DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Peran Bristol Stool Scale dalam Diagnosis Irritable Bowel Syndrome (IBS): Tinjauan Literatur

Peran Bristol Stool Scale dalam Diagnosis Irritable Bowel Syndrome (IBS): Tinjauan Literatur

Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan fungsional saluran cerna yang sering dijumpai pada anak maupun dewasa. Penyakit ini ditandai oleh nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang berhubungan dengan perubahan frekuensi dan konsistensi buang air besar tanpa ditemukan kelainan organik yang dapat menjelaskan gejala. Diagnosis IBS ditegakkan berdasarkan Kriteria Rome dan didukung oleh evaluasi pola feses menggunakan Bristol Stool Scale (BSS). BSS mengklasifikasikan bentuk feses menjadi tujuh tipe yang berkorelasi dengan waktu transit kolon sehingga dapat membantu menentukan subtipe IBS, yaitu IBS dengan konstipasi (IBS-C), IBS dengan diare (IBS-D), IBS campuran (IBS-M), dan IBS tidak terklasifikasi (IBS-U). Selain berperan dalam diagnosis, BSS juga digunakan untuk memantau perjalanan penyakit dan mengevaluasi respons terapi. Artikel ini membahas konsep IBS, penyebab, manifestasi klinis, serta peran Bristol Stool Scale dalam praktik klinis berdasarkan bukti ilmiah terkini.

Kata kunci: Irritable Bowel Syndrome, Bristol Stool Scale, konstipasi, diare, Rome IV, gangguan fungsional saluran cerna.

Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan salah satu gangguan fungsional saluran cerna yang paling sering ditemukan di pelayanan kesehatan primer maupun rumah sakit. IBS ditandai oleh nyeri perut berulang yang berkaitan dengan proses buang air besar disertai perubahan frekuensi maupun konsistensi feses. Berbeda dengan penyakit radang usus atau keganasan saluran cerna, IBS tidak menunjukkan kelainan struktural maupun biokimia yang dapat menjelaskan keluhan pasien. Walaupun tidak mengancam jiwa, IBS dapat menurunkan kualitas hidup, meningkatkan biaya pelayanan kesehatan, serta mengganggu aktivitas sehari-hari.

Diagnosis IBS didasarkan pada gejala klinis sesuai Kriteria Rome IV. Salah satu komponen penting dalam penilaian pasien adalah evaluasi bentuk feses menggunakan Bristol Stool Scale (BSS). Skala ini merupakan metode sederhana, mudah digunakan, dan telah divalidasi secara internasional untuk menggambarkan konsistensi feses yang berkaitan dengan waktu transit kolon. Penggunaan BSS membantu menentukan subtipe IBS sehingga terapi dapat disesuaikan dengan dominasi konstipasi, diare, atau kombinasi keduanya.

Definisi Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Irritable Bowel Syndrome merupakan gangguan interaksi antara otak dan usus (disorder of gut-brain interaction) yang ditandai oleh nyeri perut berulang disertai perubahan pola buang air besar tanpa ditemukan kelainan organik yang dapat menjelaskan gejala. IBS termasuk penyakit fungsional karena keluhan timbul akibat gangguan motilitas usus, hipersensitivitas viseral, perubahan mikrobiota usus, dan disregulasi sistem saraf enterik, bukan akibat kerusakan struktur usus.

Penyebab IBS

Penyebab IBS bersifat multifaktorial dan melibatkan berbagai mekanisme biologis maupun psikologis, antara lain:

  • Gangguan motilitas usus.
  • Hipersensitivitas viseral terhadap peregangan usus.
  • Gangguan komunikasi gut-brain axis.
  • Perubahan komposisi mikrobiota usus.
  • Riwayat gastroenteritis atau infeksi saluran cerna.
  • Faktor genetik.
  • Stres, kecemasan, dan depresi.
  • Intoleransi makanan tertentu, seperti FODMAP.
  • Pada sebagian pasien, alergi makanan dan inflamasi mukosa derajat ringan diduga ikut berperan, meskipun bukan penyebab utama IBS.

Tanda dan Gejala IBS

Manifestasi klinis IBS dapat berbeda pada setiap pasien, tetapi gejala yang paling sering ditemukan meliputi:

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang berulang.
  • Kram perut yang membaik setelah buang air besar.
  • Konstipasi.
  • Diare.
  • Pergantian antara konstipasi dan diare.
  • Perut kembung.
  • Produksi gas berlebihan.
  • Rasa buang air besar tidak tuntas.
  • Lendir pada feses tanpa darah.
  • Gejala sering memburuk saat stres atau setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Adanya darah pada feses, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, demam, anemia, atau gejala yang membangunkan pasien pada malam hari bukan merupakan gambaran khas IBS dan memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyakit organik.

Bristol Stool Scale

Bristol Stool Scale merupakan sistem klasifikasi bentuk feses yang dikembangkan oleh Stephen Lewis dan Ken Heaton pada tahun 1997. Skala ini membagi bentuk feses menjadi tujuh tipe berdasarkan konsistensi dan bentuknya. Semakin keras bentuk feses, semakin lambat waktu transit usus. Sebaliknya, semakin cair bentuk feses, semakin cepat waktu transit kolon.

Tipe 1 dan 2 menunjukkan konstipasi, tipe 3 dan 4 merupakan bentuk feses normal, sedangkan tipe 6 dan 7 menunjukkan diare. Oleh karena itu, Bristol Stool Scale menjadi alat sederhana yang dapat digunakan untuk menilai fungsi usus dalam praktik sehari-hari.

Peran Bristol Stool Scale dalam Diagnosis Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Bristol Stool Scale merupakan komponen penting dalam klasifikasi IBS berdasarkan Kriteria Rome. Konsistensi feses yang dicatat menggunakan BSS membantu menentukan subtipe IBS sehingga terapi dapat diberikan secara lebih tepat. Pasien dengan dominasi feses tipe 1 hingga 2 diklasifikasikan sebagai IBS dengan konstipasi (IBS-C), sedangkan dominasi feses tipe 6 hingga 7 diklasifikasikan sebagai IBS dengan diare (IBS-D). Apabila kedua pola tersebut muncul masing-masing pada sedikitnya 25% episode buang air besar, pasien dikategorikan sebagai IBS campuran (IBS-M). Bila tidak memenuhi kriteria tersebut, pasien termasuk IBS tidak terklasifikasi (IBS-U).

Selain membantu diagnosis, Bristol Stool Scale berperan dalam pemantauan perjalanan penyakit, evaluasi keberhasilan terapi, dan komunikasi antara pasien dengan tenaga kesehatan. Perubahan pola feses menuju tipe 3 atau 4 menunjukkan perbaikan fungsi usus dan sering digunakan sebagai indikator keberhasilan intervensi berupa modifikasi pola makan, terapi probiotik, laksatif, antidiare, maupun pendekatan psikologis. Karena mudah dipahami, tidak invasif, dan memiliki validitas yang baik, Bristol Stool Scale telah menjadi salah satu alat standar dalam praktik gastroenterologi serta berbagai penelitian mengenai gangguan fungsional saluran cerna.

Peran Bristol Stool Scale dalam Diagnosis Irritable Bowel Syndrome (IBS)

Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan fungsional saluran cerna yang ditandai oleh nyeri atau rasa tidak nyaman di perut yang berhubungan dengan perubahan frekuensi dan konsistensi feses. Pasien IBS umumnya mengalami kram perut, konstipasi, diare, atau kombinasi keduanya yang berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Pada sebagian besar pasien, konstipasi kronis diselingi episode diare, sedangkan sebagian kecil hanya mengalami diare. Gejala IBS sering dipengaruhi oleh faktor psikologis, terutama stres dan kecemasan, yang dapat memperburuk keluhan saluran cerna. Adanya darah pada feses bukan merupakan gambaran khas IBS dan harus dievaluasi untuk kemungkinan penyebab lain, seperti hemoroid atau penyakit organik saluran cerna.

Bristol Stool Scale (BSS) merupakan salah satu alat klinis yang digunakan untuk membantu klasifikasi IBS berdasarkan konsistensi feses. Skala ini telah digunakan secara luas dalam praktik klinis maupun penelitian mengenai IBS, inkontinensia fekal, komplikasi gastrointestinal pada infeksi HIV, serta berbagai gangguan fungsional saluran cerna. Karena mudah digunakan, BSS direkomendasikan sebagai alat standar untuk dokumentasi pola defekasi pada pasien dengan gangguan usus fungsional.

Klasifikasi IBS Berdasarkan Bristol Stool Scale

Menurut Kriteria Rome III, IBS dibagi menjadi empat subtipe berdasarkan bentuk feses yang dinilai menggunakan Bristol Stool Scale.

Subtipe IBS Kriteria Bristol Stool Scale
IBS dengan konstipasi (IBS-C) Feses tipe 1 hingga 2 ≥25% dari seluruh buang air besar, sedangkan tipe 6 hingga 7 <25%
IBS dengan diare (IBS-D) Feses tipe 6 hingga 7 ≥25% dari seluruh buang air besar, sedangkan tipe 1 hingga 2 <25%
IBS campuran (IBS-M) Feses tipe 1 hingga 2 ≥25% dan tipe 6 hingga 7 ≥25%
IBS tidak terklasifikasi (IBS-U) Tidak memenuhi kriteria IBS-C, IBS-D, maupun IBS-M

Penilaian tersebut dilakukan pada pasien yang tidak sedang menggunakan obat antidiare maupun laksatif karena obat-obatan tersebut dapat memengaruhi bentuk feses.

Interpretasi Klinis

Klasifikasi IBS menggunakan Bristol Stool Scale membantu dokter menentukan dominasi gangguan motilitas usus sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi pasien. Pasien IBS-C lebih sering memerlukan peningkatan asupan serat, cairan, aktivitas fisik, atau laksatif tertentu. Sebaliknya, pasien IBS-D lebih sering membutuhkan terapi antidiare, modifikasi diet, atau obat yang menurunkan motilitas usus. Pada IBS-M, pendekatan terapi lebih kompleks karena pola feses dapat berubah antara konstipasi dan diare.

Penelitian Epidemiologi Mayo Clinic

Pada tahun 2007, Mayo Clinic College of Medicine melaporkan penelitian epidemiologi terhadap 4.196 penduduk Olmsted County, Minnesota, Amerika Serikat, menggunakan Bristol Stool Scale sebagai alat penilaian pola defekasi. Penelitian ini mengelompokkan peserta berdasarkan waktu transit kolon menjadi tiga kelompok.

Karakteristik Transit Normal (BSS 3-4) n=1.662 Transit Lambat (BSS 1-2) n=411 Transit Cepat (BSS 5-7) n=197
Usia (tahun) 62 ± 12 63 ± 13 61 ± 12
Laki-laki (%) 50 38 43
IMT (kg/m²) 29,6 ± 7,5 28,2 ± 6,8 32,5 ± 9,9
Perokok (%) 8 7 12
Konsumsi alkohol (%) 45 48 41
Riwayat kolesistektomi (%) 11 12 19
Riwayat apendektomi (%) 28 31 35

Interpretasi Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan sekitar satu dari lima orang memiliki waktu transit kolon yang lambat dengan profil feses tipe 1 hingga 2, sedangkan sekitar satu dari dua belas orang memiliki waktu transit kolon yang cepat dengan profil feses tipe 5 hingga 7. Pola feses dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, riwayat kolesistektomi, dan faktor psikologis berupa somatisasi. Sebaliknya, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, tingkat pendidikan, riwayat apendektomi, status pernikahan, serta riwayat keluarga penyakit gastrointestinal tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan pola feses.

Temuan tersebut menegaskan bahwa Bristol Stool Scale merupakan indikator sederhana namun valid untuk menggambarkan waktu transit usus dan sangat bermanfaat dalam diagnosis, klasifikasi IBS, pemantauan terapi, serta penelitian gangguan fungsional saluran cerna. Selain pada IBS, skala ini juga digunakan untuk mengevaluasi konstipasi, diare, gangguan akibat alergi gastrointestinal, serta respons terhadap intervensi nutrisi dan pengobatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *