DOKTERPEDIATRI

"Smart Parent Circle – Pediatric Health Support"

PROPOSAL PENELITIAN Peran Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang pada Anak dengan IgA Vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura):

PROPOSAL PENELITIAN

Peran Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang pada Anak dengan IgA Vasculitis (Henoch–Schönlein Purpura): Laporan Seri Kasus dengan Kohort Prospektif dan Konfirmasi Diagnosis Menggunakan Oral Food Challenge

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

IgA vasculitis (IgAV), yang sebelumnya dikenal sebagai Henoch–Schönlein Purpura (HSP), merupakan vaskulitis pembuluh darah kecil dengan deposisi dominan imunoglobulin A (IgA) yang paling sering terjadi pada anak. Penyakit ini ditandai oleh purpura non-trombositopenik, artritis atau artralgia, nyeri perut, perdarahan saluran cerna, serta nefritis yang menjadi penentu prognosis jangka panjang. Meskipun mekanisme imunologinya semakin dipahami, faktor pencetus pembentukan kompleks imun IgA masih belum sepenuhnya diketahui.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran napas atas merupakan faktor pencetus tersering IgA vasculitis. Selain itu, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa penyakit alergi, seperti rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, serta alergi makanan, berhubungan dengan peningkatan risiko IgA vasculitis. Aktivasi sistem imun mukosa akibat paparan alergen maupun infeksi diduga meningkatkan pembentukan galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1) yang kemudian membentuk kompleks imun dan mengendap pada pembuluh darah kecil.

Meskipun hubungan tersebut semakin banyak dilaporkan, bukti mengenai alergi makanan masih terbatas dan sebagian besar berasal dari laporan kasus. Selain itu, sebagian besar penelitian belum menggunakan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas diagnosis alergi makanan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik klinis serta perjalanan penyakit pada anak dengan IgA vasculitis yang disertai dugaan alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang melalui laporan seri kasus yang diikuti secara prospektif.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah alergi makanan yang dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge serta riwayat infeksi saluran napas berulang ditemukan pada anak dengan IgA vasculitis, dan bagaimana perubahan manifestasi klinis setelah dilakukan eliminasi makanan penyebab?

1.3 Pertanyaan Penelitian

Penelitian ini bertujuan menjawab apakah anak dengan IgA vasculitis memiliki riwayat penyakit alergi, alergi makanan, dan infeksi saluran napas berulang, bagaimana karakteristik klinis yang menyertainya, serta bagaimana perubahan gejala setelah diagnosis alergi makanan dikonfirmasi menggunakan Oral Food Challenge dan dilakukan eliminasi makanan penyebab.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mendeskripsikan karakteristik klinis anak dengan IgA vasculitis yang disertai alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang melalui laporan seri kasus yang diikuti secara kohort prospektif.

Tujuan Khusus

Mendeskripsikan karakteristik demografi pasien, riwayat penyakit alergi, riwayat infeksi saluran napas berulang, manifestasi gastrointestinal, hasil Oral Food Challenge, makanan penyebab alergi, serta perubahan manifestasi klinis, status gizi, pertumbuhan, dan kekambuhan IgA vasculitis setelah eliminasi makanan penyebab.

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan menambah bukti mengenai kemungkinan hubungan alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang dengan IgA vasculitis pada anak. Hasil penelitian juga diharapkan menjadi dasar untuk penelitian analitik dengan jumlah sampel yang lebih besar serta membantu klinisi dalam mengevaluasi pasien IgA vasculitis yang disertai gangguan saluran cerna dan riwayat penyakit alergi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 IgA Vasculitis

Menguraikan definisi, epidemiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, serta prognosis IgA vasculitis pada anak.

2.2 Patogenesis IgA Vasculitis

Menjelaskan pembentukan galactose-deficient IgA1 (Gd-IgA1), kompleks imun, aktivasi komplemen, dan inflamasi pembuluh darah kecil.

2.3 Infeksi Saluran Napas Berulang

Membahas peran infeksi saluran napas atas sebagai faktor pencetus IgA vasculitis melalui aktivasi sistem imun mukosa.

2.4 Alergi Makanan

Menjelaskan mekanisme imunologi alergi makanan, gangguan sawar mukosa usus, dan kaitannya dengan peningkatan produksi IgA.

2.5 Rinitis Alergi dan Penyakit Atopi

Menguraikan konsep common mucosal immune system dan hubungan penyakit alergi dengan IgA vasculitis.

2.6 Oral Food Challenge

Menjelaskan indikasi, prosedur, keamanan, dan peran OFC sebagai baku emas diagnosis alergi makanan.

2.7 Kerangka Teori

Menggambarkan hubungan infeksi, alergi makanan, aktivasi imun mukosa, pembentukan Gd-IgA1, kompleks imun, dan terjadinya IgA vasculitis.

BAB III

KERANGKA KONSEP

Infeksi saluran napas berulang dan alergi makanan mengaktivasi sistem imun mukosa → peningkatan produksi Gd-IgA1 → pembentukan kompleks imun → aktivasi komplemen → deposisi IgA pada pembuluh darah kecil → IgA vasculitis → manifestasi kulit, saluran cerna, sendi, dan ginjal.

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain laporan seri kasus (case series) yang dilakukan secara kohort prospektif.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Polikoinik Anak RSIA Bunda Jakarta selama periode penelitian 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025

4.3 Populasi Penelitian

Seluruh anak yang didiagnosis IgA vasculitis berdasarkan kriteria EULAR/PRINTO/PRES.

4.4 Sampel Penelitian

Sebanyak 13 pasien yang memenuhi kriteria inklusi direkrut secara konsekutif.

4.5 Kriteria Inklusi

Anak usia 1–18 tahun dengan diagnosis IgA vasculitis yang memiliki data klinis lengkap dan bersedia mengikuti tindak lanjut.

4.6 Kriteria Eksklusi

Pasien dengan data tidak lengkap, kehilangan tindak lanjut, atau memiliki penyakit autoimun maupun vaskulitis lain.

4.7 Variabel Penelitian

Variabel yang diamati meliputi usia, jenis kelamin, riwayat alergi makanan, rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, infeksi saluran napas berulang, manifestasi gastrointestinal, status gizi, pertumbuhan, hasil OFC, keterlibatan ginjal, dan kekambuhan.

4.8 Definisi Operasional

Setiap variabel didefinisikan berdasarkan pedoman EULAR, EAACI, dan WAO.

4.9 Prosedur Penelitian

Seluruh pasien menjalani anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, evaluasi penyakit alergi, eliminasi makanan, kemudian Oral Food Challenge pada pasien dengan dugaan alergi makanan. Setelah OFC, dilakukan eliminasi makanan yang terbukti sebagai pencetus dan pasien dipantau selama minimal enam bulan untuk menilai perubahan gejala klinis.

4.10 Pengumpulan Data

Data dikumpulkan menggunakan formulir penelitian terstandar dari rekam medis dan evaluasi prospektif selama tindak lanjut.

4.11 Analisis Data

Analisis dilakukan secara deskriptif. Data numerik disajikan sebagai rerata ± simpangan baku atau median (IQR), sedangkan data kategorik sebagai jumlah dan persentase. Hasil setiap kasus dipaparkan secara naratif dan dalam bentuk tabel ringkasan, termasuk perubahan manifestasi klinis sebelum dan sesudah eliminasi makanan berdasarkan hasil OFC.

4.12 Etika Penelitian

Penelitian akan memperoleh persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan. Seluruh orang tua atau wali pasien menandatangani informed consent sebelum mengikuti penelitian, dan kerahasiaan identitas pasien dijaga sesuai prinsip Deklarasi Helsinki.

BAB V

JADWAL PENELITIAN

Meliputi penyusunan proposal, persetujuan etik, rekrutmen pasien, pengumpulan data, pelaksanaan OFC, tindak lanjut kohort prospektif selama 6 bulan, analisis data, penyusunan manuskrip, dan publikasi.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

  1. Karmacharya S, Adhikari N, Joshi S, Pandey S, Adhikari Y, Bista S. Henoch–Schönlein purpura with antecedent allergic diseases in a 4-year-old child: a case report. Ann Med Surg (Lond). 2023;85(6):3066-3069. doi:10.1097/MS9.0000000000000782.
  2. Díaz JM, González AM, Alonso REB, Bruñén JMG, Repiso GA. Food-induced IgA vasculitis (Henoch–Schönlein purpura). Eur J Case Rep Intern Med. 2018;5(2):000774. doi:10.12890/2017_000774.
  3. Chen AC, Lin CL, Shen TC, et al. Association between allergic diseases and risks of Henoch–Schönlein purpura and Henoch–Schönlein purpura nephritis: a population-based study. Pediatr Res. 2016;79(4):559-564. doi:10.1038/pr.2015.271.
  4. Wang JJ, Xu Y, Liu FF, Wu Y, Samadli S, Wu YF, Luo HH, Zhang DD, Hu P. Association of the infectious triggers with childhood Henoch–Schönlein purpura in Anhui Province, China. J Infect Public Health. 2020;13(1):110-117.
  5. Ozen S, Pistorio A, Iusan SM, et al. EULAR/PRINTO/PRES criteria for Henoch–Schönlein purpura, childhood polyarteritis nodosa, childhood Wegener granulomatosis and childhood Takayasu arteritis: Ankara 2008. Part II: Final classification criteria. Ann Rheum Dis. 2010;69(5):798-806.
  6. Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, Roberts G, Beyer K, Bindslev-Jensen C, et al. EAACI food allergy and anaphylaxis guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025.
  7. Bird JA, Leonard S, Groetch M, Assa’ad A, Cianferoni A, Clark A, et al. Conducting an Oral Food Challenge: an update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17.
  8. Tang Y, Leung PSC, Gershwin ME. The role of IgA in mucosal immunity and autoimmune diseases. Clin Rev Allergy Immunol. 2022;63(3):321-338. doi:10.1007/s12016-021-08888-0.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *