vasculitis

Infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus yang paling banyak dilaporkan pada IgA vasculitis. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 50–75% pasien mengalami infeksi 1–3 minggu sebelum timbulnya purpura. Organisme yang paling sering dikaitkan antara lain Streptococcus pyogenes, Mycoplasma pneumoniae, influenza, adenovirus, respiratory syncytial virus (RSV), parainfluenza, dan virus Epstein–Barr.

Penelitian Wang dkk. (2020) menunjukkan bahwa infeksi saluran napas atas merupakan pencetus tersering IgA vasculitis pada anak. Infeksi berulang menyebabkan stimulasi terus-menerus terhadap sistem imun mukosa sehingga meningkatkan produksi IgA. Pada individu dengan predisposisi genetik, respons ini menyebabkan terbentuknya Gd-IgA1, pembentukan kompleks imun, dan aktivasi komplemen yang berakhir pada vaskulitis.

Selain sebagai pencetus awal, infeksi berulang juga diduga memperberat perjalanan penyakit melalui peningkatan kadar sitokin proinflamasi seperti IL-6, IL-8, TNF-α, dan BAFF (B-cell activating factor), yang berperan dalam maturasi limfosit B dan produksi IgA.

3. Peran Alergi Makanan dalam Patogenesis IgA Vasculitis

Alergi makanan merupakan bentuk disregulasi sistem imun mukosa saluran cerna. Pada individu yang rentan, paparan alergen makanan mengaktifkan sel dendritik, limfosit T helper, eosinofil, mastosit, dan limfosit B sehingga terjadi pelepasan berbagai mediator inflamasi. Aktivasi kronis ini meningkatkan produksi IgA mukosa serta mengganggu integritas sawar usus sehingga antigen makanan lebih mudah memasuki sirkulasi.

Laporan kasus Díaz dkk. (2018) menunjukkan bahwa IgA vasculitis dapat dipicu oleh makanan tertentu. Pada kasus tersebut, gejala menghilang setelah eliminasi makanan penyebab dan muncul kembali setelah dilakukan paparan ulang (rechallenge), sehingga memberikan bukti hubungan temporal yang kuat. Walaupun laporan seperti ini masih terbatas, temuan tersebut menunjukkan bahwa alergi makanan dapat menjadi faktor pencetus pada sebagian pasien.

Namun demikian, bukti yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama IgA vasculitis pada semua anak. Kemungkinan besar alergi makanan hanya merupakan salah satu faktor pencetus pada individu yang memiliki predisposisi genetik dan disregulasi imun tertentu. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan harus dilakukan secara selektif berdasarkan indikasi klinis dan tidak dilakukan secara rutin pada semua pasien IgA vasculitis.

4. Hubungan Rinitis Alergi dengan IgA Vasculitis

Rinitis alergi merupakan penyakit alergi kronis yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) dan ditandai oleh inflamasi mukosa hidung akibat paparan alergen. Selain menyebabkan gejala lokal berupa bersin, rinore, hidung tersumbat, dan gatal, rinitis alergi juga mencerminkan adanya disregulasi sistem imun mukosa yang lebih luas. Berdasarkan konsep common mucosal immune system, mukosa hidung, saluran napas bawah, dan saluran cerna memiliki hubungan imunologis yang erat melalui jaringan limfoid mukosa (mucosa-associated lymphoid tissue/MALT). Oleh karena itu, inflamasi kronis pada mukosa hidung dapat memengaruhi respons imun pada organ lain, termasuk saluran cerna.

Studi epidemiologi oleh Chen dkk. (2016) menunjukkan bahwa anak dengan rinitis alergi memiliki risiko yang secara bermakna lebih tinggi mengalami IgA vasculitis dibandingkan anak tanpa penyakit alergi. Risiko tersebut meningkat lebih lanjut bila rinitis alergi disertai penyakit alergi lain, seperti asma, dermatitis atopik, atau konjungtivitis alergi. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa aktivasi sistem imun mukosa yang berlangsung kronis berperan dalam meningkatkan produksi IgA abnormal pada individu yang rentan.

Secara imunologis, rinitis alergi menyebabkan aktivasi limfosit Th2, mastosit, eosinofil, dan limfosit B yang menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-4, IL-5, IL-13, serta BAFF (B-cell activating factor). Sitokin-sitokin tersebut berperan dalam aktivasi sel B dan produksi imunoglobulin, termasuk IgA mukosa. Aktivasi yang berlangsung berulang dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), yang kemudian membentuk kompleks imun penyebab IgA vasculitis.

5. Interaksi Alergi Makanan, Rinitis Alergi, dan Infeksi Berulang

Alergi makanan, rinitis alergi, dan infeksi saluran napas berulang bukan merupakan kondisi yang berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi melalui mekanisme imun mukosa. Anak dengan penyakit alergi sering mengalami gangguan fungsi sawar epitel (epithelial barrier dysfunction) sehingga alergen maupun mikroorganisme lebih mudah menembus mukosa. Keadaan ini menyebabkan inflamasi kronis yang mempertahankan aktivasi sistem imun dalam jangka panjang.

Gangguan fungsi sawar mukosa juga diikuti perubahan komposisi mikrobiota (dysbiosis) pada saluran cerna maupun saluran napas. Perubahan mikrobiota menyebabkan penurunan toleransi imun, peningkatan permeabilitas mukosa, serta peningkatan produksi berbagai sitokin inflamasi. Akibatnya, anak menjadi lebih rentan mengalami infeksi saluran napas berulang sekaligus lebih mudah mengalami reaksi alergi terhadap berbagai antigen lingkungan maupun makanan.

Pada individu yang memiliki predisposisi genetik, kombinasi antara alergi makanan, rinitis alergi, dan infeksi berulang diperkirakan menghasilkan stimulasi imun mukosa yang lebih kuat dibandingkan masing-masing faktor secara terpisah. Aktivasi ini meningkatkan produksi Gd-IgA1, pembentukan kompleks imun, aktivasi sistem komplemen, dan deposisi IgA pada pembuluh darah kecil sehingga memicu timbulnya IgA vasculitis

6. Bukti Epidemiologi

Berbagai penelitian epidemiologi memperkuat hubungan antara penyakit alergi dan IgA vasculitis. Studi kohort nasional berbasis populasi oleh Chen dkk. (2016) menunjukkan bahwa anak dengan penyakit alergi memiliki risiko lebih tinggi mengalami IgA vasculitis maupun nefritis dibandingkan anak tanpa penyakit alergi. Risiko tersebut ditemukan pada berbagai penyakit alergi, termasuk rinitis alergi, dermatitis atopik, asma, dan konjungtivitis alergi.

Penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan dose-response, yaitu semakin banyak penyakit alergi yang dimiliki seorang anak (allergic multimorbidity), semakin tinggi risiko terjadinya IgA vasculitis. Hubungan dosis-respons merupakan salah satu indikator epidemiologi yang memperkuat dugaan adanya hubungan biologis antara penyakit alergi dan IgA vasculitis.

Selain itu, laporan kasus oleh Karmacharya dkk. (2023) dan Díaz dkk. (2018) menunjukkan bahwa penyakit alergi maupun alergi makanan dapat mendahului timbulnya IgA vasculitis pada sebagian pasien. Penelitian Wang dkk. (2020) juga menunjukkan bahwa infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus tersering pada anak dengan IgA vasculitis. Meskipun sebagian besar bukti mengenai alergi makanan masih berasal dari laporan kasus dan penelitian observasional, keseluruhan data menunjukkan adanya hubungan biologis yang konsisten antara aktivasi sistem imun mukosa akibat alergi dan infeksi dengan patogenesis IgA vasculitis. Penelitian prospektif berskala besar masih diperlukan untuk memastikan besarnya kontribusi masing-masing faktor risiko terhadap kejadian penyakit ini.

7. Implikasi Klinis

Pemahaman mengenai hubungan antara alergi makanan, rinitis alergi, infeksi berulang, dan IgA vasculitis memiliki implikasi penting dalam praktik klinis. Pada anak dengan IgA vasculitis yang disertai keluhan gastrointestinal kronis seperti nyeri perut, mual, muntah, diare, sembelit, refluks gastroesofageal (GERD), atau gangguan pertumbuhan, dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan imun mukosa yang mendasari, termasuk penyakit alergi. Demikian pula pada anak dengan riwayat rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, atau infeksi saluran napas berulang, evaluasi yang lebih komprehensif dapat membantu mengidentifikasi faktor pencetus yang mungkin berkontribusi terhadap aktivasi sistem imun.

Namun demikian, keberadaan penyakit alergi tidak secara otomatis menunjukkan bahwa IgA vasculitis disebabkan oleh alergi makanan. Diagnosis alergi makanan harus ditegakkan berdasarkan kombinasi riwayat klinis yang konsisten, pemeriksaan fisik, dan eliminasi makanan yang terarah. Pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik serum hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan tidak selalu membuktikan hubungan sebab-akibat. Oleh karena itu, interpretasi hasil pemeriksaan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati sesuai konteks klinis.

Bila terdapat dugaan kuat bahwa makanan tertentu berperan sebagai pencetus, Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis alergi makanan. OFC sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berpengalaman dengan fasilitas yang memadai karena berisiko menimbulkan reaksi alergi. Pendekatan ini bertujuan menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan, mencegah terjadinya defisiensi nutrisi, serta memastikan bahwa hanya makanan yang benar-benar terbukti sebagai pencetus yang dihindari.

8. Keterbatasan Bukti Ilmiah

Meskipun berbagai penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penyakit alergi, infeksi berulang, dan IgA vasculitis, sebagian besar bukti yang tersedia masih berasal dari studi observasional, studi kohort retrospektif, serta laporan kasus. Desain penelitian tersebut mampu menunjukkan adanya asosiasi, tetapi belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti. Selain itu, terdapat variasi dalam definisi penyakit alergi, metode diagnosis alergi makanan, serta karakteristik populasi yang diteliti sehingga hasil antarpenelitian belum sepenuhnya seragam.

Bukti mengenai peran alergi makanan secara khusus masih relatif terbatas dibandingkan bukti mengenai infeksi saluran napas. Sebagian besar publikasi berupa laporan kasus atau seri kasus dengan jumlah pasien yang kecil. Oleh karena itu, prevalensi sebenarnya alergi makanan sebagai pencetus IgA vasculitis masih belum diketahui secara pasti. Diperlukan penelitian prospektif dengan diagnosis alergi makanan yang dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge agar hubungan tersebut dapat dievaluasi secara lebih akurat.

Selain faktor alergi dan infeksi, berbagai faktor lain juga diduga berkontribusi terhadap patogenesis IgA vasculitis, termasuk predisposisi genetik, faktor epigenetik, mikrobiota usus, paparan lingkungan, serta gangguan regulasi sistem imun. Kompleksitas faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa IgA vasculitis merupakan penyakit multifaktorial sehingga pendekatan diagnosis dan terapi harus mempertimbangkan seluruh aspek klinis secara menyeluruh.

9. Arah Penelitian di Masa Mendatang

Penelitian selanjutnya perlu difokuskan pada studi kohort prospektif untuk mengevaluasi hubungan temporal antara alergi makanan, infeksi berulang, dan kejadian IgA vasculitis. Penggunaan kriteria diagnosis alergi makanan yang baku, termasuk konfirmasi melalui OFC, sangat penting agar hubungan yang ditemukan benar-benar mencerminkan hubungan biologis dan bukan sekadar sensitisasi.

Penelitian mengenai biomarker, seperti kadar galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), BAFF, APRIL, sitokin inflamasi, serta profil mikrobiota usus dan saluran napas juga diperlukan untuk memahami mekanisme imunologis yang menghubungkan penyakit alergi dengan IgA vasculitis. Selain itu, studi mengenai interaksi gut–lung axis diperkirakan akan memberikan pemahaman baru mengenai hubungan antara alergi makanan, rinitis alergi, infeksi saluran napas berulang, dan aktivasi sistem imun mukosa.

Uji klinis prospektif mengenai pengaruh tata laksana penyakit alergi terhadap perjalanan klinis IgA vasculitis juga masih sangat terbatas. Penelitian semacam ini berpotensi memberikan informasi apakah pengendalian penyakit alergi dapat mengurangi kekambuhan, memperbaiki gejala saluran cerna, atau menurunkan risiko keterlibatan ginjal pada pasien IgA vasculitis.

10. Kesimpulan

IgA vasculitis merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil yang terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, lingkungan, dan disregulasi sistem imun. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa infeksi saluran napas berulang merupakan faktor pencetus yang paling sering, sedangkan penyakit alergi, termasuk rinitis alergi dan alergi makanan, berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya IgA vasculitis pada anak. Mekanisme yang mendasari hubungan tersebut melibatkan aktivasi sistem imun mukosa, peningkatan produksi galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), pembentukan kompleks imun, aktivasi komplemen, dan deposisi IgA pada pembuluh darah kecil.

Meskipun demikian, bukti yang tersedia saat ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung semua kasus IgA vasculitis. Hubungan yang ada kemungkinan bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh predisposisi genetik serta faktor lingkungan lainnya. Oleh karena itu, evaluasi alergi makanan harus dilakukan secara selektif berdasarkan indikasi klinis dan, bila diperlukan, dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas diagnosis.

Pendekatan klinis yang komprehensif, berbasis bukti ilmiah, dan mempertimbangkan faktor infeksi, penyakit alergi, serta gangguan imun mukosa diharapkan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis, mengoptimalkan tata laksana, dan memperbaiki luaran jangka panjang pada anak dengan IgA vasculitis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *