Pertanyaan
“Dok, saya baru melahirkan dua minggu yang lalu. Saya ingin memberikan ASI eksklusif, tetapi setiap hari selalu ada masalah. Kadang saya merasa ASI sedikit karena bayi terus menyusu. Puting juga terasa nyeri sehingga saya takut menyusui. Kalau bayi menangis setelah menyusu, keluarga langsung mengatakan ASI saya tidak cukup dan menyarankan susu formula. Sebentar lagi saya juga harus kembali bekerja sehingga bingung bagaimana cara menyimpan ASI perah. Saya jadi khawatir tidak bisa menyusui sampai enam bulan. Apakah kondisi seperti ini normal? Apa yang sebaiknya saya lakukan agar menyusui bisa berhasil?”
Jawaban dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Hampir semua ibu menyusui pernah mengalami kekhawatiran seperti yang Anda rasakan. Bahkan ibu yang sudah memiliki beberapa anak pun masih dapat menghadapi tantangan saat menyusui bayi berikutnya. Menyusui merupakan proses yang dipelajari oleh ibu dan bayi secara bersama. Pada minggu-minggu pertama, tubuh masih menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi. Karena itu, muncul rasa cemas, bingung, atau kurang percaya diri merupakan hal yang sering terjadi. Kuncinya adalah memahami bahwa sebagian besar masalah menyusui dapat diatasi tanpa harus menghentikan pemberian ASI.
- ASI Terasa Sedikit, Padahal Belum Tentu Kekhawatiran bahwa ASI tidak cukup merupakan masalah yang paling sering dialami ibu menyusui. Padahal, bayi baru lahir memang menyusu sangat sering, bahkan 8 hingga 12 kali atau lebih dalam 24 jam. Lambung bayi masih sangat kecil sehingga ASI lebih cepat dicerna dibandingkan susu formula. Frekuensi menyusu yang tinggi merupakan cara alami bayi untuk merangsang produksi ASI agar meningkat sesuai kebutuhannya. Kecukupan ASI sebaiknya dinilai dari kenaikan berat badan, jumlah buang air kecil yang cukup, serta kondisi bayi yang aktif dan tampak puas setelah menyusu, bukan hanya berdasarkan frekuensi menyusu atau tangisan bayi.
- Puting Nyeri Saat Menyusui Puting yang nyeri atau lecet hampir selalu disebabkan oleh pelekatan bayi yang kurang tepat. Banyak ibu mengira penyebabnya adalah puting yang sensitif atau kualitas ASI yang kurang baik, padahal sebagian besar kasus dapat diperbaiki dengan memperbaiki posisi menyusui. Mulut bayi harus membuka lebar dan memasukkan sebagian besar areola, bukan hanya puting. Bila pelekatan sudah benar, rasa nyeri biasanya berkurang dalam beberapa hari. Jangan menghentikan pemberian ASI hanya karena puting terasa sakit, tetapi segera cari penyebabnya agar masalah dapat diatasi lebih cepat.
- Bingung Memilih Makanan Selama Menyusui Banyak ibu takut makan makanan tertentu karena khawatir dapat mengganggu bayi. Faktanya, sebagian besar ibu tidak memerlukan pantangan makanan khusus. Yang dibutuhkan adalah pola makan bergizi seimbang, cukup kalori, cukup protein, buah, sayur, serta minum sesuai rasa haus. Sebagian besar makanan tidak menyebabkan alergi pada bayi. Pembatasan makanan hanya diperlukan bila terbukti terdapat hubungan yang jelas antara makanan tertentu dengan gejala alergi pada bayi setelah dievaluasi oleh tenaga kesehatan. Diet yang terlalu ketat tanpa alasan medis justru dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi pada ibu.
- Takut Kembali Bekerja Kembali bekerja bukan berarti harus berhenti menyusui. Banyak ibu berhasil memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah dan menyimpan ASI secara teratur. Latihan memerah ASI sebaiknya dimulai beberapa minggu sebelum kembali bekerja agar ibu terbiasa dan dapat membangun persediaan ASI. Selama bekerja, usahakan memerah ASI setiap 3 hingga 4 jam agar produksi tetap terjaga. Semakin sering payudara dikosongkan, semakin baik tubuh mempertahankan produksi ASI.
- Bayi Menangis Setelah Menyusu Tangisan setelah menyusu sering dianggap sebagai tanda ASI tidak cukup, padahal penyebabnya sangat beragam. Bayi dapat menangis karena mengantuk, ingin digendong, popok basah, kembung, atau memasuki masa growth spurt ketika kebutuhan menyusu meningkat sementara. Jangan langsung menyimpulkan produksi ASI kurang hanya berdasarkan tangisan bayi. Evaluasi terlebih dahulu berat badan, frekuensi buang air kecil, dan proses menyusu. Bila pertumbuhan bayi baik, umumnya produksi ASI juga sudah mencukupi.
- Kurang Percaya Diri karena Pendapat Orang Sekitar Tidak sedikit ibu kehilangan kepercayaan diri akibat komentar keluarga atau lingkungan. Kalimat seperti “ASI-mu kurang”, “bayinya kurus”, atau “lebih baik tambah susu formula” sering diberikan tanpa dasar medis. Padahal keberhasilan menyusui lebih ditentukan oleh frekuensi menyusu, teknik pelekatan, dan dukungan keluarga dibandingkan pendapat orang lain. Bila muncul keraguan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau konselor laktasi sehingga keputusan yang diambil berdasarkan kondisi bayi, bukan berdasarkan mitos.
- Jangan Ragu Meminta Bantuan Menyusui adalah proses belajar bagi ibu dan bayi. Bila muncul masalah seperti ASI terasa sedikit, puting nyeri, payudara bengkak, bayi sulit melekat, atau berat badan bayi tidak bertambah sesuai harapan, segera minta bantuan kepada dokter, bidan, perawat, atau konselor laktasi. Sebagian besar masalah menyusui dapat diatasi melalui edukasi, perbaikan teknik menyusui, dan pendampingan yang tepat tanpa harus menghentikan ASI. Semakin cepat masalah dikenali dan ditangani, semakin besar peluang ibu untuk berhasil memberikan ASI eksklusif hingga enam bulan dan melanjutkan menyusui sampai usia dua tahun atau lebih sesuai rekomendasi organisasi kesehatan dunia.
Bila mengalami kesulitan, jangan menunggu hingga masalah menjadi berat. Mintalah bantuan kepada dokter, bidan, perawat, atau konselor laktasi sejak dini. Sebagian besar masalah menyusui dapat diperbaiki melalui edukasi, perbaikan teknik pelekatan, pengaturan frekuensi menyusui, dan dukungan yang tepat. Dengan informasi yang benar dan pendampingan yang baik, sebagian besar ibu mampu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih sesuai rekomendasi organisasi kesehatan dunia.
Daftar Pustaka
- American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the Use of Human Milk. Pediatrics. 2022;150(6):e2022057988.
- World Health Organization. Guideline: Protecting, promoting and supporting breastfeeding in facilities providing maternity and newborn services. Geneva: WHO; 2017. Current breastfeeding recommendations remain in effect.









Leave a Reply