DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

Apakah Tes IgG Bisa Membuktikan Alergi Makanan pada Anak dengan Autisme?

Apakah Tes IgG Bisa Membuktikan Alergi Makanan pada Anak dengan Autisme?

Pertanyaan

“Dok, anak saya sekarang berusia 8 tahun dan didiagnosis autisme sejak usia 3 tahun. Perkembangan bicaranya terlambat dan sampai sekarang masih menjalani terapi. Selain itu, anak saya sering mengalami sembelit, perut kembung, kadang mengeluh mual, dan makannya sangat pilih-pilih. Ia hanya mau beberapa jenis makanan, seperti nasi, ayam goreng, dan biskuit. Beberapa waktu lalu saya membawa anak saya ke sebuah klinik yang menawarkan tes IgG makanan. Hasilnya menunjukkan lebih dari 20 jenis makanan dinyatakan positif, termasuk susu sapi, telur, gandum, kedelai, ikan, udang, pisang, tomat, dan beberapa buah lainnya. Saya disarankan menghentikan semua makanan tersebut karena katanya itulah penyebab autisme, gangguan bicara, dan masalah pencernaan anak saya. Saya menjadi bingung karena pilihan makanan anak sudah sangat terbatas. Benarkah hasil tes IgG dapat memastikan bahwa anak saya mengalami alergi makanan? Apakah semua makanan yang hasilnya positif harus dihentikan?”

Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Jawabannya adalah tidak. Pemeriksaan IgG atau IgG4 terhadap makanan tidak dapat digunakan untuk memastikan seseorang mengalami alergi makanan. Hasil yang positif hanya menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh pernah mengenali atau terpapar makanan tersebut. Bahkan, pada banyak orang sehat yang rutin mengonsumsi makanan tertentu, kadar IgG juga dapat tinggi. Karena itu, hasil IgG tidak dapat membedakan apakah seseorang benar-benar alergi atau hanya memiliki respons imun yang normal terhadap makanan.

Autisme dan keterlambatan bicara bukan merupakan bukti bahwa seorang anak mengalami alergi makanan. Memang, sebagian anak dengan autisme juga mengalami gangguan saluran cerna seperti konstipasi, nyeri perut, atau selective eating. Namun, keluhan tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti pola makan yang terbatas, gangguan sensorik, gangguan motilitas saluran cerna, atau konstipasi fungsional. Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hasil tes IgG dapat menjelaskan penyebab autisme ataupun gangguan perkembangan bicara.

Berbagai organisasi alergi internasional memiliki rekomendasi yang sama mengenai pemeriksaan IgG. World Allergy Organization (WAO), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI) tidak merekomendasikan pemeriksaan IgG sebagai alat diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan tersebut juga tidak boleh dijadikan dasar untuk menentukan makanan yang harus dipantang karena tidak mampu membedakan alergi dengan toleransi normal terhadap makanan.

Dokter akan menegakkan diagnosis alergi makanan berdasarkan riwayat klinis yang jelas. Dokter akan menilai apakah setiap kali anak mengonsumsi makanan tertentu selalu muncul gejala yang sama, misalnya biduran, bengkak, muntah, diare, batuk, mengi, atau reaksi lain yang terjadi dalam pola yang konsisten. Setelah itu dilakukan pemeriksaan fisik dan bila memang ada indikasi dapat ditambahkan Skin Prick Test atau pemeriksaan IgE spesifik. Kedua pemeriksaan tersebut hanya membantu diagnosis dan tetap harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis.

Apabila terdapat dugaan kuat terhadap makanan tertentu, dokter biasanya akan melakukan diet eliminasi yang terarah. Hanya makanan yang paling dicurigai dihentikan sementara sambil dipantau perubahan gejalanya. Menghindari puluhan jenis makanan hanya karena hasil tes IgG dapat memperburuk selective eating, meningkatkan risiko kekurangan energi, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dan mineral. Pada anak dengan autisme yang sudah memiliki variasi makanan sangat terbatas, pembatasan makanan tanpa dasar yang kuat justru dapat memperburuk status gizi dan kualitas hidup.

Bila gejala membaik setelah diet eliminasi, diagnosis masih belum dapat dipastikan. Pada kasus yang sesuai dan aman, dokter dapat melakukan Oral Food Challenge, yaitu pemberian kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Sampai saat ini, Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi. Pendekatan ini membantu mencegah overdiagnosis sehingga anak tidak menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Jadi, hasil tes IgG yang positif tidak berarti anak dengan autisme pasti mengalami alergi makanan, apalagi menjadi penyebab autisme atau keterlambatan bicara. Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang yang sesuai indikasi, diet eliminasi yang terarah, dan konfirmasi dengan Oral Food Challenge bila diperlukan. Pendekatan berbasis bukti ini akan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat, menjaga kecukupan gizi anak, dan menghindari pembatasan makanan yang tidak perlu.

Tabel. Peran Berbagai Pemeriksaan dalam Diagnosis Alergi Makanan

Pemeriksaan Apa yang Dinilai Dapat Memastikan Alergi? Rekomendasi
Riwayat klinis Hubungan antara makanan dan munculnya gejala Ya, merupakan dasar utama Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA
Pemeriksaan fisik Manifestasi alergi dan kemungkinan penyakit lain Mendukung diagnosis Direkomendasikan
Skin Prick Test (SPT) Sensitisasi yang diperantarai IgE Tidak bila digunakan sendiri Direkomendasikan bila ada indikasi klinis
IgE spesifik Antibodi IgE terhadap makanan tertentu Tidak bila digunakan sendiri Direkomendasikan bila ada indikasi klinis
Diet eliminasi terarah Perubahan gejala setelah makanan dihentikan Membantu evaluasi Direkomendasikan pada kasus terpilih
Oral Food Challenge (OFC) Reaksi setelah makanan diberikan kembali di bawah pengawasan tenaga medis Ya, merupakan baku emas diagnosis Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA
IgG atau IgG4 makanan Paparan atau toleransi terhadap makanan Tidak Tidak direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA, dan CSACI untuk diagnosis alergi makanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *